Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

WISUDA OH WISUDA….

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #8MingguNgeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki minggu ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

Aku ingin berbagi tentang masa kuliahku, yang menurutku selalu menyimpan dua sisi dilematis.
Aku kuliah di awal tahun ajaran 2001 di sebuah PTS di Yogyakarta, mengambil jurusan S1-Sistem Informasi. Aku lalui masa-masa awal kuliah dengan penuh semangat dan giat belajar, karena membawa cita-cita dan harapan orang tua di kampung halaman. Dan bukan bermaksud sombong (hehehe) aku termaksud mahasiswa “cerdas” di kelasku. Di semester 2 aku sudah bisa mengambil mata kuliah semester 4, gabung dengan kakak tingkat, karena nilai IP-ku di atas 3. Semester pendek pun tak kulewatkan untuk mengambil mata kuliah di semester atas. Sehingga di semester 3 aku menjadi asisten praktikum, dan mengasisteni teman-teman sekelasku, keren kan? Aku bisa memberi nilai praktikum untuk teman-teman sekelasku yang sebagian besar memang belum mengambil mata kuliah tersebut.

Aku punya sosok idola, seorang Kakak tingkat, beda jurusan. Seorang wanita yang tidak hanya cerdas tapi juga aktif di organisasi dakwah kampus, dan lulus dengan nilai tertinggi dan cumlaude dalam waktu 3,5 tahun. Aku terpacu ingin sepertinya.

Sumber wahanacorp.blogspot.com

Sumber wahanacorp.blogspot.com

2002, di awal semester 3 akupun aktif menjadi pengurus LDK sebagai sekretaris, hingga 2 periode kepengurusan dan tetap aktif hingga aku lulus. Menjadi asisten beberapa praktikum, dan mengambil kuliah 24 sks. Hari-hariku terasa berlalu dengan cepat namun menyenangkan dengan berbagai kesibukanku.

2004, Di tahun ke-3 sudah hampir semua mata kuliah kuambil. Jika aku bisa menyelesaikan skripsi dalam 1 semester, impian lulus dengan nilai cumlaude akan terwujud. Tapi siapa sangka perjalanan yang seharusnya menyisakan beberapa langkah, harus tersendat.

Tugas Akhir atau Skripsi menjadi batu sandungan bagiku. Kenapa? Sebegitu susahnyakah membuat skripsi? Kalau di kampusku, untuk skripsi jurusan SI, kami harus membuat sebuah program aplikasi. Saat itu dosen pembimbingku menyarankan untuk membuat SPK, Sistem Penunjang Keputusan, perakitan komputer. Jadi aku harus pula belajar, prosessor tipe ini cocok dengan motherboard tipe apa, dan RAM jenis apa. Dan aku mengabiskan 4 semester hanya untuk mengerjakan skripsi tersebut.

Pernah membayangkan nggak, seolah lomba lari di awal garis start kita sudah melesat cepat meninggalkan peserta lain, begitu mendekati garis finish tiba-tiba terjatuh dan dilewati oleh peserta lain yang akhirnya memenangkan lomba dan menyelesaikan lebih dulu. Begitulah perasaanku.

Mereka yang wisuda terlebih dahulu, teman-teman yang biasa bertanya tugas padaku, teman-teman yang pernah aku asisteni, teman-teman yang hemm… pernah tertinggal jauh dibelakangku.

Dan lebih sakitnya lagi, tak semua mahasiswa yang wisuda (artinyawisuda karena telah menyelesaikan skripsinya) membuat skripsinya sendiri. Dengan mengeluarkan beberapa ratus ribu, mereka dapat membeli program. Atau bermodal SKSD mereka mendekati senior-senior yang jago programming, dengan modus belajar, tapi 90% programnya dibuatkan.

Ah, tapi aku yakin tak semua seperti itu, masih ada yang berusaha lulus dengan usaha sendiri, walau tak menapik bahwa kita butuh bantuan orang lain, baik itu berupa dukungan semangat atau sharing code program 🙂

Apakah untuk mewujudkan keinginanku akupun turut mengambil jalan pintas? Toh tak susah dan tidak seberapa biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan biaya kuliah dan biaya hidup selama menempuh pendidikan yang tidak selesai-selesai ini. Apalagi ketika desakan-desakan dari pihak keluarga menderaku. Adikku yang masuk kuliah tahun 2001 sama denganku, saja sudah menyelesaikan kuliahnya tahun awal tahun 2005.

Tapi benarkah itu yang aku inginkan? Lulus cepat namun tertunduk malu tanpa bisa tersenyum bangga atas perjuanganku untuk mencapainya? Namun syukurlah Ayah memberi dukungan besar padaku, untuk meneruskan perjuangan yang telah kumulai, tanpa rasa ragu.

2005, melihat angkatan pertama di kelasku lulus, aku mengelus dada. Belum waktunya aku harus lebih bersabar dan harus lebih semangat berjuang.

Melihat angkatan kedua di kelasku lulus aku mengusap wajah. Usahaku belum maksimal, tak boleh putus asa, terus melangkah dan semangat.

2006, melihat angkatan ketiga di kelasku lulus, ah sudahlah! Aku harus tetap fokus lupakan cita-cita lulus dengan predikat terbaik. Yang penting aku lulus namun dengan senyum bangga, karena aku lulus dengan perjuanganku, melalui malam-malam yang kuhabiskan di depan komputer, mengutak-atik baris-baris code C++ yang seringkali error, melalui serangkaian demo-demo program yang seringkali di tolak dosen. Naskah yang seringkali kembali dengan coretan di sana-sini.

Hingga pada satu titik aku merasa program sudah oke, dan demo di depan dosen pembimbing, Pak dosen yang terhormat meminta menambahkan beberapa fitur. Hahaha “Pak…Pak… kok ya tega.” hiks..hiks… Jika tambahan fitur yang diminta berhasil kuselesaikan, skripsiku bisa di acc kan Pak? Okelah kalau begitu SEMANGAT!!!!! Ini target kali ke-4 ku, semoga tidak bernasib sama dengan target-target sebelumnya. aku punya waktu 6 bulan sebelum wisuda tahap selanjutnya.

Oke, aku kembali menatap dan berkonsentrasi mengedit baris-baris kode programku hingga tengah malam. Ketika subuh meluluhrantakkan Yogya dengan guncangan yang dasyat. Aku terhenyak. Semangat yang dengan tertatih kubangun, seolah hancur seketika bersama bangunan-bangun yang diluluhrantakkan oleh gempa berkekuatan 5,9 SR pada tanggal 27 Mei 2006 itu.

Sumber katakamidotcom2.wordpress.com

Sumber katakamidotcom2.wordpress.com

Beberapa saat kami harus melalui masa recovery. Tak hanya bangunan yang direhab. Semangatku yang tadi tengah berapi-api kemudian seolah padam tersiram air pun harus sedikit demi sedikit kunyalakan kembali. Tapi tak ada waktu untuk berkeluh kesah dan menyalahkan keadaan. Tak ada alasan untuk menjadi lemah dan menyurutkan langkah seberat apapun masalah yang menimpa. Bahkan aku mempunyai seorang sahabat Dwi Sukistyaningsih, ketika malam sebelum musibah gempa itu menginap di kostku untuk menggarap skripsinya, bermodalkan laptop pinjaman dari sepupunya. Komputernya rusak tak berbentuk bersama runtuhnya rumahnya di imogiri Bantul. Ibunya yang renta pun menjadi salah satu korban, yang syukurnya masih bisa diselamatkan. Tapi toh ia, tetap bisa bangkit dan menata hidupnya walau hanya tinggal di gubuk seadanya. Diantara puing-puing rumahnya aku tetap bisa melihat semangat yang memancar di wajahnya.
Mungkin benar kata pepatah, selalu ada hikmah disetiap ujian. Buktinya November 2006 aku dan dia akhirnya bisa lulus dan wisuda, sekalipun harus merasakan musibah gempa beberapa bulan sebelumnya.

Aku memang tak meraih impianku untuk lulus dengan predikat cumlaude. Akupun harus menukar banyak biaya dan waktu untuk kuliahku tapi aku mendapatkan hal yang sebanding bahkan mungkin jauh lebih berharga. Aku punya masa-masa yang indah dan penuh perjuangan di LDKku yang kuceritakan minggu lalu dengan tema cinta pertama. Aku mendapatkan banyak pelajaran berharga, salahsatunya adalah menikmati sebuah proses, tujuan bukanlah akhir, namun proses yang benar membuat kita jauh lebih bijak dalam menyikapi kehidupan. Aku yakin Allah tak pernah menyia-nyiakan setiap tetes keringat dalam usaha dan perjuangan yang kita lakukan, akan selalu ada buah yang akan kita petik suatu saat nanti.

Iklan

18 Komentar

  1. skripsi itu ‘sesuatu’ ya..
    aku juga lagi ngerjain Tugas Akhir ini, disuruh bikin program aplikasi pula…
    mohon doanya yah 🙂

    • Aisyah Prastiyo

      Ya “sesuatu” bangeeet….
      Semoga semua berjalan dengan lancar dan Allah beri banyak kemudahan ya, aamiin.
      Btw, curcol : dulu kalau lagi ngutak-ngatik code program dan berkali-kali ketemu pesan error atau hasil yang diinginkan belum muncul, yang saya lakukan adalah… ambil air wudhu dan sholat (kebetulan saat itu pagi jadi sholat dhuha), kemudian berdoa dan memohon deh sama Allah… sambil nangis-nangis juga nggak apa-apa kali ya? ngerasa lemah banget, kode “begitu” aza nggak bisa hehehe… setelah itu lumayan lega, otak yang tadi agak “hang” jadi bekerja normal lagi 🙂 Nggak mesti pesan errornya langsung hilang sih, tapi saya bisa kembali berpikir dengan baik, mencari jalan keluar/pemecahan masalahnya tanpa rasa “kesal” karena error berkali-kali 😉

      • bener banget tuh Mbak, klo otak udah buntu gara2 program ngga mau jalan, ga tau errornya kenapa, biasanya aku juga ambil wudhu terus sholat, rasanya agak sedikit menurun bebannya 😀

  2. Alhamdulillah .. perjuangan itu pasti menjadi sesuatu yang tak ternilai ya 🙂

    • Aisyah Prastiyo

      Iya, Insya Allah Mba…. 🙂

  3. Perjuangan yang tdak mudah, insya Allah berbuah hasil maksimal. Trimakasih telah mengispirasi mbak

    • Aisyah Prastiyo

      Terimakasih juga sudah membaca kisah saya Mba, Alhamdulillah bisa berbagi dan mengispirasi 🙂

  4. Jatuh cinta, wisuda, menikah… Moment-moment berat nan indah yang punya cerita unik tersendiri… :D. Pengen juga nulis ttg kisah kesarjanaan saya ah… Hehhe

    • Aisyah Prastiyo

      Ayo Mba Isma, ditunggu kisahnya. pasti setiap orang punya kisahnya masing-masingkan yang nggak kalah seru dan indah untuk dikenang 🙂

      • siiiip…. 🙂

  5. memang skripsi i2 sesuatu banget, aku lho pernah mba disuruh ganti semua dari judul sampai kesimpulan, yo wis dikerjain ajah, yg penting di wisuda 😀

  6. Aisyah Prastiyo

    Hehehe… ganti lagi… ya mau gimana lagi 😉 Ibarat ulat kalau mau jadi kupu-kupu cantik harus melewati masa-masa menjadi kepompong kan, hehehe…

  7. skripsi oh skripsi, tapi 4 semester untuk membuat skripsi itu hmmm…. luama 2 tahun euy hehehe

    • Aisyah Prastiyo

      hahahaha… iya luamaaa tenan… stres garap program disambi, asisten dan instruktur praktikum, ngurus organisasi, ngajar di lembaga kursus, dll… pokoknya sok sibuk banget deh… #Carialasan Mode : ON

  8. pengalaman yg berharga.. Terutama jadi saksi gempa jogja..

    • Aisyah Prastiyo

      Iya, pengalaman yang tak terlupakan, namun tak berharap pernah terulang lagi dalam hidup saya. Karena bgaimanapun bencana seringkali meninggalkan trauma.

  9. Aku merinding pas baca ada gempa bumi… udah cape cape nulis skripsi gak taunya ada gempa… masya Allah… ukhti asli tegar

  10. Aisyah Prastiyo

    Alhamdulillah, Allah masih menjaga kami saat gempa itu terjadi. Banyak cerita teman-teman yang kostnya nggak jauh dari kami, ketika gempa pintu tak bisa terbuka, malah yang ambruk dindingnya, dan akhirnya keluar dari dinding yang runtuh itu. Beberapa minggu kemudian saya di suruh pulang ke kalimantan, waaupun sudah di rumah jika ada getaran sedikit saja, saya kaget dan melompat bangun padahal cuma truk besar yang lewat di depan rumah 🙂 Seumur-umur hidup di Kalimantan memang nggak pernah merasakan gempa, jadi shock banget melihat gempa sedasyat itu.
    Teman saya itu yang rumahnya hancur saja bisa bangkit melanjutkan skripsinya, hal itu yang bikin saya semangat lagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: