jump to navigation

yahya Abdillah With his Parent Juli 1, 2008

Posted by shasha in Uncategorized.
6 comments

\"Yahya Abdillah\"

One Year Juli 1, 2008

Posted by shasha in Curhat.
add a comment

Hari ini, Selasa 1 Juni 2008 tepat 1 tahun (masehi) usia perkawinan kita…, Rasa bahagia dan haru memenuhi dada ketika kupakai baju yang dulu kugunakan ketika akad nikah kita, seakan kejadian itu terulang lagi.

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Perkasa, yang telah menyatukan kita dalam ikatan pernikahan yang suci ini.

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, yang telah memberikanku suami seperti dirimu…

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah melimpahi kita dengan rahmat-Nya sehingga kasih sayang itu sellau menjerat hati kita, dalam mengarungi samudra kehidupan dalam sebuah bahtera yang mengharap sakinah, mawaddah, wa rohmah…

Bahagia dan sytukur pada Allah, Tuhan Seru sekalian alam yang telah memberikan kita kepercayaan untuk memiliki seorang “Yahya Abdillah” bayi kecil kita.

Kelahiran Bayi Mungilku Juli 1, 2008

Posted by shasha in Curhat.
5 comments

Senin, itu tanggal 23 Juni 2008 seharusnya sepeti biasanya suami harus kembali bekerja ke Balikpapan (5 jam perjalanan dari kotaku) tapi malam itu suami agak kurang enak badan dan mengrungkan niatnya untuk pergi dan berniat mengantarku ke Puskesmas untuk Cek Up rutin kehamilanku.

Senin, itu tanggal 23 Juni 2008 sejak subuh aku merasa perutku agak sakit. Paginya aku mulai merasa sakit yang mulai teratur walau jaraknya jarang. Sepanjang siang aku masih berusaha beraktivitas seperti biasanya, perkiraan bidan bayinya akan lahir malam hari. Sore hari rasa sakitnya semakin sering dan membuatku sudah susah bergerak. Jam 16.00 wita diperiksa bidan baru pembukaan 3 menuju 4.

Waktu mulai merangkak walau terasa begitu lambat bagiku, ketika waktu magrib datang aku mulai merasa ngantuk yang amat sangat, acil dan suamiku terus berusaha mengajakku bercerita aagar aku tak tertidur. Malam itu tak seperti biasanya tiba-tiba listrik padam. Dikamar tidurku yang hanya diterangi sebuah lampu tembok dan sebuah lampu emergency aku berusaha menahan sakit yang kurasa kian menghebat. Jam 8 malam 2 orang bidan plus 1 asistennya datang dan memeriksaku, tekanan darahku tinggi sekitar 160/90 padahal biasanya 110/70, belum lagi HB ku yang rendah sekitar 8,8 (saat terakhir periksa HB di Puskesmas) bidan mulai kuatir, apalagi ketika his/kontarksi yang kurasakan jarang dan waktunya pendek, ketika dicek detak jantuk janin juga cepat yang menurut mereka berbahaya buat sang janin.

Suamiku diajak masuk untuk menemaniku, (Aku surprise bercampur senang, karena ternyata suamiku bersedia menemaniku, padahal kukira ia akan menolak karena merasa tidak akan tahan melihat proses persalinan) lalu ia meletakkan kepalaku di pangkuannya sambil menggenggam tanganku seolah ingin memberi memberi kekuatan padaku, dan itu kurasakan nyata. Waktu itu sudah jam 9 malam lewat para bidan mulai kuatir, dan berkata pada suamiku, “ Pak, kalau jam setengah sepuluh belum lahir terpaksa kita bawa kerumah sakit.” Suamiku hanya mengiyakan tanpa kutau apa yang sedang dirasakannya. Namun, aku bertekad untuk terus mencoba walau memeng agak susah karna his/kontraksinya tidak lama sehingga sedikit sekali waktu untukku mengejan. Dari awal aku memang berharap agar bisa melahirkan di rumah saja, karna agak merepotkan buatku jika harus melahirkan di tempat lain seperti klinik apalagi rumah sakit.

Waktu terus berjalan, aku terus berusaha, suamiku terus memangku kepalaku sambil memberi kekuatan padaku, para bidan kian kuatir, dan mulai berinisiatif untuk menelpon teman untuk segera menyediakan mobil untuk membawaku ke rumah sakit, namun entah kenapa nomor HP yang ditelpon bidan tersebut salah sambung, dia sendiri agak bingung, karna yakin itu adalah nomor HP temannya, Bidan juga sudah meminta ibuku untuk menyiapkan tas untuk dibawa kerumah sakit. Tapi, aku tetap yakin aku bisa melanjutkan ini, disini. Aku terus berseru pada Bayiku “Junior ayo keluar, kitakan ga mau ke rumah sakit..!” Para bidan aza tertawa melihat ulahku, yang menurut mereka aneh.

Alhamdulillah, tepat jam 19.25 air ketuban pecah, konsentrasi para bidan yang awalnya sudah menyiapkan untuk membawaku ke rumah sakit, kembali fokus padaku dan janinku, kini aku tinggal berusaha mengeluarkan bayiku, tapi ternyata tidak mudah karena hisnya masih terlalu pendek, berkali-kali gagal walau kepala sang bayi sudah terlihat, namun aku tetap berusaha dengan semangat dari suamiku yang terus setia menemaniku, akhirnya jam 22.00 wita (jam di kamarku) lahirlah bayi kami tercinta. Alhamdulillah…Alhamdulillah ucapku dan suami sambil menciumi keningku.

Tapi ternyata masalah tak segera berakhir, karena ketika lahir anggota gerak bayiku biru, dan tak ada suara tangisnya, para bidan segera berusaha memberi pertolongan dengan menepuk-nepuk kaki dada dan menyedot cairan ketuaban yang ternyata telah banyak terminum olehnya. Aku dari jarak yang agak jauh berusaha menyemangati anakku (walau aku tau dia tak mendengar) setelah beberapa menit, akhirnya kudengar suara tangisnya yang kencang… Alhamdulillah kembali terucap dari bibir kami. Setelah dibersihkan, diukur dan ditimbang, panjangnya 49cm dan beratnya 3,5kg.

Ternyata kisah belum berakhir, aku masih harus menunggu ari-ari keluar, setelah keluar ternyata aku mengalami pendarahan, tapi sekali alhamdulillah bisa diatasi. Robekkan yang kualami cukup parah, kata bidan stadium 4, bidan menjahitnya kurang lebih 1 jam, Alhamdulillah beberapa menit setelah bayiku lahir listrik hidup, jadi sedikit banyaknya membantu kelancaran proses penjahitan.

Akhirnya seolah tak percaya dengan hal yang baru saja terjadi, aku terdiam dengan rasa syukur yang membuncah didada. Aku merasa kelahiran pertamaku ini dipenuhi begitu banyak keajaiban, Laa haulawalaa kuata illaa billaah.. Subhanallah, AllahuAkbar, Alhamdulillah… Hanya itu yang bisa terucap dibibirku.

Untuk suamiku terimakasih tak terhingga karena dengan setia menemaniku dan selalu memberi dukungan dan kekuatan dalam menjalani proses yang paling menegangkang dalam episode kehidupanku. I Love U…

Kini tugas kita berdua untuk mendidik buah hati tercinta agar menjadi Hamba Allah yang bertakwa… Semoga titipan Allah yang menjadi anugrah terindah dalam hidup kita dapat kita jaga dan didik sebaik-baiknya…