Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

Rumahku Di Desa yang Kucinta

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama dengan tema “Disekitar Rumahku”. Sebenarnya ingin mengasah kemampuan menulis dan meramaikan kembali blogku yang telah lama mati suri. Kesibukan, tak ada waktu, dan tak ada ide pun menjadi alasan mati suri itu. harapanku dengan adanya 8 Minggu Ngeblog ini “sekali dayung 2-3 pulau terlampaui”, ya mengasah kemampuan menulis, meramaikan blog dan syukur-syukur dapat hadiah, hehehehe.

Aku tinggal di pelosok Kalimantan timur tepatnya di kabupaten Paser, Kecamatan Tanah Grogot, Desa Jone. Bisakah teman-teman bayangkan bagaimana lingkungan disekitar rumahku? Jika mendengar kata desa tentu identik dengan rumah kayu dan pepohonan yang masih rimbun. Ya begitulah kira-kira, disekitar rumahku terdapat banyak pepohonan, dari pohon bambu, sungkai, rambutan, nangka, belimbing, pisang, kopi, kecapi, kelapa dan jeruk. Dari sekian banyak pohon tadi, pohon rambutanlah yang menjadi favorite terlebih pada musim rambutan karena buahnya yang manis dan lebat. Seringkali Ibu membagi-bagikan buahnya pada sanak family dan teman kerjanya.

Selain pepohonan yang rindang tersebut, tentu ada pula tetangga. Namun yang unik tetangga rumahku semua adalah keluarga. Sebut saja rumah kakek nenekku, rumahku dan 3 rumah paman-pamanku berderet disepanjang jalan sekitar 140 meter. Maklum kami membuat rumah di tanah keluarga, warisan dari kakek nenekku. Ada suka dukanya sih punya rumah di tanah keluarga. Sukanya ya, kalau mau ketemu nenek, paman, tante atau sepupu-sepupu tidak jauh. Kalau ada apa-apa juga dekat menghubungi keluarga. Tumbuh besar di antara kehangat sebuah keluarga besar. Tapi ada juga sedikit ”duka”nya, aku nggak bisa cerita ke teman-teman liburan sekolah “berlibur ke rumah nenek” ya karena itu tadi, rumah nenek cuma di sebelah rumah. Sedangkan nenek dan kakek orangtua dari ibu sudah lama meninggal.

Di depan rumah kami, ada jalan yang lumayan besar, satu-satunya jalan menuju pelabuhan kecil di ujung desa. Dulu sekali jalanan itu sangat sepi, kiri kanan jalan sebagian besar adalah hutan dan hanya sesekali jalan itu dilewati mobil atau motor. Namun saat ini, sangat berbeda jauh. Aku bahkan masih sering terkaget-kaget jika mendapati jalanan tersebut macet dengan banyaknya mobil, motor dan truk-truk besar yang melaluinya. Seiring dengan berkembangnya pembangunan di daerahku, dan dibangunnya beberapa perumahan disekitar daerah desaku, turut memberi perubahan pada wajah lingkungan rumahku. Lampu-lampu jalan pun mulai di pasang dan mampu memberi penerangan yang lumayan membantu ketika malam tiba.

Teman pernah dengar lagu God Bles berjudul “Rumah Kita”? yang lirik lagunya berikut ini :
Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita, sendiri
Hanya alang alang pagar rumah kita
Tanya anyelir, tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita
Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya
Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita
Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Semuanya ada disini
Rumah kita
Rumah kita

Bagiku begitulah rumahku, di desa jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota besar. Beratap sirap, berdinding dan berlantai kayu. Namun, aku tak pernah menyesal dilahirkan dan tumbuh besar di rumah ini. Ayah, ibu dan 3 orang adikku saling berbagi kasih sayang di sini. Rumah yang memberi banyak kehangatan dan arti kebersamaan dalam sebuah keluarga.

Pepohonan di samping rumahku

Pepohonan di samping rumahku

Iklan

25 Komentar

  1. Gw berani blang kalo desa lebih asyik..
    Saya jg tnggal d desa.. Lebih tenteram.

    Yah gitulah kalo di desa keluarganya. Berdekatan semua……
    😉

    • Aisyah Prastiyo

      Betul… betul… lebih nyaman dan tentram. Sesama “orang desa” harus saling mendukung ya Masbro, hehehe…
      Terimakasih Mas, sudah berkunjung, salam kenal 🙂

  2. Ada enak dan tidak enaknya kalau tinggal berdekatan dengan keluarga besar. Tapi pasti lebih banyak enaknya

    • Aisyah Prastiyo

      Ya begitulah… hehehe.. makasih sudah berkunjung ya, salam kenal.

  3. Enak yahh tetangga dengan keluarga besar. Hubungan kekeluargaan semakin akrab dan harmonis..Salam dari Sulawesi.hehhe

    • Aisyah Prastiyo

      Salam kenal juga dari Kalimantan Mba, Btw, di sini banyak loh orang-orang dari Sulawesi 🙂

  4. Kok aku malah membayangkan rumah peristirahatan ya baca gambaran tentang rumahmu….tenang, damai, jauh dari hiruk pikuk….asyik…tentram…. Duh, jadi pingin liburan

    • Aisyah Prastiyo

      Ya hampir begitulah Mba. dulu saya bete tinggal di kampung, pas kuliah di Yogya, melihat kepadatan lalu lintas setiap hari, pusing juga. Lulus kuliah kembali ke kampung deh. Dapat suami orang Yogya kelahiran Jakarta, katanya enak tinggal di sini, beda jauh dengan Jakarta yang macet dan bising, hihihi.

  5. Selalu asyik membayangkan lingkungan seperti ini lho mbak karena saya lahir dan besar di kota (yang cukup) besar (Makassar). Senang kalau bertandang ke kampung yang berderet2 rumah keluarga semua 🙂

    Btw, pohon sungkai itu apa ya?

    Jadi ingat, kayaknya ada yang pernah bilang ada keluarga di Tanah Grogot, tapi lupa keluarga yang mana …. *payah*

    Sukses ya mbak 🙂

    • Aisyah Prastiyo

      Makasih Mba sudah bertandang ke rumahku 🙂
      Kayu sungkai, kalau saya cari di internet biasanya tumbuh di Sumantra, Kalimantan dan Jawa, berarti di Sulawesi memang nggak ada mba, hehehe.. pohonnya tinggi besar, tapi kalau musim kemarau daunnya rontok sendiri dan tumbuh lagi di musim hujan.
      Memang di Tanah Grogot ini banyak orang dari Sulawesi Mba. jadi kemungkinan besar ada keluarga Mba Mugniar di sini, hehehe

  6. Wuaaa, jadi inget kampoeng halaman, 😥

    nice post

    • Aisyah Prastiyo

      Makasih sudah berkunjung… kapan-kapan pulanglah ke kampoeng halaman, mengobati kangen 🙂

  7. Sun

    pengen liat fotonya, pst adem…

    • Aisyah Prastiyo

      Wah, belum sempat difoto neh, ntar tak foto pohonnya aza ya biar adem, hehehe

  8. Tinggal di Jone ya? dulu aku sempat setahun lebih di Grogot juga lho, tapi di Modang, jauh dari kesan sepi he he.. baca postingan ini jadi kangen Grogot, kangen mancing dan makan salak plus rambutan sepuasnya di argo wisata, kangen semuanya….

    • Aisyah Prastiyo

      Pernah di Grogot Mba? Ya kalau di Modang sih bisa di bilang pusat kota, hehehe apalagi sekarang. Sekarang tinggal di mana?
      Iya, kalau Mba ke argo wisata pasti lewat depan rumah saya. kalau kangen mainlah ke Grogot, jangan lupa mampir ya Mba, hehehe.

  9. tinggal di Kalimantan yaaa? saya punya impian untuk mengunjunginya. katanya masih ‘alami’. ternyata sudah banyak perumahan dan jadi padat seperti kota besar ya ^^
    semuanya ada di sini… rumah kita sendiri …

    Oiya, kunjungi kisah saya juga ya 🙂 http://argalitha.blogspot.com/2013/04/sekitar-rumah-ada-banyak-jasa.html
    saya tunggu loh. Kalau bisa diberi kritik saran juga. Terima kasih banyak ^^

    • Aisyah Prastiyo

      Sudah berkunjung mba, ke rumah Mba, tapi pake nama Shasha 🙂
      Ayo Mba, berkunjung ke kalimantan, tapi ya kalau kota besarnya juga udah padat, ke desanya dong, hehehe.
      makasih ya mba dah berkunjung ke sini, salam kenal. 🙂

  10. Impian saya tuh mbak ^^ tinggal dan membangun rumah di desa…

    • Aisyah Prastiyo

      Semoga impiannya terwujud mba…. Makasih sudah berkunjung.

  11. wuih, saya berkunjung ke Kaltim waktu bulan Januari dan sempat nyicipin buah Lai, berasa agak aneh ya bentuk durian tapi gak ada baunya sama sekali hihihi memang bener ya di sana banyak banget buah2an dijual di sepanjang jalan Balikpapan – Samarinda 😀

    • Aisyah Prastiyo

      Iya ada buah Lai, ada buah Paken, penampakan luar mirip durian tapi rasanya agak beda. kalau makan durian saya ga “kuat” nahan aromanya, beda kalau makan buah paken tanpa aroma khas durian dan buahnya juga ga “sebenyek” durian.
      Mba berkunjung tepat waktu, pas musim buah-buahan, hehehe….

  12. Pingin rasanya bisa ke Kalimantan lagi ^_^ kapan ya?

Trackbacks

  1. 8 Minggu Ngeblog: Minggu 1 | AngingMammiri.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: