Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

My First Love

Agak bingung sebenarnya untuk posting materi lomba 8 Minggu Ngeblog yang diadakan oleh Anging Mamiri di Minggu Ke-5 dengan tema Cinta Pertama. Bingung mau posting tentang apa. Terlalu banyak cinta dalam hidupku. Terlahir dan besar dilingkungan keluarga besar yang penuh cinta membuatku punya banyak stok cinta untuk dibagi, hehehehe…

Aku nggak akan cerita tentang cinta monyet… monyet… itu, hehehe… karena mungkin bagiku itu bukan cinta.

Sebenarnya ini rahasia dan belum pernah kuceritakan pada orang lain, tapi kali ini aku ingin membaginya, cinta pertamaku pada Mas……

Saat itu, aku kuliah di sebuah PTS di Yogyakarta… di semester 1 aku tak pernah melihatnya, atau mungkin pernah melihatnya tapi tak pernah masuk dalam memoryku. Akhir semester 2 aku mulai kerap melihatnya karena bangunan Laboratorium Terpadu yang baru diresmikan dan mulai digunakan tak jauh dari tempatnya berdiri. Walau ia selalu berdiri tegap sambil tersenyum ramah padaku setiap kali menoleh ke arahnya, tapi aku tak bergeming, dan enggan sekali sekedar membalas senyumnya.

Suatu hari, Rina teman sekelasku sekaligus teman satu kost mengajakku mengikuti sebuah acara. Di acara itulah pertamakali aku perkenalan dengannya. Gagah, elegan, memberi rasa hangat, damai sekaligus menyejukkan itu kesan pertamaku.

Awal semester 3, entah mengapa aku terpilih menjadi salah satu pengurus UKM WAMIKA, lembaga dakwah di kampusku. Sebuah beban sebenarnya, apalagi aku merasa bukan orang yang baik. Tapi pasti inilah cara Allah menjadikanku pribadi yang lebih baik. Hal ini pun membuatku makin intens bergaul dengannya. Seringkali aku menghabiskan waktu bersamanya. Pastinya tak hanya berdua, kami seringkali bersama teman-teman pengurus yang lain, musyawarah membahas banyak hal untuk dakwah kampus.

Seiring berjalannya waktu, aku merasa kebersamaan kami, menyemai bibit-bibit cinta dihatiku. Mungkinkah aku telah falling in love kepadanya? Entahlah. Biasanya aku hanya menemuinya diwaktu musyawarah pengurus atau saat aku menunaikan kewajibanku. Tapi belakangan, tak ada angin dan hujan aku tetap saja menemuinya. Menghabiskan waktu di luar jam kuliahku bersamanya. Tak ada kata yang terucap, biasanya aku hanya diam sambil membaca buku atau bertadarus disisinya. Tak ada yang paling ingin kutemui di kampus selain dirinya. Teman-teman sudah tahu jika ingin mencariku tak perlu bingung, aku pasti berada disisinya. Pergi ke kampus jam 7 pagi hingga jam 9 malam, bisa dipastikan hampir 75% waktuku habiskan bersamanya. Mungkin bagi sebagian orang penyataanku berlebihan, tapi demikianlah kenyataannya.

Hatiku tertaut padanya, hal itu tak dapat kuhindari. Cinta itu hadir dan tak akan kupungkiri. Tapi kalian tahu, dia memang begitu mempesona, daya tariknya alami, apalagi bagi hati-hati yang tulus. Dan tentu saja bukan hanya hatiku yang tertaut padanya. Sebut saja Riska, Intan, Novita, Wiwit, Mila, Wulan, Dessy dan banyak nama lagi yang kucurigai menyimpan rasa yang sama padanya. Tapi apakah aku cemburu? Mungkin Sedikit! Tapi aku mencintainya dengan tulus, hanya mengharapkan Ridho Rabb-ku, bahkan aku ingin semakin banyak hati yang tertaut padanya. Maka jangan bingung jika aku yang mengaku mencintainya, mengajak teman-temanku untuk menemuinya, bercengkrama disisinya dan meramaikan hari-harinya, berharap mereka pun jatuh cinta padanya. Aneh ya?

Kau tahu? aku bahkan pernah menghabiskan 4 kali lebaran Idul Fitri bersamanya. Bayangkan dari total 6 kali lebaran yang harus kulalui ketika kuliah, aku menghabiskan lebih dari separuh bersamanya. Teman-teman pulang kampung, menyambut lebaran bersama kehangatan keluarga, sedangkan aku menyambut lebaran bersamanya. Bahkan aku membuat opor ayam, buras dan ketupat bersamanya. Aneh, membuat masakan yang belum pernah sekalipun kubuat bahkan di rumahku sendiri. Itukah kekuatan cinta? (hemm… sebenarnya aku tak pulang lebaran lebih kealasan teknis, berat diongkos dan waktu yang sempit, hehehe…)

Disisinya aku belajar banyak hal. Tentang cinta sejati pada Rabb-ku. Mengkaji ilmu agama yang ternyata lebih luas dari samudra, belajar “berjuang” di jalan dakwah, belajar memaknai indahnya arti kebersamaan dan persaudaraan. Dia saksi perjalanan hidupku selama 4 tahun kebersamaan kami sejak aku mengenalnya. Banyak kisah yang kami bagi, tawa bahagia bahkan tangis duka. Seringkali aku menangis di depannya, mengurai luka hatiku dan bebanku padanya. Mungkin ia hanya diam dalam tatap teduhnya, tapi aku tahu ia mengerti perasaanku. Dan itu cukup bagiku.

Bagiku cinta tak harus terucap, toh dia pasti tahu perasaanku dari semua sikap dan perhatianku padanya. Apakah aku berharap ia pun mencintaiku. Kalau mau jujur, IYA! Aku ingin iapun mencintaiku, namun aku hanya berharap cintanya membawa pula cinta Sang Maha Pencinta padaku. Mungkin ini kisah cinta yang rumit, tapi bagiku tidak. Karena cinta itu anugerah Ilahi yang harus kujaga agar tetap suci.

Namun hidup toh terus berjalan. Bagai roda yang terus berputar. Walau enggan, pada satu titik kami harus berpisah. Aku lulus kuliah dan harus kembali ke desaku di pelosok Kalimantan. Ribuan mil dari tempatnya berada. Sedih, itu pasti. Entah mengapa walaupun kini sudah 7 tahun sejak perpisahan itu, aku masih menyimpan rindu untuknya. Jauh di mata namun dekat di hati, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Cinta itu masih tersisa, waktu tak membuatnya menyusut dan hilang. Ia cinta pertamaku dan entah percaya atau tidak, tak ada yang bisa membuatku merasakan hal yang sama seperti padanya, hingga saat ini. Walau seringkali aku merasa sedikit berdosa, karena menyimpan cinta pada dia yang jauh, padahal ada yang dekat yang patuh juga untuk dicintai.

Ini penampakan cinta pertamaku :

Cinta Pertamaku Masjid An-Nuur

Cinta Pertamaku Masjid An-Nuur

Aku hanya berharap siapapun yang kini ada disekelilingnya, mencintainya sepenuh hati, menjaga dan memakmurkannya dengan baik. Semoga kecintaan kami padanya, menjadi jalan kecintaan dan keridhoan Allah pada kami yang lemah ini

Ya namanya Mas… Masjid An-Nuur di Kampus STMIK AKAKOM Yogyakarta. Ia perantara cahaya itu sampai ke hatiku. Ia perantara cintaku pada Rabb-ku. Ia perantara cintaku pada sahabat-sahabat seperjuanganku. Insya Allah, kuyakin ada ikatan yang kuat yang telah mengikat hati-hati kami dalam satu simpul yang bermuara pada satu tujuan yaitu tegaknya dakwah Islam dan totalitas keikhlasan lillahi ta’ala. Akhwat-akhwat yang tangguh. Riska, Intan, Novita, Wiwit, Mila, Wulan, Dessy, Mba Hetty, Wiwin, Nining, Manis, Imamura, Rasini, Iis. Ikhwan-ikhwan yang tak kalah tangguh, Mas Fath, Bang Iwan, JP, Yuan, Endras, Sulis, Mas Reno, Sugeng, JI, Wahyu, Noor, Casmadi, Eko, ah masih banyak nama yang tak bisa kutuliskan satu persatu. Setiap kami pasti punya cerita tentang Mas…. Masjid yang satu ini. Terlalu banyak kenangan yang terukir di tiap sudutnya.

I Miss U... Ukhti.

I Miss U… Ukhti.

Barisan Akhwat-Akhwat Tangguh (Insya Allah)

Barisan Akhwat-Akhwat Tangguh (Insya Allah)

Barisan Ikhwan

Barisan Ikhwan

Barisan Ikhwan 2

Barisan Ikhwan 2

Sahabat-sahabatku… Ingatkah ketika kegiatan, kita makan senampan bersama untuk menjalin kebersamaan (atau sebenarnya menghemat dana kegiatan dari kampus yang minim). Ingatkah ketika makan sebungkus bersama karena anak kost tak selamanya mampu membeli sebungkus nasi untuk dimakan sendiri. Ingatkah ketika pucuk dan pepaya muda di samping masjid menjadi sayur untuk kegiatan LK kita? Ingatkah ketika berbuka puasa dengan segelas teh hangat dan gorengan yang dibuat Ummi Riska dan Nining . Ingatkah ketika harus musyawarah hingga jam malam tiba? Ingatkah ketika harus lembur mempersiapkan acara seminar, pengajian, atau RDK. Ingatkah ketika harus menyebarkan undangan pengajian ke teman-teman dan adik-adik kelas, bahkan harus mendatangi kost mereka (ya maklumlah, HP masih barang langka nan mahal saat itu).

Ingatkah ketika ada teman yang pingsan di sana karena tenaga dan pikiran yang terporsir sedemikian rupa? Ingatkah ketika senior menegur kita yang dianggap lalai dalam dakwah? Ingatkah ketika harus mengorbankan waktu berharga bahkan waktu kuliah untuk kelancaran kegiatan kita (survey LK ke Ndeles). Ingatkan ketika menggalang dana untuk kegiatan dengan membuka bazar dan café Ramadhan? Ingatkah ketika beberapa teman menggarap skripsinya di sana? (karena repot membawa komputer bolak-balik ke kampus, maklumlah laptop saat itu masih sangat mahal). Ukhti Wiwit, ingatkah ketika kita harus merasakan sakitnya terjatuh dari motor sepulang survey LK, tapi itu tak membuat kita mengeluh dan merintih, keesokan harinya kita masih bisa dengan gagah melangkah melaksanakan tugas kita? Ingatkah akan tetes air mata karena diri merasa lemah atas semua beban dakwah yang terasa semakin berat? Ingatkah ketika sebaris Ayat Al-Qur’an begitu lekat dan ingatan dan menjadi salah satu kekuatan kita?

“…Intanshurullaha yanshurkum wayutsabit aqdaamakum”
(jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian, dan meneguhkan kedudukan kalian) Qs. Muhammad:7.

Ah, begitu banyak cerita yang tercipta, begitu banyak kenangan yang tak bisa terulang. Airmataku luruh… Aku merindu….

Sahabat-sahabatku… di manapun kalian kini berada, kutahu hati kita pernah tertaut pada sebuah nama yang sama. Yang bahkan ikatannya masih menjerat erah hati-hati ini. Aku berharap di belahan dunia manapun kalian berdiri, Semoga ukhuwah yang telah terjalin tak pernah terputus. Teruslah istiqomah melangkah dalam keridhoan-Nya, dan saling ingat mengingatkan dalam kebaikan. Semoga kelak kita dikumpulkan kembali bersama di taman Surga.“Anauhibbukum fillah : Aku mencintai kalian karena Allah”

This is about another love :
Entah aku lupa, apakah dulu aku pernah berdoa agar Allah menautkan hatiku pada seseorang yang juga mencintai-Nya dan mencintai rumah-Nya tersebut. Tapi yang jelas Allah mentakdirkan seseorang yang menjadi separuh jiwaku, pelengkap hidupku, menawar gundahku adalah ikhwan yang juga mencurahkan waktu dan pikirannya serta menghabiskan hari-harinya di Masjid itu.

Ikhwan yang bermodal tekad dan nekad menyeberangi lautan, menempuh ratusan mil menemui ayahku dan mengatakan ingin menikahiku walaupun, belum wisuda dan memiliki pekerjaan. Ikhwan yang sangat yakin akan janji Allah untuk membantu hamba-Nya yang ingin menikah untuk menjaga kesuciannya. Dan terbukti Janji-Nya tak pernah ingkar, Ia tiba-tiba mendapat tawaran pekerjaan, di kota yang hanya beberapa kilometer dari kotaku. Ia membuktikan cintanya tanpa banyak kata, hanya sebait janji suci dihadapan Allah, Ayah dan para saksi yang menghadiri pernikahan kami. Ia, Ikhwan yang mengatakan padaku bahwa aku adalah cinta pertama dan terakhirnya. Ikhwan yang berkata akan mencintaiku sepanjang usianya dan berharap Allah pun berkenan menjadikanku bidadari surganya.

And there’s a couple of words I want to say
for you My Beloved Husband.

For the rest of My life I’ll be with you. I’ll stay by your side honest and true, Till the end of my time, I’ll be loving you… loving you.

Aku bersyukur kau di sini, kasih
Di kalbuku, mengiringi
Dan padamu
Ingin kusampaikan
Kau cahaya hati
Dulu kupalingkan diri dari cinta
Hingga kau hadir ubah segalanya
Inilah janjiku kepadamu
Sepanjang hidup
Bersamamu
Kesetiaanku tulus untukmu
Hingga akhir waktu
Kaulah cintaku, cintaku
Sepanjang hidup
Seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan s’lamanya
Aku milikmu
Yakini hatiku
Kau anugerah sang Maha Rahim
Semoga Allah berkahi kita
Kekasih, penguat jiwa
Kuberdoa, kau dan aku di Jannah
Kutemukan kekuatanku di sisimu
Kau hadir sempurnakan s’luruh hidupku
Inilah janjiku kepadamu
Yakini hatiku
Bersamamu, kusadari inilah cinta
Tiada ragu,
Dengarkanlah kidung cintaku yang abadi
Maher Zain : For The Rest Of My Life

Iklan

10 Komentar

  1. Suka banget dengan postingan ini… 😀

  2. Cinta yang positif. Sangat menginspirasi

    • Alhamdulillah jika bisa menginspirasi, senang rasanya berbagi 🙂
      Cinta sejatinya harus positif, nafsu yang seringkali membuatnya menjadi negatif 🙂

  3. merinding baca ais… walaupun mb baca sekilas saja rasanya spt kembali ke masa itu… I Luv All, Because Allah… 🙂

    • Love you too… Mba Hetty….
      Selalu ada rasa sesak yang mendesak air mata, jika membaca kembali tulisan itu Mba.
      Kenangan yang kadang terlupakan diantara deru kehidupan, namun saat kenangan itu kembali hadir, rasanya tetap sama, hangat di hati 🙂

  4. Beruntung saya kenal salah satu akhwat yang ada dalam cerita ini dan menjadi suaminya 😀

    • Aisyah Ummu Abdilah

      Salam kenal Pak, Istrinya yang mana ya? 😀 😀 Ayahnya Vira kan? Semoga selalu dikaruniai keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, aamiin. Selamat menanti kehadiran adiknya Vira 🙂

Trackbacks

  1. Cinta Pertama Takkan Pernah Mati | Aisyah Prastiyo
  2. WISUDA OH WISUDA…. | Aisyah Prastiyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: