jump to navigation

yahya Abdillah With his Parent Juli 1, 2008

Posted by shasha in Uncategorized.
5 comments

\"Yahya Abdillah\"

One Year Juli 1, 2008

Posted by shasha in Curhat.
add a comment

Hari ini, Selasa 1 Juni 2008 tepat 1 tahun (masehi) usia perkawinan kita…, Rasa bahagia dan haru memenuhi dada ketika kupakai baju yang dulu kugunakan ketika akad nikah kita, seakan kejadian itu terulang lagi.

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Perkasa, yang telah menyatukan kita dalam ikatan pernikahan yang suci ini.

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, yang telah memberikanku suami seperti dirimu…

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah melimpahi kita dengan rahmat-Nya sehingga kasih sayang itu sellau menjerat hati kita, dalam mengarungi samudra kehidupan dalam sebuah bahtera yang mengharap sakinah, mawaddah, wa rohmah…

Bahagia dan sytukur pada Allah, Tuhan Seru sekalian alam yang telah memberikan kita kepercayaan untuk memiliki seorang “Yahya Abdillah” bayi kecil kita.

Kelahiran Bayi Mungilku Juli 1, 2008

Posted by shasha in Curhat.
5 comments

Senin, itu tanggal 23 Juni 2008 seharusnya sepeti biasanya suami harus kembali bekerja ke Balikpapan (5 jam perjalanan dari kotaku) tapi malam itu suami agak kurang enak badan dan mengrungkan niatnya untuk pergi dan berniat mengantarku ke Puskesmas untuk Cek Up rutin kehamilanku.

Senin, itu tanggal 23 Juni 2008 sejak subuh aku merasa perutku agak sakit. Paginya aku mulai merasa sakit yang mulai teratur walau jaraknya jarang. Sepanjang siang aku masih berusaha beraktivitas seperti biasanya, perkiraan bidan bayinya akan lahir malam hari. Sore hari rasa sakitnya semakin sering dan membuatku sudah susah bergerak. Jam 16.00 wita diperiksa bidan baru pembukaan 3 menuju 4.

Waktu mulai merangkak walau terasa begitu lambat bagiku, ketika waktu magrib datang aku mulai merasa ngantuk yang amat sangat, acil dan suamiku terus berusaha mengajakku bercerita aagar aku tak tertidur. Malam itu tak seperti biasanya tiba-tiba listrik padam. Dikamar tidurku yang hanya diterangi sebuah lampu tembok dan sebuah lampu emergency aku berusaha menahan sakit yang kurasa kian menghebat. Jam 8 malam 2 orang bidan plus 1 asistennya datang dan memeriksaku, tekanan darahku tinggi sekitar 160/90 padahal biasanya 110/70, belum lagi HB ku yang rendah sekitar 8,8 (saat terakhir periksa HB di Puskesmas) bidan mulai kuatir, apalagi ketika his/kontarksi yang kurasakan jarang dan waktunya pendek, ketika dicek detak jantuk janin juga cepat yang menurut mereka berbahaya buat sang janin.

Suamiku diajak masuk untuk menemaniku, (Aku surprise bercampur senang, karena ternyata suamiku bersedia menemaniku, padahal kukira ia akan menolak karena merasa tidak akan tahan melihat proses persalinan) lalu ia meletakkan kepalaku di pangkuannya sambil menggenggam tanganku seolah ingin memberi memberi kekuatan padaku, dan itu kurasakan nyata. Waktu itu sudah jam 9 malam lewat para bidan mulai kuatir, dan berkata pada suamiku, “ Pak, kalau jam setengah sepuluh belum lahir terpaksa kita bawa kerumah sakit.” Suamiku hanya mengiyakan tanpa kutau apa yang sedang dirasakannya. Namun, aku bertekad untuk terus mencoba walau memeng agak susah karna his/kontraksinya tidak lama sehingga sedikit sekali waktu untukku mengejan. Dari awal aku memang berharap agar bisa melahirkan di rumah saja, karna agak merepotkan buatku jika harus melahirkan di tempat lain seperti klinik apalagi rumah sakit.

Waktu terus berjalan, aku terus berusaha, suamiku terus memangku kepalaku sambil memberi kekuatan padaku, para bidan kian kuatir, dan mulai berinisiatif untuk menelpon teman untuk segera menyediakan mobil untuk membawaku ke rumah sakit, namun entah kenapa nomor HP yang ditelpon bidan tersebut salah sambung, dia sendiri agak bingung, karna yakin itu adalah nomor HP temannya, Bidan juga sudah meminta ibuku untuk menyiapkan tas untuk dibawa kerumah sakit. Tapi, aku tetap yakin aku bisa melanjutkan ini, disini. Aku terus berseru pada Bayiku “Junior ayo keluar, kitakan ga mau ke rumah sakit..!” Para bidan aza tertawa melihat ulahku, yang menurut mereka aneh.

Alhamdulillah, tepat jam 19.25 air ketuban pecah, konsentrasi para bidan yang awalnya sudah menyiapkan untuk membawaku ke rumah sakit, kembali fokus padaku dan janinku, kini aku tinggal berusaha mengeluarkan bayiku, tapi ternyata tidak mudah karena hisnya masih terlalu pendek, berkali-kali gagal walau kepala sang bayi sudah terlihat, namun aku tetap berusaha dengan semangat dari suamiku yang terus setia menemaniku, akhirnya jam 22.00 wita (jam di kamarku) lahirlah bayi kami tercinta. Alhamdulillah…Alhamdulillah ucapku dan suami sambil menciumi keningku.

Tapi ternyata masalah tak segera berakhir, karena ketika lahir anggota gerak bayiku biru, dan tak ada suara tangisnya, para bidan segera berusaha memberi pertolongan dengan menepuk-nepuk kaki dada dan menyedot cairan ketuaban yang ternyata telah banyak terminum olehnya. Aku dari jarak yang agak jauh berusaha menyemangati anakku (walau aku tau dia tak mendengar) setelah beberapa menit, akhirnya kudengar suara tangisnya yang kencang… Alhamdulillah kembali terucap dari bibir kami. Setelah dibersihkan, diukur dan ditimbang, panjangnya 49cm dan beratnya 3,5kg.

Ternyata kisah belum berakhir, aku masih harus menunggu ari-ari keluar, setelah keluar ternyata aku mengalami pendarahan, tapi sekali alhamdulillah bisa diatasi. Robekkan yang kualami cukup parah, kata bidan stadium 4, bidan menjahitnya kurang lebih 1 jam, Alhamdulillah beberapa menit setelah bayiku lahir listrik hidup, jadi sedikit banyaknya membantu kelancaran proses penjahitan.

Akhirnya seolah tak percaya dengan hal yang baru saja terjadi, aku terdiam dengan rasa syukur yang membuncah didada. Aku merasa kelahiran pertamaku ini dipenuhi begitu banyak keajaiban, Laa haulawalaa kuata illaa billaah.. Subhanallah, AllahuAkbar, Alhamdulillah… Hanya itu yang bisa terucap dibibirku.

Untuk suamiku terimakasih tak terhingga karena dengan setia menemaniku dan selalu memberi dukungan dan kekuatan dalam menjalani proses yang paling menegangkang dalam episode kehidupanku. I Love U…

Kini tugas kita berdua untuk mendidik buah hati tercinta agar menjadi Hamba Allah yang bertakwa… Semoga titipan Allah yang menjadi anugrah terindah dalam hidup kita dapat kita jaga dan didik sebaik-baiknya…

Senam Ibu Hamil April 24, 2008

Posted by shasha in Artikel, Curhat.
11 comments

Nggak terasa sekarang kehamilan saya memasuki usia 7 bulan. Banyak perubahan fisik yang saya rasakan, yang kadang dibeberapa waktu terasa kurang nyaman. Kepikiran deh buat olahraga biar tubuh lebih fresh, tapi kalo lagi hamilkan olahraganya ga boleh sembarangan. ya, akhirnya di internet cari gerakan senam buat ibu hamil aza, apalagi nggak lama lagi mau melahirkan, katanya sih senam ibu hamil juga bagus buat persiapan persalinan, biar nanti ketika melahirkan lebih lancar…

Nah, buat ibu-ibu yang juga sedang hamil dan ingin mencari gerakan senam ibu hamil, bisa klik link berikut ini :

http://www.tabloidnurani.com/RUBRIK/336/marah.html

atau :

http://www.hypo-birthing.web.id/?p=263

Selamat mencoba…

Melahirkan itu perjuangan seorang wanita, jadi kita perlu persiapan yang matang iya, ga.. namanya juga usaha, nah sembari usaha maksimal kita juga harus perbanyak doa, kekuatan doa itu super dasyat lho…! ga percaya? coba aza.. :-)

Special Present April 21, 2008

Posted by shasha in Curhat.
9 comments

17 April 2008, Pukul 22.00

Hatiku gelisah, tiba-tiba rasa kangen yang sangat menyusupi dalam hati… Sudah beberapa hari suami ku tidak menelpon bahkan sekedar berkirim sms, bukan dia tidak mau atau lupa pada kami, namun Hpnya tertinggal di rumah ketika senin kemarin dia pergi bekerja ke Balikpapan. Kangeeen… biasanya setiap malam kami bisa mendengar suaranya, walau sekedar mengucapkan selamat tidur. Beberapa saat aku sempat menangis sesegukan karna tak tak kuasa menahan rasa kangen ini, namun segera ku usap air mata, teringat pesan suamiku untuk selalu sabar dalam setiap kondisi, dan tak boleh bersedih jika harus ditinggal untuk mencari nafkah di kota seberang. Berusaha kutenangkan diri dengan berdoa, moga suamiku disana diberi kesehatan, kesabaran dan kekuatan untuk menyelesaikan pekerjaannya dan dapat segera pulang menemui kami. Kuambil air wudhu, lalu kuputar murottal, suara Syeikh Sa’ad Al Ghomidi mengalir lembut memenuhi ruangan, dan membawa ketenangan di hatiku. Sambil berbaring kupejamkan mata dan berharap segera terlelap dan terbawa mimpi…

Ternyata kerinduanku terbawa mimpi, dalam mimpi aku masih berharap suamiku menelpon kami, sekedar mengurai rindu yang terlanjur menyusup. Diantara sadarku, tiba-tiba terdengar suara HP di sampingku.. setengah sadar kubuka Hpku, di ID pemanggil kelihat sebuah foto lelaki tampan yang sedang tersenyum manis, ku tekan tombol “Accept”, kuucapkan salam..

Assalamu’alaikum…

Wa’alaikumsalam…

Selamat ulang tahun sayangku…

Hemm…

Kulihat jam di Hpku, jam 00.00 tanggal 18 April 2008..

Ternyata hari telah berganti, membawa hari baru yang semoga selalu penuh keberkahan…

Suamiku sengaja menunggu jam 12 malam, dan meminjam HP temannya untuk menelpon dan mengucapkan selamat ulang tahun buatku, “Abi mau jadi yang pertama ngucapin selamat buat Ummi” begitu kata suamiku.

Aku senang, bahagia… dan kurasa cinta itu makin kuat menjerat hatiku.

“ Ummi mau hadiah apa?” kata suamiku lembut

“Abi..” Jawabku

Sebenarnya aku hanya ingin engkau berada di sini, di sisiku, wahai suamiku…

“Bi, tolong doakan ummi bisa menjadi istri yang sholehah dan bisa menjadi bidadari Abi dunia dan akhirat”. Pintaku padanya.

Tapi, sungguh aku merasa ulang tahun kali ini aku mendapat hadiah yang paling berharga, hadiah yang harus aku usahakan sendiri untuk mendapatkannya, setidaknya mendapat level yang lebih tinggi. Hari-hari yang kadang terasa berat ketika harus kujalani sendiri…

Hadiah itu adalah “kesabaran”. Ya, walau hadiah itu belum sempurna namun tiap detik aku terus berusaha menyempurnakannya…

Terimakasih suamiku… bersamamu, kuharap sabar dan syukur lah yang menjadi pakaianku…

Tolong selalu ingatkan Ummi ya, Abi… ketika ego mulai mengoyak kesabaran yang senantiasa berusaha kita jaga…

Pesan Moral :-) :

û Kasih sayang dalam keluarga tak akan kokoh hanya dengan gelimpang harta, namun ia akan tumbuh dan mekar dengan perhatian dan kasih tulus yang anda berikan untuk pasangan anda.

û Kesabaran itu merupakan hadiah berharga, yang hanya akan di dapatkan oleh Hamba-hamba yang senantiasa berusaha keras untuk mendapatkannya.

û Kesabaran itu akarnya pahit namun buahnya pasti sangat manis, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung sehingga dapat merasakan kelezatan buahnya, Aamiin..

Buat Para Ikhwan “Lajang” Februari 20, 2008

Posted by shasha in Curhat.
10 comments

Buat Para Ikhwan yang sudah “pantas” menikah tapi belum berani untuk melamar kami…

Wahai Para Ikhwan…

Hal apakah yang membuat kalian belum datang untuk menjemput kami mengarungi samudra pernikahan yang penuh keberkahan..?

Takutkah tak bisa memberi materi yang melimpah?

Takutkah tak bisa memberi rumah mewah?

Takutkah tak bisa memberi kendaraan nyaman?

Takutkah tak bisa memberi perhiasan berkilau?

Takut… takut… takut…????

Kami tak mencari pangeran tampan dengan harta melimpah!

Kami hanya mencari seorang hamba Allah yang membekali dirinya dengan iman walau belum utuh…

Kami hanya mencari seorang hamba Allah yang bersedia memuliakan istri dan keluarganya…

Kami hanya ingin mencari seorang hamba Allah yang bersedia menemani kami dalam suka dan duka, mengingatkan kami, kala khilaf menyapa… kembali meluruskan langkah saat mulai salah arah…

Kami hanya ingin mencari seorang hamba Allah yang bersedia  mendidik dan menjaga jundi-jundi kecil menjadi manusia perkasa yang penuh iman didadanya…

Ataukah kalian belum juga datang karna melihat kami yang masih penuh kekurangan, kelemahan, dan  tidak sesuai dengan kriteria “ideal” kalian?

Tidak kalian ingin memjadikan kami sebagai ladang amal yang berbuah pahala? mendidik dan mengajar kami untuk menjadi “sempurna” bukankah merupakah kebanggaan tersendiri buat kalian?  yang pastinya lebih mulia disisi Allah?

Ataukah kalian ragu, karna takut kami menapik uluran tangan kalian, atau menunggu kami yang datang memohon pada kalian untuk mempersunting kami?

Oh, sungguh terlalu…!!! Sebagian dari kami mungkin belum bisa semulia bunda Khadijah, makanya janganlah kalian berharap kami yang datang, biarlah kami beri kalian kesempatan untuk menunjukkan bahwa kalian bukanlah pengecut yang takut akan sebuah penolakan..

Datanglah…, hilangkan ragu di hati kalian… kami siap menerima apa adanya diri kalian, asalkan kalian pun bersedia menerima apa adanya kami…, kemudian bersama kita belajar untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik…

Saat Memilih untuk Menikah Februari 14, 2008

Posted by shasha in Curhat.
add a comment

Heem… Kalau mendengar kata “NIKAH” apa yang ada dalam benak kita? Banyak hal, tapi buat yang belum nikah mungkin akan muncul ketakutan-ketakutan yang mungkin tak beralasan namun dicari 1001 alasan untuk membenarkan “perasaan-perasaan” tersebut (afwan, kalo antum ga merasa seperti itu, itu hanya berdasarkan pengalaman pribadi aza).

Dulu sebelum menikah, jujur rasa takut itu selalu muncul. Takut ga bisa jadi istri yang baiklah, takut masalah-masalah setelah menikahlah, takut ini, takut itu… Sampai sekarang pun masih sering diledekin sama suami “dulu katanya takut…”. Dulu banyak hal yang kami takutkan dalam pernikahan, namun setelah menjalaninya… subhanallah… susah diungkapkan dengan kata-kata perasaan dihati ini, hanya rasa syukur yang terus mengalir tanpa henti…

Walau mungkin sebagaian orang menilai pernikahan kami terburu-buru (standart manusia) misal rumah ga punya, penghasilan pas-pasan, masih long distence, dll… namun sungguh itu semua ga ada apa-apanya dengan “kebahagiaan” yang Allah berikan pada kami setelah menikah. Kebahagiaan itu letaknya di hati, ga pernah tergantung pada pandangan orang lain, ga tergantung pada berapa besar penghasilan tiap bulan, ga tergantung pada berapa banyak harta yang kita miliki, dll…

Ada perasaan tenang saat kerinduan itu menemukan muaranya, ada perasaan senang saat menatap senyum lembutnya,  ada perasaan damai saat bersamanya, ada perasaan kangen (yang alhamdulillah, HALAL) saat jauh darinya, ada perasaan menakjubkan saat menunggu kehadiran bayi pertama kami, ada perasaan gembira saat menghadapi masalah dan dapat mengatasinya bersama atas izin Allah…

Wah..wah… itukan cerita saat udah nikah, sebelumnya gimana? Ya, memang banyak rekan-rekan yang belum menikah dengan alasan belum dikasih “orang” yang tepat. Namun, suami saya dulu pernah bilang, Allah ga akan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh manusia, maka ikhtiar maksimal adalah tugas manusia! Sejauh mana kita berusaha mengalahkan ego kita untuk selalu mencari sosok yang “ideal” dengan kreteria yang bahkan tak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Suami saya pernha bilang” bukan masalah menikah dengan siapanya, tapi yang terpenting masalah menikahnya”. Artinya jika mental kita udah siap menikah, maka tak terlalu penting siapa akhwatnya, kita ga akan terlalu ribet mendaftar kemudian mencoret nama akhwat dari daftar calon hanya karena ada sedikit hal yang ga pas dengan kreteria “ideal” kita. Karena bagi saya menikah bukanlah menyatukan dua pribadi yang sempurna, tapi menyatukan dua pribadi yang belum sempurna agar nantinya menjadi pribadi yang lebih baik… Pernikahan ibarat sebuah kampus dimana kita ditempa agar menjadi lebih sabar, lebih ikhlas, lebih bersyukur, dan menjadi sosok yang jauh lebih baik daripada saat kita belum menikah.

Semoga, kita semua diberikan kemantapan hati untuk menjalani kehidupan yang penuh keberkahan dalam sebuah pernikahan… Aamiin

Menikah dengan Akhwat Satu Kampus Februari 14, 2008

Posted by shasha in Rileks.
2 comments

Suatu hari di teras sebuah Masjid, usai melakukan musyawarah LDK, berkumpullah beberapa ikhwan yang berasal dari berbagai kampus, sekedar bersantai dan berbincang-bincang tentang berbagai hal. Sebut saja mereka Yusuf, Ahmad, Muis dan Rahman. Ketika sedang asyik-asyiknya berbincang sambil menikmati angin yang berkembus sepoi, tiba-tiba datanglah Harun, rekan mereka.

“Assalamu’alaikum…” Sapa Harun

“Wa’alaikumsalam warahmatullah..” Yang lain menjawab serempak…

” Ana bawa berita baru nih..” Tanpa basa-basi Harun langsung menyampaikan kabar.

” Berita apa, akh’ Harun..?” tanya yusuf penasaran, tatapan ikhwan yang lain semua tertuju pada Harun, sang pembawa berita, dengan tatapan penasaran.

” Sudah, dengar belum “fatwa” terbaru dari pengurus LDK Pusat?” Kata Harun.

” Ana, belum dengar, memangnya apa isinya?” Tanya Rahman penasaran, sebagai wakil dari kampusnya dia merasa harus tau berita-berita baru untuk disebarkan ke teman-teman lain.

Ikhwan yang lain juga menggeleng, masih dengan rasa penasaran…

” Semua Ikhwan, dilarang untuk menikahi akhwat satu kampus…” Jawab Harun, dengan sedikit senyum…

Kontan saja, hal itu mengundang berbagai reaksi dari ikhwan lain.

” Lho, memangnya kenapa tidak boleh, kita kan berhak menikahi akhwat manapun yang kita mau!” Seru Muis sedikit kaget.

” Iya, lagian kalo satu kampus, apalagi sering kerja bareng, sedikit banyaknya udah tau pribadi akhwat tersebut, kalau memang layak dijadikan calon istri kenapa nggak?” Kata Akhmad tak mau kalah.

” Iya, sih ada betulnya, tapi mungkin maksud larangan tersebut untuk tujuan pelebaran ladang dakwah..” Yusuf sedikit menenangkan ikhwan-ikwan lain.

” Ah, tapi kan terdengar sedikit aneh, lagi pula ana sudah ta’aruf dengan akhwat satu kampus, dan Insya Allah sebentar lagi akan melamar ke orang tuanya.” Seru Rahman gusar.
“Tenang-tenang…!” Sahut Harun mencoba menenangkan ikhwan lain, yang mulai gundah dengan berita yang dibawanya.

“Biar ana jelaskan dulu maksudnya, bukankah dalam syariat Islam walaupun diperbolehkan untuk berpoligami, maksimal 4 orang istri, nah kalau akhwat satu kampus ada berapa ribu tuh.., tentu saja kita dilarang untuk menikah dengan akhwat satu kampus, tapi kalau cuma satu atau empat orang sih, nggak masalah asal sanggup…” Jelas Harun panjang lebar, sambil tersenyum.

” Huuuuuuuuuuu…” serentak ikhwan-ikhwan lain berseru kesal sambil menarik nafas lega…

Ada-ada saja pikir mereka..

Ciri Wanita Muslimah Februari 4, 2008

Posted by shasha in Artikel.
4 comments

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami

Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:

1. Taat kepada Allah dan RasulNya

Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga

FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
—————————————

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Lupa mengingat Allah

Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:

” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”

Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)

Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.

2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia

Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: artinya:

” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir.”

3) Mudah terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.

Ad-dunya mata’ , khoirul mata’ al mar’atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.

From : www.dudung.net

Semoga kita semua (khusus akhwat) diberi kekuatan iman untuk selalu berada di jalan kebenaran dan menjadi wanita sholehah…

Malam Tahun Baru 2008 M Januari 3, 2008

Posted by shasha in Curhat.
3 comments

Malam tahun baru pada ngapain? pasti banyak yang menghabiskan waktu bersama keluarga, teman atau malah turun ke jalan menyaksikan pesta kembang api, dan banyak lagi keramaian di luar sana…

Tapi, malam taun baru kemaren hatiku bener-bener gelisah, tak lepas hati berbisik penuh harap dan cemas… ada apa? ah.., aku sedang menunggu kedatangan pujaan hatiku… orang yang kucintai lebih dari diriku… ya.. siapa lagi kalau bukan suami tercinta…

Suamiku memang tidak berjanji untuk menghabiskan malam taun baru bersamaku, namun berjanji akan berusaha pulang untuk menemuiku…, dan aku percaya suamiku akan berusaha keras untuk memenuhi janjinya… namun, sungguh ragu sempat merayap di sisi hati… sore itu kutelpon no HP suamiku… tak ada jawaban… berkali-kali malah… aku berusaha berpikir positif. Selepas magrib, kembali ku telpon.. akh.. akhirnya ada jawaban di sebrang sana… “halo..halo…” aneh sekali pikirku, tak pernah suamiku menjawab telpon dengan kata seperti itu, urung kujawab suara itu. “ibu…ummi…” suara di sana masih saja berusa memanggil-manggil… akhirnya walau ragu kujawab juga “ya..” ” Bapak Joko tadi sore jam 5 udah pulang, mungkin buru-buru makanya HPnya ketinggalan, bla..bla..bla…” panjang lebar suara disana menjelaskan dan akhirnya menyapu bersih semua ragu yang mulai tadi sore merayapi hatiku… dan berganti rasa senang dan kangen yang mulai berharap menemukan muaranya…

Mulailah aku merapikan kamar, berdandan, dan lain-lain… menyambut kedatangan cintaku… waktu terus merayap dan tetap setia menemaniku dalam penantian…, hatiku terus berdebar membayangkan saat-saat pertemuan nanti…

Jam 9 malam… hatiku makin tak karuan…, akh… sebentar lagi pangeranku datang… pikirku. Jam 9.30 , hemm… belum datang, paling sudah dekat…, sebentar lagi… sayang, HPnya ketinggalan… Jam 10.00, hatiku mulai was-was dan diliputi rasa kuatir…, segera kudirikan sholat isya (awalnya aku sengaja menunggunya, berharap bisa menjadi makmumnya..) ku adukan segala kecemasan dan rasa kuatirku pada-Nya, berharap mendapat sedikit ketenangan, tak lepas bibirku berdoa mengharapkan keselamatan kekasihku…

Jam 10.30, tak kuhiraukan suruhan ibuku untuk makan agar tak masuk angin…, awalnya aku memang merasa lapar, namun aku sengaja ingin makan bersamanya sehingga kutunda dulu jam makan malamku, namun kini aku benar-benar merasa kenyang dan tak punya nafsu makan lagi… pikiranku dipenuhi dengan dirinya…

Jam 11.00, sudah beberapa kali aku menitikkan air mata, sungguh aku benar-benar mengkhawatirkan keselamatan dirinya… tanpa kutau harus berbuat apa…, selain berbisik penuh harap pada Zat Yang Menguasai Segala Sesuatu… sempat kucoba mengghubungi teman di Balikpapan, yang katanya mengantarnya ke pelabuhan penyebrangan, tapi… jaringan error, akhirnya ku kirim sms itupun beberapa kali pending.., walaupun dibalas, tetap saja belum bisa sedikitpun membuatku lega…

Jam 11.30…, aku berbaring di sofa ruang tamu, mengurai seluruh rasa yang berkecamuk dihatiku, Ibu datang menemani dan mengajakku ngobrol, tapi entah aku tak begitu mendengar, karna seluruh pikiran sedang ada di tempat lain… Ibu berdiri menatap keluar melalui jendela depan, ketika mendengar suara mobil di jalanan, awalnya aku tak peduli…, Ibu terus mengomentari mobil yang ada di depan jalan, yang katanya mogok dan harus didorong oleh beberapa orang…, akhirnya aku bangkit dan ikut melihat ke jalanan… diantara keremangan aku melihat diantara orang-orang disana ada sosok yang begitu memenuhi pikiranku, langsung saja kubuka pintu dengan syukur yang sangat dan berharap sosok yang kulihat di sebrang jalan memang cintaku…

Alhamdulillah… Segala puji bagi-Mu Allah… Akhirnya, dapat juga kudekap tubuh orang yang selama ini kurindukan…

Akhirnya dapat juga kulalui detik-detik pergantian tahun bersamanya… “Selamat Tahun Baru, istriku…” katanya lembut sambil mengecup pipiku…