Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

Laut & Langit (Revisi)

Glitter Photos
[Glitterfy.com – *Glitter Photos*]

Dahulu kala, langit dan laut saling jatuh cinta. Mereka sama2 saling menyukai 1 sama lain. Saking sukanya laut terhadap langit, warna laut = langit, saking sukanya langit terhadap laut, warna langit = laut.

Setiap senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan “aku cinta padamu” ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut pun, langit tidak menjawab apa2 hanya tersipu2 malu wajahnya semburat kemerahan.

Suatu hari, datang awan… begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja. Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus.

Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah2 langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap 1 sama lain.

Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya, laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya.

Tapi tentu saja tidak berhasil.

Lalu datanglah angin, yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu.

Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan … Awan terbagi2 menjadi banyak bagian, sehingga tidak bisa lagi melihat langit dengan jelas, tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit.

Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit, awan menangis sedih. Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan.

Kamu juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih. Setiap ke laut, di mana ada 1 garis antara laut dan langit, di situlah mereka sedang bersatu.

To : My Beloved Husband ( aku “lagit” dan engkau ”laut”, jangan pernah biarkan “awan” mengganggu cinta kita…)

Iklan

Target Selanjutnya : Rainbow Stories”

Tidak terasa 8 Minggu telah terlewati ya. Tiap minggu biasanya saya menyempatkan diri untuk menulis di blog ini. Kenapa? karena ikut lomba #*MingguNgeblog dengan angingMamiri. Tapi karena sudah berakhir, apa yang akan saya lakukan selanjutnya?

Saya nggak akan ngoyo untuk terus mengisi blog ini minimal tiap minggu. Saya nggak akan berjanji, bertekad atau apapun untuk rutin kembali mengisi blog ini. Tapi saya yakin saya akan terus menulis. menulis apa? di mana? Mungkin saya termasuk orang yang butuh “tekanan” untuk menghasilkan sesuatu. Maka  biasanya saya mengikuti lomba untuk menghasilkan tulisan. Pada bulan April kemarin karena mengejar DL dari tanggal 20-30 saya menulis naskah novel dengan jumlah halaman 120. Dalam 10 hari mendapatkan ide, mencari bahan, menulis, mencetak dan menjilid dan siap kirim. Itu hal yang menakjubkan bagi saya. Yang dalam kondisi normal saya tak yakin bisa menyelesaikannya secepat itu. (bahkan ketinggalan Tema Minggu ke-3 Anging MAmiri, karena focus menulis Novel tsb).

Dan mungkin untuk sebulan ke depan saya focus untuk menulis minimal 80 halaman.

Yuk teman-teman yang berminat mau ikutan lomba menulis, ini Info lombanya.

Lomba Menulis Muslimah

Terus menulis dan selamat berkarya!

Komunitas Perlukah?

Kali ini  #8MingguNgeblog yang diadakan oleh Anging Mamiri telah memasuki minggu kedelapan, dengan tema Komunitas Ideal.  Berarti sudah memasuki minggu terakhir ya? Ya, segala sesuatu itu pasti ada awal dan ada akhirnya.

Sumber : proyeknulisbukubareng.com
Sumber : proyeknulisbukubareng.com

Pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial, yang membutuhkan orang lain dan tak bisa hidup menyendiri. (jadi ingat pelajaran PPKn zaman sekolah dulu) sehebat dan sekaya apapun orang tersebut pasti membutuhkan orang lain, begitulah sunatullah dalam kehidupan ini.

 

Namun jujur saja saya bukan tipe orang yang supel dan mudah bergaul, jadi mungkin tak pernah bisa eksis dalam komunitas. Satu-satunya organisasi yang bisa membuat saya betah dan all out berkecimpung di dalamnya adalah UKM WAMIKA, sebuah lembaga dakwah kampus yang ada di Kampus tempat saya menuntut ilmu. Saya serius aktif pun ketika mulai menjabat sebagai pengurus. Amanah, ya tanggung jawab atas sebuah amanah membuat saya totalitas memberi tenaga, waktu dan pikiran untuk organisasi tersebut. Rasa persaudaraan yang erat, rasa senasib sepenanggungan membuat kami makin solid.

 

Setelah lulus kuliah saya kembali kehilangan “komunitas”. Saat itu saya bekerja sebagai guru honor disebuah SMP Negeri. Hanya sebatas rekan kerja di kantor, mungkin karena saya junior, sedangkan guru-guru yang lain adalah senior bahkan sebagian besar dari beliau adalah guru saya ketika sekolah, membuat jarak yang tak bisa saya tembus.

 

2 tahun lalu ketika mulai rajin mencari info lomba, saya mulai bergabung dengan komunitas penulis, awalnya hanya sekedar persyaratan lomba, misalnya untuk mengikuti sebuah lomba menulis harus gabung di grup tertentu. Teman di FB pun melonjak karena ternyata banyak tergabung di komunitas yang sama. Ya, karena awalnya hanya untuk mengikuti lomba, jadi saya tidak terlalu aktif di kumunitas tersebut. Hanya ada beberapa yang saya sering kunjungi, seperti Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), Penulis Samara, Untuk Sahabat (UNSA), Ayo Menulis Buku (AMB) dan Tambah Asi Tambah Cinta.

IIDN UNSAAMB

Bagi saya komunitas di dunia maya, sudah ibarat rumah kedua. Tempat saling bertukar pikiran dan berbagi ilmu serta pengalaman. Walaupun saya bukan anggota yang terlalu aktif, saya hanya sering menjadi pembaca setia. Dan saya senang tergabung dalam komunitas-komunitas tersebut.

 

Menurut saya, lingkungan membawa pengaruh bagi pembentukan karakter manusia. Seseorang yang tumbuh dilingkungan yang baik Insya Allah juga akan menjadi baik, berbeda dengan seseorang yang jatuh kedalam pergaulan yang buruk tentu akan membawa pengaruh yang buruk juga bagi orang tersebut.

 

Dalam hal ini kita pun harus pandai-pandai memilih komunitas yang tepat. Bisa saja sebuah komunitas awalnya terlihat baik, namun ketika kita sudah masuk ternyata ada kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, misalnya minum-minuman keras, narkoba atau pergaulan bebas. Lebih baik cepat-cepat say goodbye dengan komunitas tersebut daripada kita jadi korbannya.

 

Maraknya genk-genk motor yang berperilaku negatif di jalan dan meresahkan warga, sebenarnya adalah bentuk dari sebuah komunitas yang salah kaprah. Sebagai gambaran jika ada seseorang yang berniat jahat tentu ia masih segan jika hanya sendirian, tapi ketika “niat jahat” itu terbentuk dalam sebuah komunitas, tak ada lagi yang mereka takuti, rasa super power telah menguasai, mereka merasa kuat dan berkuasa.

 

Saya tidak mendiskreditkan genk motor, banyak genk motor yang baik, memberi pengaruh dan membawa manfaat bagi masyarakat, seperti yang saya lihat pada tayangan Kick Andy beberapa waktu lalu. Namun seharusnya kita bisa lebih bijak memilih komunitas, atau jika sudah tergabung dengan komunitas berusahalah untuk membangun sebuah komunitas yang bermanfaat membawa kontribusi untuk perbaikan diri dan masyarakat sekitar.

Sumber : helmysuhendar.blogspot.com
Sumber : helmysuhendar.blogspot.com

Nah, kalau komunitas yang idela menurut saya adalah :

  • Mempunyai visi dan misi yang jelas.

  • Membawa dampak positif minimal bagi anggota komunitas tersebut dan manfaat bagi masyarakat.

  • Bisa mengakomodir keinginan-keinginan anggotanya selama masih dalam visi yang sama

  • Bisa merangkul semua anggota, sehingga tak ada yang merasa tersisih.

  • Setiap anggota  harus menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas.

  • Setiap anggota berkontribusi positif untuk kemajuan komunitas.

Nah kalau komunitas ideal bagi temna-teman seperti apa?

NGE-BLOG NGGAK YA?

Diantara kesibukan pekerjaan di kantor yang sedang memasuki masa pelunasan bagi jamaah haji 1434 H, aku berusaha meluangkan waktu dan pikiran untuk menulis tulisan untuk #8MingguNgeblog yang diadakan oleh Anging Mamiri yang telah memasuki Minggu ke-7, akhirnya setelah berhari-hari mengendapkan ide dan mencari waktu luang,

Sebenarnya kalau mau jujur, berbanding terbalik dengan komentar rekan peserta lomba #8MingguNgeblog yang lain, tema minggu inilah yang paling sulit, kenapa? Entah mungkin karena saya sebenarnya blogger jadi-jadian 😉 atau Blogstipation: blogger yang sedang malas ngeblog, karena sedang bad mood atau nggak pingin ngeblog. Istilah yang saya dapat ketika blogwalking. Blog bukan dunia yang tekun saya geluti belakangan ini. Facebook, Twitter, Browsing info lomba antologi, cerpen dan novellah yang mewarnai aksi tulis menulis saya dua tahun terakhir.

Kembali ke laptop, eh salah ke topic, maksudnya.

BloggerSEANDAINYA SAYA TIDAK NGEBLOG

Maka ini yang akan terjadi :

  1. Harga BBM tetap saja akan naik mengikuti harga minyak dunia.
  2. Harga bawang dan cabe tetap akan melonjak tinggi dan membuat Ibu-Ibu di Indonesia menjerit.
  3. Jokowi-Ahok tetap akan terpilih jadi Gubernur Jakarta kerana dianggap bisa membawa perubahan.
  4. Raffi Ahmad tetap akan tertangkap BNN dan direhabilitasi kurang lebih 3 bulan.
  5. LP Cebongan tetap saja akan diserbu segekelompok oknum Kopasus dan menembaki 3 tersangka penganiayaan dan pembunuhan salah satu anggota Kopasus.
  6. Distribusi soal Ujian Nasional tingkat SLTA untuk daerah Indonesia Tengah tetap saja akan terlambat dan carut marut.
  7. Ustadz UJE tetap akan mengalami kecelakaan tunggal yang akhirnya merenggut nyawa beliau, semoga beliau khusnul khotimah, dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, aamiin.
  8. Eyang Subur tetap saja punya 10 istri dan pastinya bukan saya salah satunya.
  9. Arya Wiguna tetap saja menjadi artis dadakan dengan “Demi Tuhan”-nya
  10. Ahmad Fatanah tetap akan tertangkap tangan oleh KPK dengan tuduhan suap daging sapi import.
  11. Tambang Freeport tetap akan runtuh dan menelan banyak korban.
  12. Tim Bulutangkis Indonesia tetap akan kalah di Piala Sudirman.

Nah pertanyaannya apa hubungannya aktifitas blogging saya dengan isu-isu sosial di atas? Jawabannya TIDAK ADA, maka jika saya ngeblog atau tidak, kejadian-kejadian itu tetaplah terjadi sesuai dengan skenario yang telah disusun oleh Sang Kuasa.

Sebenarnya saya tak suka berandai-andai, kenapa? Berandai-andai seringkali menjadi pintu masuk bagi syaitan untuk membisiskkan was-was dan prasangka. Membuat kita lemah dan hanya menyesali hari kemarin yang tak pernah akan bisa terulang kembali.

Tapi tak apalah kali ini kita berandai-andai, bukan untuk menyesali apa yang telah terjadi, namun untuk mensyukuri nikmat yang hingga saat ini tak pernah lepas dari kehidupan kita.

Saya pikir Jika saya nggak ngeblog, nggak akan terjadi apa-apa dan nggak ada efeknya juga kali ya, nggak ada yang ngeh juga kalau saya tiba-tiba hilang dan nggak pernah eksis di dunia maya yang satu ini. Diriku hanyalah seorang blogger diantara jutaan blogger lainnya, bagai setetes air dalam luasnya samudra.

Pertama kali saya membuat blog tanggal 4 desember 2007 dan aktif (dalam arti kata, blognya masih sering ditengok, dan sesekali posting tulisan) hingga Juli 2008, nggak sampai satu tahun ya?

wordpress-logo

Tahun 2009-2011 vakum ngeblog, alasan…. (tidak usah diisi, soalnya semua alasan nggak penting) 🙂

Tahun 2012 hanya posting 2 artikel.

Dan barulah tahun 2013 bulan April aktif lagi, kenapa? Karena lihat info #8MingguNgeblog bareng Anging Mamiri di status Fbnya  Ka’ Mugniar.

7 minggu inilah saya kembali memasuki blogsphere yang telah lama saya tinggalkan terpacu untuk kembali posting tulisan-tulisan, bahkan ada adik tingkat yang komentar,”sering-sering aza ikut lomba ngeblog mba, biar “rumahnya” rame lagi.” Hehehe…

26 Post yang telah dipublish ini ternyata 12 posting-an ditulis untuk mengikuti lomba #8MingguNgbelog. (geleng-geleng kepala)

Jika saya tidak Ngeblog, maka info lomba #8MingguNgeblog di statusnya ka’ Mugniar hanya saya anggap angin lalu dan tak ada niat sedikitpun untuk turut meramaikan lomba tersebut.

Jika saya tidak ngeblog, maka tidak akan bertemu dengan komunitas AngingMamiri dan berkenalan serta berkunjung ke rumah maya teman-teman sesama peserta lomba Ngeblog.

Jika saya tidak ngeblog tulisan-tulisan yang saya posting di blog ini, belum tentu bisa tercipta, mungkin hanya sampai ke ruang imaji tanpa pernah tertoreh dan dapat dibaca oleh orang lain.

Jika saya tidak ngeblog, kenangan tentang cinta pertama, dan dua sisi dalam hidup saya pun tak akan pernah tertuang dalam bentuk tulisan, hanya akan berdebu dalam bilik memori yang mungkin tak pernah tersentuh.

Jika saya tidak ngeblog, mungkin tak akan bertemu dengan Pia, seseorang yang ternyata juga adalah teman adik tingkat saya, dan berkata, “Dunia ternyata memang kecil.”

Jika saya tidak ngebog saya nggak akan tahu ternyata Mba Rohani punya program menulis di blog 5 postingan tiap hari  selama bulan Mei (5) dan akan terus bertambah sesuai dengan bulannya.

Jika saya nggak ngeblog saya nggak akan ketemu sama para blogholic dan Problogger : Blogger yang sudah profesional. Tidak akan bertemu dengan para blogger keren yang sudah malang melintang di blogsphere dan menghasilkan ratusan bahkan ribuan tulisan.

Jika saya nggak ngeblog saya nggak akan bingung dan galau nyari ide untuk tulisan di tiap minggunya, dan nggak akan membeli seporsi besar es krim coklat dengan alasan untuk mencairkan otak yang membeku serta berharap setelah menikmaties krim yang lezat ide-ide segar pun berdatangan. (Ini asli modus, alasan agar bisa menikmati es krim yang segar…)

Jika saya nggak ngeblog, hemm… tulisan tak penting ini pun tak akan pernah kawan-kawan baca.

Akhir kata, terimakasih sudah membaca tulisan singkat ini.  Jika berkenan mohon para senior blogger memberi saran para blogger newbie ini. 🙂

Blog Quote Bubble

.

Takdir & Cinta

Tulisan ini kupersembahkan untuk Zauji tercinta, diikutkan dalam #8MingguNgeblog yang diadakan oleh Anging Mamiri yang telah memesuki Minggu Ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

sumber : ria.choosen.net

sumber : ria.choosen.net

Kau dan aku ibarat dua sisi yang berbeda, laksana langit dan bumi, bulan dan matahari, panas dan dingin, hitam dan putih. Ah semua perbedaan rasanya bisa mewakili semua gambaran tentang aku dan kamu. Dan tak pernah terbersit bisa menyatu dengan berjuta perbedaan. Namun, diantara banyaknya perbedaan itu ada beberapa persamaan diantara kita. Takdir…, ya takdirlah yang mempertemukan kita dalam perbedaan namun akhirnya menyatukan kita dalam bingkai indah sebuah cinta sejati.

Kau yang lahir dikeramaian ibukota Jakarta, aku yang lahir dikesenyapan desa dipelosok kalimantan, namun keramahan Yogyakarta mempertemukan kita.

“Hemm…Cowok sok!” itu yang ada dipikiranku saat pertama kali melihatmu. Ya, gaya “gue-loe” khas Jakartamu tentu sangat sok dimataku yang anak desa. Namun, kembali takdir mengharuskan kita berada dalam sebuah organisasi yang sama. Bahkan selama satu periode kepengurusan kita harus melakoni jabatan Ketua dan sekretaris yang dituntut sering berinteraksi. Berlahan waktu merubah pandanganku teradap sosokmu.

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Kau sosok yang tenang, dan cenderung perpikir matang hingga terkesan lamban dalam bertindak, aku yang sigap tak sabaran dan ingin keputusan segera. Namun ketenanganmu serta kesigapanku menjadi kombinasi yang unik dalam memecahkan masalah organisasi.

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Kau sosok yang ramah dan ceria sedang aku si pendiam yang melankolis. Seringkali kata-katamu hanya kutanggapi dengan senyuman, namun tak membuatmu bosan untuk berbincang denganku. Dan ceritamu yang panjang lebar, tak pernah membuatku bosan untuk terus menjadi pendengar setiamu.

Walau perbedaan tetaplah sesuatu yang nyata diantara kita, namun kebersamaan selama 5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kisah, banyak cerita, banyak suka dan duka yang sekali lagi karena takdir harus kita lalui bersama. Sampai pada satu titik aku merasa kalau perbedaan kita bukanlah hal yang besar, karena justru banyak masalah yang dapat kita lalui justru karena perbedaan itu.

Suatu hari, kau katakan padaku, “Saat ini kita memang tak ada apa-apa, namun aku ingin suatu hari hubungan itu menjadi nyata.” Hemm.. aku tak mengerti maksudmu, dan tidak pula terdengar sebagai pernyataan cinta. Benar-benar tidak ada sisi romantisnya. Namun itulah adanya dirimu. Kau menjagaku,menjaga hati kita, menjaga perasaan yang hadir agar tetap suci hingga ia halal untuk ditunjukkan pada dunia.

November 2006, Kau yang masih berstatus mahasiswa (walau tinggal menunggu wisuda 5 bulan kemudian) dan tidak memiliki penghasilan apapun, menyeberangi lautan dan meminta izin kepada ayahku untuk menikahiku.

01 Juli 2007, adalah saat dimana aku menutup mata terhadap semua perbedaan kita, yang aku tahu hanyalah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu. Dan telah kau ikrarkan pada dunia sebuah perjanjian yang agung atas nama Allah dihadapan Ayah dan para saksi. Sebuah rumah tangga yang kuharap sakinah mawaddah warohmah mulai kita bangun. Kita satukan hati untuk melangkah bersama, melalui semua kisah hidup dengan segala problematikanya berdua.
Setelah hidup bersama ternyata kita tetaplah dua sisi yang berbeda…

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Kau dengan hobby bermain bola, bulutangkis dan berjuta aktivitas fisikmu, aku dengan hobby membaca buku, menulis dan berbagai aktifitas pikirku. Kau yang “sakit perut” setiap membaca surat dariku atau aku yang tak pernah betah berlama-lama menonton pertandingan bola atau F1 denganmu. Namun sebuah rasa menyatukan kita. Setelah lelah dengan aktifitas masing-masing, tatapan mesra dan pelukan hangat kembali menyatukan kita.

Aku ingat kalimat yang sering kau ucapkan “Bagaimanapun jalan hidup ini, aku yakin pada satu titik, takdir akan mempertemukan dan menyatukan kita, karena kau adalah bidadari yang tercipta hanya untukku.”

Dua sisi aku dan kamu, ibarat sepasang sayap yang terpisah dan akhirnya bertemu, saling melengkapi agar bisa terbang membelah angkasa. Apapun kondisi kita yang kutahu hanyalah aku sayang kamu, dan kita punya tujuan yang sama untuk membangun rumah di Surga-Nya kelak, (aamiin)perbedaan takkan memisahkan kita. Jadikan ia pelengkap yang dapat saling mengisi agar hidup ini terasa indah dan bermanfaat.

Awalnya takdir akhirnya cinta. Takdir mempertemukan kita dan cinta menyatukan hati kita. Love you now and forever My Beloved Husband….

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Gadget Oh Gadget….

Tulisan ini yang diikutkan dalam lomba #8MingguNgeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki minggu ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

Teknologi, dewasa ini tentu tak dapat dipisahkan dengan keseharian kita. Sebut saja televisi, komputer/laptop, tablet, handphone, dll. Dan tak dipungkiri kami sekeluarga pun tak asing dengan hal-hal tersebut.

sumber : fitri9b2013.blogspot.com

sumber : fitri9b2013.blogspot.com

Saya kemudian membandingkan diri saya dengan anak-anak saya. Dulu ketika saya kecil jangankan handphone dan laptop, televisi saja orangtua saya tak punya, jika ingin menonton saya harus ke rumah nenek, itupun televisi hitam putih. Punya televisi sendiri ketika sudah beranjak remaja. Saya mengenal handphone dan memilikinya tahun ke-2 kuliah, itupun HP monochrome, yang hanya bisa telpon dan sms, tak ada kamera dan fasilitas canggih lainnya. Komputer pun dulu hanya Pentium 3 yang kapasitas harddisknya hanya 4 GB yang kumiliki ketika menggarap skripsiku dulu. (Sekarang flashdisk saja banyak yang memiliki kapasitas jauh lebih besar)

Sumber : fritzimmanuel.wordpress.com

Sumber : fritzimmanuel.wordpress.com

Kulihat putra putriku, sudah tak asing dengan Hp, mengambil fhoto bahkan merekam video menggunakan HP. Menonton upin-upin dan bermain bobby bola di laptop, bahkan mengetik di Microsoft Word. Tak asing dengan aplikasi-aplikasi android, seperti belajar membaca, mewarnai, bernyanyi dan games-games edukasi di tablet dan HP android.

Teknologi membawa perubahan besar ya? Saya belajar membaca menggunakan media kertas dan buku, Anak saya belajar melalui tablet dan laptop. Jika tak tahu sesuatu hal sangat surat mencari jawabannya, bolak-balik membaca buku juga belum tentu ketemu. Kalau sekarang tinggal tanya “Mbah Google”, berbagai pertanyaan bisa terjawab.
Tapi teknologi dan kemajuan zaman tentu membawa dua sisi, positif dan negatif.
Positifnya, banyak kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi. Jika dulu berkirim kabar hanya bisa melalui surat atau telegram. Kini ada telpon bahkan HP yang seolah sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa dipisahkan dari keseharian kita. Pesan dengan mudah dikirim, informasi penting dalam hitungan detik telah menyebar kepenjuru dunia. Dunia social media pun memberi banyak hal positif. Di sosmed silaturahim dengan keluarga tau teman-teman lama bisa tersambung kembali. Bahkan tak hanya teman lama teman barupun kian bertambah, mungkin tak pernah bertatap muka langsung, namun hubungan di dunia maya terasa begitu dekat. Banyak pula bisnis online yang menjamur, memberi lapangan kerja dan penghasilan bagi banyak orang. Belum lagi komunitas-komunitas hobby yang memberdayakan dan mengembangkan banyak kemampuan yang terpendam.

Sisi Negatifnya, terkadang mendekatkan yang jauh namun sekaligus menjauhkan yang dekat. Lihat saya pasangan suami istri yang sangat aktif di dunia social media, berkicau dan berbagi status dengan teman-teman di penjuru dunia, namun mungkin lupa tersenyum dan menyapa mesra pasangannya. Duduk bersisian namun sibuk dengan gadget masing-masing. Dekat secara fisik namun hati berlahan mulai melangkah menjauh, miris kan?

Sumber : efllecturer.blogspot.com

Sumber : efllecturer.blogspot.com

Begitulah dalam semua sisi kehidupan pasti membawa efek negatif dan positif. Maka dituntut kedewasaan kita dalam menyikapi setiap hal, untuk memaksimalkan efek positif dan meminimalkan pengaruh negatifnya.

Saya pun berusaha memahami bahwa kualitas sebuah kebersamaan membawa pengaruh positif bagi sebuah hubungan. Demikian juga hubungan orangtua dan anak. Saya tak ingin mengaku membersamai anak, berada tepat disisinya, namun sibuk dengan gadget di genggaman, atau sibuk membolak-balik majalah, atau mata fokus pada tayangan televisi. Bukan seperti itu arti sebuah kebersamaan yang berkualitaskan.

Sumber : violetrosestory.blogspot.com

Sumber : violetrosestory.blogspot.com

Ketika saya sedang “khusyu” bercengrama dengan HP, Yahya bertanya, “Mi lagi pesbuk-an ya?”
Hemm… kutatap wajahnya, kutatap layar Hp lalu tersenyum, “Nggak… kenapa Nak? Yahya mau Ummi bacakan cerita?”
“Mau…mau…” serunya lantang dengan raut wajah gembira.
“Yuk panggil dede Husna, dan ambil tabletnya ya, kemarinkan Abi baru installkan dongeng.”
“Iya Mi…., Usna ayo sini Ummi mau bacain cerita.”
Sang adik pun menghampiri dengan wajah senang dan duduk manis di sisiku.

Saya pun mulai intropeksi diri. Berusaha memaksimalkan waktu di rumah untuk anak-anak. Biasanya saya jarang sekali menulis (mengetik) di rumah, seringkali memanfaatkan waktu luang di kantor. Atau kalau memang sedang mengejar deadline, saya memilih ketika anak-anak sudah tidur. Facebook-an dan browsing pun tidak di rumah. Saya berupaya agar tak kecanduan gadget, dan dapat dengan bijak memanfaatkan teknologi yang satu ini.
Facebook-an, ngeblog atau browsing masih bisa lain waktu, namun membersamai tumbuh kembang sang buah hati hanya terjadi sekali seumur hidup saat periode emasnya kan? Dan apa yang orang tua lakukan saat ini akan anak kenang dan membawa pengaruh seumur hidupnya, betulkan?

Apa yang kita tanam saat ini, akan kita tuai suatu hari nanti, so apa lagi yang harus kita tanam selain kebaikan untuk diri sendiri, pasangan dan buah hati?

Sumber : azmanganu.blogspot.com

Sumber : azmanganu.blogspot.com

Dua Sisi Guru & Siswa

Aku ingin berbagi kisah tentang 4 tahunku menjadi guru honor di sebuah SMPN, dan tulisan ini yang diikutkan dalam lomba #8MingguNgeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki minggu ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

Setelah melalui dunia perkuliahan yang tak mudah seperti kisahku di “Wisuda Oh Wisuda” akhirnya aku memasuki dunia pasca kelulusan yang menurut sebagian besar orang masa yang jauh lebih sulit dari masa kuliah. Mengapa? Karena kalau kuliah, ketika ditanya status kita masih bisa dengan wajah tersenyum menjawab “Mahasiswa”. Stop nggak usah dilanjutkan dengan pertanyaan semester berapa, hehehe. Nah kalau sudah lulus dan belum bekerja apa yang akan kita jawab? Pengacara? Pengangguran banyak acara 🙂

Syukurlah aku tak terlalu lama menikamati status Pengacara, 2 bulan sejak kepulanganku ke kampung halaman aku ditawari mengajar di sebuah SMP yang merupakan almamaterku dulu. Kebetulan guru honor yang mengajar mata pelajaran TIK (teknologi Informasi Komputer) tiba-tiba mengundurkan diri, dan tak ada guru pengganti untuk mata pelajaran tersebut. Tentu saja kuterima tawaran dengan senang hati daripada ilmuku membeku dan akhirnya hilang tertiup angin, hehehe.

Ternyata pada kurikulum TIK, aku harus mengajarkan sejarah komputer, Pengenalan komputer seperti Hardware dan Software di kelas 1, kemudian Ms. Word, Ms. Excel, dan Power point di Kelas 2, di kelas 3 membahas sedikit tentang jaringan, pengenalan internet, email dan dunia socmed 🙂 dengan kata lain kemampuan codingku sedikit demi sedikit akan membeku dan akhirnya terlupakan, ya sudahlah, mungkin satu-satunya software yang bisa kubuat adalah untuk bahan skripsiku kemarin 🙂

sumber : hidupindahjikadisyukuri.blogspot.com

sumber : hidupindahjikadisyukuri.blogspot.com

Banyak suka duka yang kurasakan sebagai guru honor yang cantik dan imut, hehehe.
Kalau ingin menguji kata “pengabdian” jadilah guru honor hehehe… gaji 600rb/bulan dibayar per 3 bulan itupun jika dana BOSDA or BOSPU tidak terlambat cairnya.

Tapi aku senang karena baru beberapa bulan aku bekerja, ada pelatihan di Ujungpandang, yang diminta adalah guru Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan TIK. Untuk mata pelajaran lain tak hanya memiliki satu tenaga pengajar maka kepala sekolah yang memilih siapa yang akan di tugaskan, bahkan ada seorang guru agak marah ketika tidak ditunjuk padahal dia orang Makasar (apa hubungannya ya?). Sedangkan khusus guru TIK hanya aku seorang, maka akulah yang ditunjuk, senangnya tentu aku akan mendapat ilmu baru berhubungan dengan dunia yang aku geluti saat ini, selain itu juga bisa mendatangi daerah yang sama sekali asing bagiku, menyenangkan sekaligus seru walaupun harus pergi dengan rekan-rekan guru senior yang dulu adalah juga mantan guru-guruku.

Banyak kejadian selama 4 tahun sebagai guru honor. Kebayang lagi kejadian ketika masih jadi guru muda yang modal nekat tanpa pengalaman. Hanya bermodal kemauan tanpa dibekali akta mengajar, maklum guru honor yang berasal dari jurusan komputer.

Aku ingat sebuah kejadian ketika jam terakir di kelas 9A (kelas yang dihuni anak-anak berkelakuan “khusus” maksudnya mereka lebih “aktif” dari siswa-siswa yang lain) 🙂

Lagi asyik-ayiknya menjelaskan tentang materi internet, aku bertanya ke seorang siswa “kalau ke warnet ngapai aja?” belum sempat si anak menjawab temannya nyeletuk, “kalau dia sih nggak tahu warnet bu, orang susah”
Weis si anak tersinggung dan dengan sigap melayangkan tangannya ke arah temannya yang nyeletuk tadi. Aku bengong, kelas gaduh.

“STOP…STOP…!!! bla…bla…bla… sudah kalian nggak boleh begitu, ayo salaman saling minta maaf. ”
Akhirnya mereka salaman walau masih dengan wajah tersungut-sungut. Aku pikir sudah selesai, maka dengan tenang kulanjutkan materi hingga bel pulang berbunyi.
Aku berjalan santai keluar kelas, tiba-tiba ada seorang pemuda di depan pintu ruang guru, mencak-mencak!
“Saya tidak terima, kalau adik saya dipukul, dia di sini untuk belajar, kalau dia salah saya yang pertamakali akan menghajarnya, tapi kalau dia tidak salah saya tidak terima.”
Kembali aku bengong, kaya sapi ompong!

Ternyata siswa yang tadi dipukul temannya mengirim sms dan mengadu pada kakaknya. Beberapa Guru senior sudah menenangkan si Kakak yang mengamuk. Merasa bertanggungjawab, aku maju dan menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Si Kakak dan mohon maaf atas kejadian tak menyenangkan tersebut.
Amarahnya mereda mungkin karena melihat kecantikanku. Hoek…hoek… hoek…
“Hei, kamu anaknya Pak X kan? kita SMP seangkatan lho, masa lupa sama aku? Ngajar di sini sekarang?”
“Heeh, iya, lupa-lupa ingat sih, agak pangling, heem.. oh yang itu ya… beda sih sekarang sudah banyak berubah.” Aku berusaha tersenyum semanis mungkin.
Suasana mencair, tak ada lagi raut amarah di wajahnya beberapa menit kami malah bernostalgia masa-masa di SMP dulu, akhirnya dia berpamitan dengan sumringah.
Kakiku lemas, hampir aza diriku dituntut, gara-gara ada si siswa berkelahi di jam pelajaran dan tepat di depan mataku. Memang resiko guru “Bawang” tidak dianggap sama tuh siswa.

4 tahun memang bukan waktu yang singkat, bahkan aku banyak melalui moment indahku di sana. Dari lajang, menikah, melahirkan anak pertama hingga kelahiran anak kedua. Namun, hingga pada satu titik aku merasa masa depanku di sana tak akan berumur panjang karena tak bermodal akta mengajar, maka suami menyarankan untuk ikut test PNS di Kementrian Agama, dan kemudian dinyatakan lulus.

Disatu sisi aku bahagia, tak semua orang bisa lulus pada test pertama sebagai PNS. Dilain sisi tentu ada sedih ketika harus meninggalkan dunia yang sudah lekat dengan keseharianku selama 4 tahun terakhir. Akhir Maret 2011, pensiunlah aku dari status guru. Di hari-hari terakhirku mengajar kupandangi para siswa yang sedang mengerjakan tugas yang kuberikan. Berisik seperti biasa, namun tak sedikitpun membuatku jengkel dan marah, aku malah menitikkan air mata, pemandangan yang tak akan pernah kutemui lagi.

Tapi aku sadar inilah rangkaian perjalanan hidup yang harus kulalui. Hidup terus mengalir namun aku berharap semoga di manapun aku berada bisa memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang-orang yang ada disekitarku.
Sampai detik ini, masih banyak wajah-wajah yang tersenyum menyapa ketika perpapasan di jalan atau bertemu di suatu tempat. Heem… ya mereka adalah mantan siswa-siswaku dulu. Aku memang tak bisa mengingat dengan detail tiap nama si pemilik wajah, namun mereka tetap mengenangku sebagai guru yang pernah mengajarkan ilmu pada mereka. Walaupun pada kenyataannya aku bukanlah guru yang baik. Namun penghargaan mereka membuatku bahagia.

Disini aku bisa merasakan dua sisi kehidupan, menjadi guru yang memiliki siswa, sekaligus menghormati guru-guru yang telah mengajarkan ilmunya padaku (yang kini merupakan rekan kerjaku). Dua sisi Guru dan Siswa, namun sebenarnya kedua bagai keping mata uang yang tak dapat dipisahkan. Guru tak akan disebut guru jika tak ada siswa, siswa pun bukanlah siswa jika tak berguru. saling membutuhkan dan tentunya harus pula saling menghormati dan menyayangi, layaknya orangtua dan anak.

Untuk semua siswa-siswaku, terus belajar yang semangat, Ilmu-Nya tak terbatas, maka pelajarilah sebanyak yang kalian bisa. Raihlah cita-cita setinggi langit…. Kalian bisa jadi apapun yang kalian ingin asal kalian mau berusaha dan berdoa.

Sumber : pelangi-penuhpelangi.blogspot.com

Sumber : pelangi-penuhpelangi.blogspot.com

Salam hormat untuk semua guru di dunia yang telah mendidik dan mengajar serta membagi ilmunya pada manusia-manusia muda. Siswa bisa jadi apapun bahkan bisa jauh lebih hebat dari seorang “guru” seperti Dokter, Pilot, Presiden, dll. Namun guru tetaplah guru, yang melalui dirinya ilmu-ilmu itu bisa menyebar.

Terimakasih untuk semua Bapak dan Ibu Guru yang telah mengajarkanku banyak hal… Semoga apa yang telah Bapak & Ibu lakukan menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir hingga hari perhitungan, aamiin….

Sumber : cupupunya89.blogspot.com

Sumber : cupupunya89.blogspot.com

Jama’ah Oh Jama’ah….

Aku ingin berbagi kisah tentang suka dukaku sebagai PNS, dalam tulisan ini yang diikutkan dalam lomba #8MingguNgeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki minggu ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

Sejak 1 April 2011 lalu aku diangkat menjadi PNS di kementrian Agama Kabupaten Paser. Kebetulan aku di tempatkan di bagian Penyelenggara Haji dan Umroh hingga sekarang. Awalnya kupikir bekerja di kantor itu monoton hanya menghadapi tumpukan berkas dan pekerjaan. Ternyata tidak juga, mungkin karena aku bekerja dibagian pelayanan masyarakat. Ya hampir setiap hari selalu bertemu dengan berbagai tipe orang, dan selalu banyak cerita yang bisa kuambil dan kusimpan dalam bilik memoryku.

Banyak suka dukanya jadi PNS terutama di posisiku saat ini.

Sekedar informasi, waiting list atau daftar tunggu untuk jamaah haji di kabupaten Paser tempatku bekerja kini sudah mencapai 15 tahun. Artinya apa? Artinya adalah jika seseorang mendaftar untuk berangkat haji dengan menyetor setoran awal BPIH sebesar 25 juta, maka baru akan bisa berangkat ke tanah suci 15 tahun kemudian, sekiar tahun 2029. Memang daftar tunggu/waiting list ini bervariasi dimasing-masing kabupaten sesuai dengan jumlah pendaftar dan quota keberangkatan pertahun.

Sebagai PNS sekaligus pelayan masyarakat kami dituntut untuk melakukan pelayanan prima. Dan masyarakat sering menyalah artikan kata pelayanan prima. Maunya mereka bagaimanapun mereka harus dilayani dengan baik dalam arti kata tanpa mengikuti prosedur pun tak mengapa.

Contoh kasus, saat ini untuk pendaftaran haji di daerah kami sudah online. Jadi masyarakat yang mendaftar dituntut untuk melengkapi semua persyaratan sebelum mendaftar. Seperti membuka tabungan haji, membawa fhotocopy KTP, Kartu Keluarga dan Akte kelahiran atau buku nikah. Seringkali datang tanpa membawa persyaratan yang lengkap namun ingin segera didaftarkan. Tentu kami harus jelaskan sebaik mungkin bahwa kami harus melihat semua data yang bersangkutan untuk menghidari kesalahan input data, yang bisa berakibat tak baik dikemudian hari.

Yang seringkali terjadi adalah calon Jamaah haji (kami menyebut orang yang sudah mendaftar haji sebagai calon jamaah haji) datang ke kantor, ingin mengetahui kapan waktu keberangkatannya. Setelah dilihat di daftar calon jamaah haji, nama dan nomor porsi yang bersangkutan masuk pada tahun misalkan 2018. Sudah puaskah jamaah dengan jawaban tersebut? Oh tentu belum. Kira-kira begini dialognya

Jamaah (J) : “Saya ingin tahu tahun berapa kami berangkat bu, ini nomor porsinya.”
Petugas (P) : “Tunggu sebentar ya Bu, kami carikan dulu. Oh ini Bu, perkiraan tahun keberangkatan ibu tahun 2018.”
J : “Lho kok lama betul Bu, kami sudah 4 tahun mendaftar.”
P : “Iya Ibu mendaftar tahun 2009 bulan desember, ini berdasarkan quota pertahun hanya 231 orang sedangkan pendaftarnya banyak.”
J : “Ah, tetangga saya daftar di tahun yang sama katanya 2016 berangkatnya.”
P : “Iya, bisa jadi bu.”
J : “Kok bisa begitu, nggak adilkan kita daftar sama-sama, kok dia bisa duluan, selisih 2 tahun lagi.”
P : “Iya, memang selisih bulan saja bisa selisih tahun karena banyaknya pendaftar saat itu. Pendaftaran tahun 2009 itu memang terbagi jadi 4 tahun bu, dari 2015-2018 karena jumlah pendaftarnya hampir 1000 orang padahal setahunnya hanya 231 orang. Semua urutan dibuat berdasarkan waktu pendaftaran bu, siapa yang duluan daftar Insya Allah duluan berangkatnya.”
J : (menghela nafas panjang…) “Kalau ada yang mundur, bisakan kita gantikan Bu?”
P : “Maaf Bu, jika ada yang batal/mundur otomatis semua nomor antrian di bawahnya naik, tapi tidak bisa loncat, semua sesuai dengan urutan antriannya.”
J : “Tapi sudah saya lunasi Biaya Haji Saya Bu, sudah ada 40 juta di bank.”
P : “Maaf Bu, pelunasan hanya bisa dilakukan pada tahun keberangatan yang bersangkutan, itu juga ada waktunya. Uang yang di rekening Mentri Agama hanya sejumlah setoran awal BPIH, 25 juta, sisanya masih direkening Ibu, bisa diambil sewaktu-waktu.”
J : “Heemm… pokoknya kalau saya bisa maju telpon saja nomor HP saya ya Bu.” (menulis nomor HP disebelah namanya pada daftar keberangkatan).
P : (hanya tersenyum miris)

Lain kasus, seorang wanita yang mengaku berusia 60-an tahun datang menemui kami.
Skenario awal, tetap bertanya kapan tahun keberangkatannya, dan parahnya tak membawa nomor porsi, jadi kami harus meraba-raba dari 3500-an nama yang ada di daftar. Mau ditolak dan suruh ambil nomor porsi dulu juga nggak tega, akhirnya setelah beberapa menit berlalu….

P : “Oh, ini, nama Ibu Binti Fulan kan Nek?”
J : “Iya betul, tahun berapa Nak?”
P : (meneguk ludah) ”Ttahun 2024 Nek.”
J : “Hah! Mungkin aku sudah mati Nak… tanpa sempat melihat kabbah. (dengan ekspresi sedih)”
P : (berusaha menenangkan) “Sabar saja Nek, inikan cuma perkiraan, kita nggak tahu ke depannya nanti. Yang jelas kan Ibu sudah daftar, niatnya sudah sampai. Sebagai manusia kita sudah berusaha, masalah sampai atau tidaknya ke tanah suci, Allah yang akan menentukan.”
J : “Nenek ini sudah sakit-sakitan, kalau berjalan saja lututnya sudah sakit, aduuh…”
P : ‘Banyak-banyak berdoa aza nek, kalau manusia katakan belum bisa berangkat, tapi kalau Allah yang memanggil bisa saja nenek.”
J : “Masa tidak ada jatah untuk yang sudah tua seperti nenek ini?”
P : “Memang beberapa tahun ini ada kebijakan pemerintah untuk jamaah lansia Nek, tapi tergantung quota juga, tahun 2011 dapat tambahan quota kab. Paser dapat 24 orang, paling muda 74 tahun, sedangkan tahun lalu 2012, tidak ada tambahan quota hanya sisa jamaah yang tidak melunasi dibagi untuk lansia diranking se Kaltim, cuma dapat 6 oang yang paling muda berusia 87 tahun, tahun ini kami belum tahu kebijakan tentang lansia ini.”
J : Hiks…hiks…Hiks… (Si nenek hanya menangis sesegukan, dan kami hanya bisa menenangkan.)

Dilema ya? Jika harus menyampaikan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti itu. Jujur saja, saya jauh lebih senang jika harus menyampaikan kabar bahagia. Seperti tahun 2011 ketika kabupaten kami mendapat 24 jamaah untuk quota tambahan yang dikhususkan untuk lansia. Dengan suka hati saya hubungi satu persatu walau tak ada alokasi dana pulsa dari kantor (hahah…) sambutan bahagia dari seberang telpon lebih berharga dari ribuan rupiah yang saya keluarkan untuk biaya pulsa.

P : “Maaf pak, kami dari kemenag bag. Haji betul ini atas nama Pak Fulan?”
J “ Saya anaknya Bu, ada apa?”
P : “Oh, begini Pak, Pak Fulan masuk dalam daftar quta tambahan untuk lansia tahun ini, artinya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini.”
J : “Masa sih Bu, kemarin kami cek, masih 7 tahun lagi baru bisa berangkat.” (khawatir modus penipuan)
P : “Iya, tapi ada tambahan quota untuk jamaah lanjut usia Pak. Jadi bisa berangkat tahun ini. Bapak silakan mendatangi kantor kemenag bag. Haji untuk keterangan lebih lanjut pak, kami tunggu secepatnya, karena masa pelunasan hanya 3 hari kerja.”
J : “Oh, Alhamdulillah Bu, terimakasih atas informasinya. Nanti saya akan datang ke kantor.”
P : “Sama-sama Pak.”
2 hari kemudian.
P : “Pak, maaf apakah Pak Fulan mempunyai istri atau anak yang juga sudah mendaftar haji?”
J : “Oh ada bu, Ibu saya juga mendaftar haji sama Bapak, tapi kemarin nama Ibu tidak ada di daftar karena memang masih 60an.”
P : “Oh iya, begini pak, kami akan berusaha mengusulkan Ibu sebagai mahram pendamping Pak Fulan, sehingga bisa berangkat sama-sama tahun ini.”
J : “Benarkah Bu? Alhamdulillah Ibu saya pasti senang sekali mendengar berita ini.”
P : “Ini masih kita usulkan Pak, semoga disetujui kanwil, karena memang ada jatah untuk pendamping lansia, untuk itu kami minta bukti setoran awal BPIH Ibu untuk keperluan pengusulan tersebut.”
J : “Baik… baik bu, nanti saya antarkan ke kantor.”

Setelah diusulkan, pada hari terakhir pelunasan, sang istri sudah bisa melunasi BPIH. Berceritalah sang anak kepada kami.

“Ketika saya sampaikan kabar bahwa Bapak bisa melunasi dan berangkat haji tahun ini, Bapak dan Ibu bahagia sekali, tapi Ibu bertanya kenapa cuma Bapakmu, padahal Ibu setiap hari berdoa supaya kami berdua berangkat bersama, saya cuma bilang ya memang begitu kebijakannya Bu. Ketika nama ibu diusulkan dan bisa berangkat dengan Bapak, kami semua bahagia dan bersyukur atas kemurahan Allah SWT, yang pasti akan mengambulkan doa-doa hamba-Nya.”

Begitu pemurahnya Allah, tak ada yang sulit bagi-Nya, teruslah berdoa dan yakin penuh harap atas terkabulnya doa, Allah tak pernah mengecewakan hati hamba-hambanya yang dengan tulus meminta. Ketika panggilan itu datang, tak ada yang bisa menduganya.

Kami hanya tersenyum turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan keluarga ini. Kami selalu berusaha mencari peluang agar semakin banyak jamaah yang bisa menunaikan Ibadah haji, namun juga tak boleh melanggar aturan dan hukum yang telah ditetapkan, iyakan?

Lain kasus, seorang Ibu sebut saya Fulanan, akan berangkat haji tahun 2012 yang lalu. Beliau sudah mengikuti pertemuan pra manasik dan manasik berkali-kali, namun ketika masa pelunasan beliau tidak melunasi pada waktu yang ditentukan dengan alasan tidak tahu, miris kan?

Tentu kami yang “disalahkan” ketika ada jamaah yang tidak bisa melunasi dengan alasan tidak tahu. Memang Kabupaten kami sangat luas dan tidak memungkinkan jika kami mendatangi jamaah satu persatu, tapi kami sudah menyampaikan ke KUA Kecamatan bersangkutan tempat sang Ibu tadi berdomisili, dan petugas KUA sudah mendatangi rumanhya, namun kebetulan tak bertemu dengan sang Ibu dan hanya menyampaikan pesan pada tetangga.

Saya sendiri bahkan sudah menelpon berkali-kali nomor anak sang Ibu, yang seringkali tak aktif. Akhirnya saya mencoba untuk sms. Sang anak mengaku kalau HP-nya memang sering error dan tidak bisa digunakan untuk menelpon, jadi kami hanya berkomunikasi melalui sms. Saya sudah sms berkali-kali masalah batas akhir pelunasan tersebut, namun sang anak mengaku masih menunggu kiriman untuk biaya pelunasan. Kami sudah menyarankan agar yang bersangkutan datang saja ke kantor, kami bersedia membantu “meminjamkan” dana jika memang masih kurang dan kiriman belum datang. Namun sang Ibu dan anaknya tak juga kunjung datang. Sampai pada sehari setelah tanggal batas akhir pelunasan mereka datang ke kantor membawa sejumlah uang yang sedianya akan digunakan untuk biaya pelunasan setoran haji.

Sang Ibu menangis sejadi-jadinya ketika kami sampaikan sudah terlambat untuk pelunasan, dan Si Ibu dipastikan tak bisa berangkat tahun ini. Ia menyesalkan mengapa tak diberitahu, padahal uangnya itu sudah ada jauh-jauh hari sebelum pelunasan. Kami bingung, karena cerita bertolak belakang dengan yang disampaikan via sms oleh sang anak. Sang anak hanya diam dan memilih keluar ruangan. Usut punya usut ternyata uang sang Ibu digunakan dulu oleh sang anak dan kesulitan ketika saat pelunasan uang tersebut belum terkumpul.

Sang Ibu tentu sakit hati pun malu dengan para tetangga yang telah tahu beliau akan berangkat tahun ini, kami pun tak ingin disalahkan karena kami sudah berusaha menghubungi. Namun kita tak perlu mencari siapa yang salah, kami hanya berusaha menenangkan sang Ibu, mencari hikmah dalam setiap masalah, dan meyakinkan Allah punya rencana yang indah buat sang Ibu di tahun depan.

Ya, ibadah haji memang merupakan panggilan dari Allah. Diluar aturan manusia Ia yang menetukan siapa-siapa saja yang bisa menemui-Nya di tanah Suci. Kita tak tahu skenario yang ia tulis untuk tiap-tiap hamba-Nya agar bisa sampai dan menginjakkan kaki ke rumah sucinya di Baitullah.

Setiap melepas jamaah pergi, akupun selalu bertitip pesan untuk mendoakanku agar bisa juga menginjakkan kaki ke tanah suci, melaksanakan ibadah haji, menunaikan rukun Islam ke-5.

Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, Innal haamda wanni’mata lakaa wal mulk, laa yarii kalak. Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah, aku datang memenuhi paanggilaan Mu, aku datang memenuhi panggilan Mu tidak ada sekutu bagi Mu, aku datang memenuhi panggilan Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan segenap kekuasaan adalah milik Mu, tidak ada sekutu bagi Mu.

Berharap suatu hari nanti bisa beribadah di sana

Berharap suatu hari nanti bisa beribadah di sana

WISUDA OH WISUDA….

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #8MingguNgeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki minggu ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

Aku ingin berbagi tentang masa kuliahku, yang menurutku selalu menyimpan dua sisi dilematis.
Aku kuliah di awal tahun ajaran 2001 di sebuah PTS di Yogyakarta, mengambil jurusan S1-Sistem Informasi. Aku lalui masa-masa awal kuliah dengan penuh semangat dan giat belajar, karena membawa cita-cita dan harapan orang tua di kampung halaman. Dan bukan bermaksud sombong (hehehe) aku termaksud mahasiswa “cerdas” di kelasku. Di semester 2 aku sudah bisa mengambil mata kuliah semester 4, gabung dengan kakak tingkat, karena nilai IP-ku di atas 3. Semester pendek pun tak kulewatkan untuk mengambil mata kuliah di semester atas. Sehingga di semester 3 aku menjadi asisten praktikum, dan mengasisteni teman-teman sekelasku, keren kan? Aku bisa memberi nilai praktikum untuk teman-teman sekelasku yang sebagian besar memang belum mengambil mata kuliah tersebut.

Aku punya sosok idola, seorang Kakak tingkat, beda jurusan. Seorang wanita yang tidak hanya cerdas tapi juga aktif di organisasi dakwah kampus, dan lulus dengan nilai tertinggi dan cumlaude dalam waktu 3,5 tahun. Aku terpacu ingin sepertinya.

Sumber wahanacorp.blogspot.com

Sumber wahanacorp.blogspot.com

2002, di awal semester 3 akupun aktif menjadi pengurus LDK sebagai sekretaris, hingga 2 periode kepengurusan dan tetap aktif hingga aku lulus. Menjadi asisten beberapa praktikum, dan mengambil kuliah 24 sks. Hari-hariku terasa berlalu dengan cepat namun menyenangkan dengan berbagai kesibukanku.

2004, Di tahun ke-3 sudah hampir semua mata kuliah kuambil. Jika aku bisa menyelesaikan skripsi dalam 1 semester, impian lulus dengan nilai cumlaude akan terwujud. Tapi siapa sangka perjalanan yang seharusnya menyisakan beberapa langkah, harus tersendat.

Tugas Akhir atau Skripsi menjadi batu sandungan bagiku. Kenapa? Sebegitu susahnyakah membuat skripsi? Kalau di kampusku, untuk skripsi jurusan SI, kami harus membuat sebuah program aplikasi. Saat itu dosen pembimbingku menyarankan untuk membuat SPK, Sistem Penunjang Keputusan, perakitan komputer. Jadi aku harus pula belajar, prosessor tipe ini cocok dengan motherboard tipe apa, dan RAM jenis apa. Dan aku mengabiskan 4 semester hanya untuk mengerjakan skripsi tersebut.

Pernah membayangkan nggak, seolah lomba lari di awal garis start kita sudah melesat cepat meninggalkan peserta lain, begitu mendekati garis finish tiba-tiba terjatuh dan dilewati oleh peserta lain yang akhirnya memenangkan lomba dan menyelesaikan lebih dulu. Begitulah perasaanku.

Mereka yang wisuda terlebih dahulu, teman-teman yang biasa bertanya tugas padaku, teman-teman yang pernah aku asisteni, teman-teman yang hemm… pernah tertinggal jauh dibelakangku.

Dan lebih sakitnya lagi, tak semua mahasiswa yang wisuda (artinyawisuda karena telah menyelesaikan skripsinya) membuat skripsinya sendiri. Dengan mengeluarkan beberapa ratus ribu, mereka dapat membeli program. Atau bermodal SKSD mereka mendekati senior-senior yang jago programming, dengan modus belajar, tapi 90% programnya dibuatkan.

Ah, tapi aku yakin tak semua seperti itu, masih ada yang berusaha lulus dengan usaha sendiri, walau tak menapik bahwa kita butuh bantuan orang lain, baik itu berupa dukungan semangat atau sharing code program 🙂

Apakah untuk mewujudkan keinginanku akupun turut mengambil jalan pintas? Toh tak susah dan tidak seberapa biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan biaya kuliah dan biaya hidup selama menempuh pendidikan yang tidak selesai-selesai ini. Apalagi ketika desakan-desakan dari pihak keluarga menderaku. Adikku yang masuk kuliah tahun 2001 sama denganku, saja sudah menyelesaikan kuliahnya tahun awal tahun 2005.

Tapi benarkah itu yang aku inginkan? Lulus cepat namun tertunduk malu tanpa bisa tersenyum bangga atas perjuanganku untuk mencapainya? Namun syukurlah Ayah memberi dukungan besar padaku, untuk meneruskan perjuangan yang telah kumulai, tanpa rasa ragu.

2005, melihat angkatan pertama di kelasku lulus, aku mengelus dada. Belum waktunya aku harus lebih bersabar dan harus lebih semangat berjuang.

Melihat angkatan kedua di kelasku lulus aku mengusap wajah. Usahaku belum maksimal, tak boleh putus asa, terus melangkah dan semangat.

2006, melihat angkatan ketiga di kelasku lulus, ah sudahlah! Aku harus tetap fokus lupakan cita-cita lulus dengan predikat terbaik. Yang penting aku lulus namun dengan senyum bangga, karena aku lulus dengan perjuanganku, melalui malam-malam yang kuhabiskan di depan komputer, mengutak-atik baris-baris code C++ yang seringkali error, melalui serangkaian demo-demo program yang seringkali di tolak dosen. Naskah yang seringkali kembali dengan coretan di sana-sini.

Hingga pada satu titik aku merasa program sudah oke, dan demo di depan dosen pembimbing, Pak dosen yang terhormat meminta menambahkan beberapa fitur. Hahaha “Pak…Pak… kok ya tega.” hiks..hiks… Jika tambahan fitur yang diminta berhasil kuselesaikan, skripsiku bisa di acc kan Pak? Okelah kalau begitu SEMANGAT!!!!! Ini target kali ke-4 ku, semoga tidak bernasib sama dengan target-target sebelumnya. aku punya waktu 6 bulan sebelum wisuda tahap selanjutnya.

Oke, aku kembali menatap dan berkonsentrasi mengedit baris-baris kode programku hingga tengah malam. Ketika subuh meluluhrantakkan Yogya dengan guncangan yang dasyat. Aku terhenyak. Semangat yang dengan tertatih kubangun, seolah hancur seketika bersama bangunan-bangun yang diluluhrantakkan oleh gempa berkekuatan 5,9 SR pada tanggal 27 Mei 2006 itu.

Sumber katakamidotcom2.wordpress.com

Sumber katakamidotcom2.wordpress.com

Beberapa saat kami harus melalui masa recovery. Tak hanya bangunan yang direhab. Semangatku yang tadi tengah berapi-api kemudian seolah padam tersiram air pun harus sedikit demi sedikit kunyalakan kembali. Tapi tak ada waktu untuk berkeluh kesah dan menyalahkan keadaan. Tak ada alasan untuk menjadi lemah dan menyurutkan langkah seberat apapun masalah yang menimpa. Bahkan aku mempunyai seorang sahabat Dwi Sukistyaningsih, ketika malam sebelum musibah gempa itu menginap di kostku untuk menggarap skripsinya, bermodalkan laptop pinjaman dari sepupunya. Komputernya rusak tak berbentuk bersama runtuhnya rumahnya di imogiri Bantul. Ibunya yang renta pun menjadi salah satu korban, yang syukurnya masih bisa diselamatkan. Tapi toh ia, tetap bisa bangkit dan menata hidupnya walau hanya tinggal di gubuk seadanya. Diantara puing-puing rumahnya aku tetap bisa melihat semangat yang memancar di wajahnya.
Mungkin benar kata pepatah, selalu ada hikmah disetiap ujian. Buktinya November 2006 aku dan dia akhirnya bisa lulus dan wisuda, sekalipun harus merasakan musibah gempa beberapa bulan sebelumnya.

Aku memang tak meraih impianku untuk lulus dengan predikat cumlaude. Akupun harus menukar banyak biaya dan waktu untuk kuliahku tapi aku mendapatkan hal yang sebanding bahkan mungkin jauh lebih berharga. Aku punya masa-masa yang indah dan penuh perjuangan di LDKku yang kuceritakan minggu lalu dengan tema cinta pertama. Aku mendapatkan banyak pelajaran berharga, salahsatunya adalah menikmati sebuah proses, tujuan bukanlah akhir, namun proses yang benar membuat kita jauh lebih bijak dalam menyikapi kehidupan. Aku yakin Allah tak pernah menyia-nyiakan setiap tetes keringat dalam usaha dan perjuangan yang kita lakukan, akan selalu ada buah yang akan kita petik suatu saat nanti.

Cinta Pertama Takkan Pernah Mati

Ini cerita keduaku tentang cinta pertama (hehehe, cinta pertama kok dua?). Tulisan ini diikutsertakan lomba #8minggungeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mammiri, minggu ke-5.

Entah bagaimana perasaan cinta itu bermula yang jelas tanpa kusadari aku sudah terjatuh dalam kubangan yang penuh dengan cinta, semakin kumeronta semakin ku terjerat. Mau tak mau tak ada pilihan lain aku, memilih untuk menerima kondisi itu.

Tanpa kusadari ternyata cinta pertamaku ini tumbuh seiring waktu. Beberapa saat cinta itu seolah hilang, tapi sebenarnya ia hanya sedang bersembunyi untuk kembali dengan rasa yang lebih dari sebelumnya. Cinta yang bermulai ketika aku masih gadis ingusan di Sekolah Dasar berseragam merah putih hingga kini wanita dewasa berseragam hijau. Kini kusadari cinta itu masih sama dengan kadar yang jauh lebih besar.

I LOVE WRITING

Gambar diambil dari sini

aku cinta pada dunia tulis menulis. Walau kuakui cintaku belum layak disejajarkan dengan kecintaan para penulis hebat. Cintaku berawal dari minimnya kemampuanku untuk mengungkapkan perasaan secara verbal. Aku orang yang pendiam, tak mudah akrab dan kuper. Aku bisa betah berjam-jam tidak bicara sepatah katapun (soalnya nggak ada orang lain sih, hehehe…) tapi walau bagaimanapun aku butuh sarana untuk mengeluarkan uneg-uneg, keluh kesah dan pikiranku tentang banyak hal. Ya jadi bisa dikatakan cinta pertamaku ini berawal dari sebuah pelarian, wujud ekspresi jiwa yang mencari muaranya.

ketika SD aku pernah ikut lomba mengarang mewakili sekolah, memang belum menang sih, tapi aku merasa Guruku memberiku kesempatan untuk menulis. Itu sesuatu yang menumbuhkan kepercayaan diriku. Pada saat aku remaja (SMP-SMA) sering sekali membaca majalah ANITA, ANEKA dan CERIA. Membaca majalah-majalah itu membuatku ingin pula membuat cerpen. Tapi kau tahu pasilitas pada saat itu tak semudah sekarang. Namun tak ada yang menyurutkan langkahku. Kebetulah Bapakku yang seorang guru, memiliki sebuah mesin tik manual. Entah aku lupa apakah itu milik pribadi atau barang inventaris kantor, yang jelas mesin tik itu ada di rumahku.

Karena waktu sekolah dan lain-lain di siang hari begitu padat, aku memilih mengetik di malam hari. Dan ada yang perlu kusampaikan tentang keluargaku. Ibu dan adikku selalu tidur cepat ketika malam, ya paling setelah Isya mereka sudah mulai bersiap tidur. Dan Ayahku seringkali keluar rumah di malam hari. Nah saat rumah sepi inilah kesempatanku untuk bercinta dengan hobbyku tanpa gangguan. Tapi tentu saja aku juga harus mempertimbangkan kenyamanan tidur Ibu dan adikku. Kalian tahukan bagaimana berisiknya suara mesin tik? Maka aku memilih mengetik di dapur, kualasi mesin tik dengan berlapis-lapis kain maksudnya untuk meredam suaranya. Entah itu ide darimana.

Saat itu, untuk menghasilkan sebuah cerita yang terdiri dari beberapa lembar halaman, sangat sulit bagiku. Bukan… bukan masalah idenya, tapi masalah kerapiannya. Salah beberapa baris, harus diulang dari awal, salah memperhitungkan pengetikan pada margin kanan pun berakibat naskah yang tak rapi. Maklum tidak secanggih komputer saat ini, kalau salah tinggal di blok dan “delete” selesai. Margin tak rata, tinggal klik icon Justify, beres. Dan satu lagi yang kusayangkan aku tak memiliki arsip naskah-naskah itu. Walaupun belum ada satupun yang dimuat dimajalah itu tak masalah, yang penting aku sudah menulis iya kan?

Akhirnya aku mencari pelarian lain yang mungkin sedikit lebih gampang. Tetap ingin menulis tak hanya dibuku diari yang hanya dibaca sendiri. Tapi bisa berbagi dengan orang lain. Apakah itu? Eng..ing…eng… surat menyurat ya, korespondensi.

Korespondensi

Dengan begitu aku tetap bisa menulis apa yang aku pikirkan dan tetap bisa dibaca oleh orang lain, tak perlu ribet menggunakan mesin tik lagi, cukup bermodalkan kertas, amplop dan pulpen, bisa ditulis tangan, hehehe…

Teman-temanku banyak tersebar di seluruh Indonesia bahkan ada yang di Cairo mengikuti Ayahnya bekerja di kedutaan. Ya walau tak semua awet, ada yang hanya sampai 2 atau 3 kali saling berkirim surat dan akhirnya berakhir diterpa kesibukan. Ya pasti ada yang lolos seleksi yang dinobatkan sebagai sahabat pena sejati. Seorang teman dari Jakarta dan seorang lagi dari Blitar lah pemenangnya surat yang kami kirim tak hanya selembar memberi kabar dan bertanya kabar, bisa berlembar-lembar dan bercerita banyak hal. Ya sampai aku melanjutkan kuliah di Yogya kami masih saling berkirim kabar, tapi seiring berkembangnya teknologi HP dan Internet, hubungan kami malah merenggang. Mungkin kesibukan dengan dunia masing-masinglah penyebabnya. #Carialasan Mode :ON

Selama kuliah aku sedikit melupakan cintaku ini, mungkin sedang jatuh cinta pada cinta yang lain seperti kutulis di sini. Hanya menulis beberapa surat untuk teman-teman seorganisasi, menulis surat undangan kegiatan, Proposal, LPJ kegiatan dan LPJ kepengurusan, heem… maklum lah 2 periode berturut-turut aku menjadi sekretaris UKM. Namun, ada sebuah tulisanku yang paling fenomenal dan cetar membahana bahkan untuk penyelesaikannya aku membutuhkan waktu tak tanggung-tanggung hampir 2 tahun, dan berisi ratusan halaman, aku lupa tepatnya. SKRIPSI alias tugas akhir ya, itulah hasil karya fenomenalku, hehehehe…

Setelah menikah tahun 2007 aku baru memiliki blog, dan akhirnya kembali fakum ketika kelahiran putra pertama, sebenarnya banyak yang ingin kutulis namun, 24 waktu telah tercurah penuh pada sang buah hati. #carialasan Mode : ON.
Namun tahun 2011 lalu, cinta lama persemi kembali saat waktu senggang membawa kerinduan akan cinta pertamaku ini. Ditambah fasilitas yang mendukung, ada waktu luang di antara waktu kerja di kantor. Kumulai memenuhi kerinduan itu dengan searching lomba menulis, dan kutemui banyak lomba menulis antologi yang seketika membakar adrenalinku. Bermulailah kembali petualanganku didunia menulis, dengan berburu lomba antologi dan mengerjar DL. Ada semangat yang menggebu ketika berpacu dengan waktu mengejar dead line lomba. Aku menemukan cinta yang kukira sudah mati.

Kuakui aku bukanlah penulis hebat, kemampuanku menulis masih jauh dibawah rata-rata. Frekuensiku menulis pun masih minim. Akupun sering kehabisan kata atau bingung ketika memulai kata pertama ditiap tulisanku. Dan aku hanya melakukannya disela-sela kesibukanku dan kewajiban utama sebagai seorang istri dan ibu dari 2 anak, serta pegawai kantoran. Tak mengapa! Karena bagaimanapun aku punya cinta. Heemm mungkin benar kata orang cinta pertama takkan pernah mati.

Ada yang komentar ketika aku sedang berpikir keras mencari ide tulisan “Kenapa sih nyari hobby yang susah, pake mikir berat.” Hahaha… iya, sejatinya hobby untuk melepas ketegangan dan membuat kita rileks dan santai. Tapi jika hobby membawa perasaan senang, disitulah hobbyku kesenangan yang unik ketika berhasil menyelesaikan sebuah tulisan, walau harus diawali dengan kerutan-kerutan di dahi, namun diakhiri dengan senyum lebar di bibir dan rasa lega di hati. (Walau ditambah rasa pegal di bahu dan rasa lelah di mata yang menatap layar monitor, no problem because I’am Happy…)

Begitupun tulisan ini, kuakhiri dengan tersenyum lebar dan rasa lega serta bahagia di hati.