Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

Jama’ah Oh Jama’ah….

Aku ingin berbagi kisah tentang suka dukaku sebagai PNS, dalam tulisan ini yang diikutkan dalam lomba #8MingguNgeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki minggu ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

Sejak 1 April 2011 lalu aku diangkat menjadi PNS di kementrian Agama Kabupaten Paser. Kebetulan aku di tempatkan di bagian Penyelenggara Haji dan Umroh hingga sekarang. Awalnya kupikir bekerja di kantor itu monoton hanya menghadapi tumpukan berkas dan pekerjaan. Ternyata tidak juga, mungkin karena aku bekerja dibagian pelayanan masyarakat. Ya hampir setiap hari selalu bertemu dengan berbagai tipe orang, dan selalu banyak cerita yang bisa kuambil dan kusimpan dalam bilik memoryku.

Banyak suka dukanya jadi PNS terutama di posisiku saat ini.

Sekedar informasi, waiting list atau daftar tunggu untuk jamaah haji di kabupaten Paser tempatku bekerja kini sudah mencapai 15 tahun. Artinya apa? Artinya adalah jika seseorang mendaftar untuk berangkat haji dengan menyetor setoran awal BPIH sebesar 25 juta, maka baru akan bisa berangkat ke tanah suci 15 tahun kemudian, sekiar tahun 2029. Memang daftar tunggu/waiting list ini bervariasi dimasing-masing kabupaten sesuai dengan jumlah pendaftar dan quota keberangkatan pertahun.

Sebagai PNS sekaligus pelayan masyarakat kami dituntut untuk melakukan pelayanan prima. Dan masyarakat sering menyalah artikan kata pelayanan prima. Maunya mereka bagaimanapun mereka harus dilayani dengan baik dalam arti kata tanpa mengikuti prosedur pun tak mengapa.

Contoh kasus, saat ini untuk pendaftaran haji di daerah kami sudah online. Jadi masyarakat yang mendaftar dituntut untuk melengkapi semua persyaratan sebelum mendaftar. Seperti membuka tabungan haji, membawa fhotocopy KTP, Kartu Keluarga dan Akte kelahiran atau buku nikah. Seringkali datang tanpa membawa persyaratan yang lengkap namun ingin segera didaftarkan. Tentu kami harus jelaskan sebaik mungkin bahwa kami harus melihat semua data yang bersangkutan untuk menghidari kesalahan input data, yang bisa berakibat tak baik dikemudian hari.

Yang seringkali terjadi adalah calon Jamaah haji (kami menyebut orang yang sudah mendaftar haji sebagai calon jamaah haji) datang ke kantor, ingin mengetahui kapan waktu keberangkatannya. Setelah dilihat di daftar calon jamaah haji, nama dan nomor porsi yang bersangkutan masuk pada tahun misalkan 2018. Sudah puaskah jamaah dengan jawaban tersebut? Oh tentu belum. Kira-kira begini dialognya

Jamaah (J) : “Saya ingin tahu tahun berapa kami berangkat bu, ini nomor porsinya.”
Petugas (P) : “Tunggu sebentar ya Bu, kami carikan dulu. Oh ini Bu, perkiraan tahun keberangkatan ibu tahun 2018.”
J : “Lho kok lama betul Bu, kami sudah 4 tahun mendaftar.”
P : “Iya Ibu mendaftar tahun 2009 bulan desember, ini berdasarkan quota pertahun hanya 231 orang sedangkan pendaftarnya banyak.”
J : “Ah, tetangga saya daftar di tahun yang sama katanya 2016 berangkatnya.”
P : “Iya, bisa jadi bu.”
J : “Kok bisa begitu, nggak adilkan kita daftar sama-sama, kok dia bisa duluan, selisih 2 tahun lagi.”
P : “Iya, memang selisih bulan saja bisa selisih tahun karena banyaknya pendaftar saat itu. Pendaftaran tahun 2009 itu memang terbagi jadi 4 tahun bu, dari 2015-2018 karena jumlah pendaftarnya hampir 1000 orang padahal setahunnya hanya 231 orang. Semua urutan dibuat berdasarkan waktu pendaftaran bu, siapa yang duluan daftar Insya Allah duluan berangkatnya.”
J : (menghela nafas panjang…) “Kalau ada yang mundur, bisakan kita gantikan Bu?”
P : “Maaf Bu, jika ada yang batal/mundur otomatis semua nomor antrian di bawahnya naik, tapi tidak bisa loncat, semua sesuai dengan urutan antriannya.”
J : “Tapi sudah saya lunasi Biaya Haji Saya Bu, sudah ada 40 juta di bank.”
P : “Maaf Bu, pelunasan hanya bisa dilakukan pada tahun keberangatan yang bersangkutan, itu juga ada waktunya. Uang yang di rekening Mentri Agama hanya sejumlah setoran awal BPIH, 25 juta, sisanya masih direkening Ibu, bisa diambil sewaktu-waktu.”
J : “Heemm… pokoknya kalau saya bisa maju telpon saja nomor HP saya ya Bu.” (menulis nomor HP disebelah namanya pada daftar keberangkatan).
P : (hanya tersenyum miris)

Lain kasus, seorang wanita yang mengaku berusia 60-an tahun datang menemui kami.
Skenario awal, tetap bertanya kapan tahun keberangkatannya, dan parahnya tak membawa nomor porsi, jadi kami harus meraba-raba dari 3500-an nama yang ada di daftar. Mau ditolak dan suruh ambil nomor porsi dulu juga nggak tega, akhirnya setelah beberapa menit berlalu….

P : “Oh, ini, nama Ibu Binti Fulan kan Nek?”
J : “Iya betul, tahun berapa Nak?”
P : (meneguk ludah) ”Ttahun 2024 Nek.”
J : “Hah! Mungkin aku sudah mati Nak… tanpa sempat melihat kabbah. (dengan ekspresi sedih)”
P : (berusaha menenangkan) “Sabar saja Nek, inikan cuma perkiraan, kita nggak tahu ke depannya nanti. Yang jelas kan Ibu sudah daftar, niatnya sudah sampai. Sebagai manusia kita sudah berusaha, masalah sampai atau tidaknya ke tanah suci, Allah yang akan menentukan.”
J : “Nenek ini sudah sakit-sakitan, kalau berjalan saja lututnya sudah sakit, aduuh…”
P : ‘Banyak-banyak berdoa aza nek, kalau manusia katakan belum bisa berangkat, tapi kalau Allah yang memanggil bisa saja nenek.”
J : “Masa tidak ada jatah untuk yang sudah tua seperti nenek ini?”
P : “Memang beberapa tahun ini ada kebijakan pemerintah untuk jamaah lansia Nek, tapi tergantung quota juga, tahun 2011 dapat tambahan quota kab. Paser dapat 24 orang, paling muda 74 tahun, sedangkan tahun lalu 2012, tidak ada tambahan quota hanya sisa jamaah yang tidak melunasi dibagi untuk lansia diranking se Kaltim, cuma dapat 6 oang yang paling muda berusia 87 tahun, tahun ini kami belum tahu kebijakan tentang lansia ini.”
J : Hiks…hiks…Hiks… (Si nenek hanya menangis sesegukan, dan kami hanya bisa menenangkan.)

Dilema ya? Jika harus menyampaikan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti itu. Jujur saja, saya jauh lebih senang jika harus menyampaikan kabar bahagia. Seperti tahun 2011 ketika kabupaten kami mendapat 24 jamaah untuk quota tambahan yang dikhususkan untuk lansia. Dengan suka hati saya hubungi satu persatu walau tak ada alokasi dana pulsa dari kantor (hahah…) sambutan bahagia dari seberang telpon lebih berharga dari ribuan rupiah yang saya keluarkan untuk biaya pulsa.

P : “Maaf pak, kami dari kemenag bag. Haji betul ini atas nama Pak Fulan?”
J “ Saya anaknya Bu, ada apa?”
P : “Oh, begini Pak, Pak Fulan masuk dalam daftar quta tambahan untuk lansia tahun ini, artinya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini.”
J : “Masa sih Bu, kemarin kami cek, masih 7 tahun lagi baru bisa berangkat.” (khawatir modus penipuan)
P : “Iya, tapi ada tambahan quota untuk jamaah lanjut usia Pak. Jadi bisa berangkat tahun ini. Bapak silakan mendatangi kantor kemenag bag. Haji untuk keterangan lebih lanjut pak, kami tunggu secepatnya, karena masa pelunasan hanya 3 hari kerja.”
J : “Oh, Alhamdulillah Bu, terimakasih atas informasinya. Nanti saya akan datang ke kantor.”
P : “Sama-sama Pak.”
2 hari kemudian.
P : “Pak, maaf apakah Pak Fulan mempunyai istri atau anak yang juga sudah mendaftar haji?”
J : “Oh ada bu, Ibu saya juga mendaftar haji sama Bapak, tapi kemarin nama Ibu tidak ada di daftar karena memang masih 60an.”
P : “Oh iya, begini pak, kami akan berusaha mengusulkan Ibu sebagai mahram pendamping Pak Fulan, sehingga bisa berangkat sama-sama tahun ini.”
J : “Benarkah Bu? Alhamdulillah Ibu saya pasti senang sekali mendengar berita ini.”
P : “Ini masih kita usulkan Pak, semoga disetujui kanwil, karena memang ada jatah untuk pendamping lansia, untuk itu kami minta bukti setoran awal BPIH Ibu untuk keperluan pengusulan tersebut.”
J : “Baik… baik bu, nanti saya antarkan ke kantor.”

Setelah diusulkan, pada hari terakhir pelunasan, sang istri sudah bisa melunasi BPIH. Berceritalah sang anak kepada kami.

“Ketika saya sampaikan kabar bahwa Bapak bisa melunasi dan berangkat haji tahun ini, Bapak dan Ibu bahagia sekali, tapi Ibu bertanya kenapa cuma Bapakmu, padahal Ibu setiap hari berdoa supaya kami berdua berangkat bersama, saya cuma bilang ya memang begitu kebijakannya Bu. Ketika nama ibu diusulkan dan bisa berangkat dengan Bapak, kami semua bahagia dan bersyukur atas kemurahan Allah SWT, yang pasti akan mengambulkan doa-doa hamba-Nya.”

Begitu pemurahnya Allah, tak ada yang sulit bagi-Nya, teruslah berdoa dan yakin penuh harap atas terkabulnya doa, Allah tak pernah mengecewakan hati hamba-hambanya yang dengan tulus meminta. Ketika panggilan itu datang, tak ada yang bisa menduganya.

Kami hanya tersenyum turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan keluarga ini. Kami selalu berusaha mencari peluang agar semakin banyak jamaah yang bisa menunaikan Ibadah haji, namun juga tak boleh melanggar aturan dan hukum yang telah ditetapkan, iyakan?

Lain kasus, seorang Ibu sebut saya Fulanan, akan berangkat haji tahun 2012 yang lalu. Beliau sudah mengikuti pertemuan pra manasik dan manasik berkali-kali, namun ketika masa pelunasan beliau tidak melunasi pada waktu yang ditentukan dengan alasan tidak tahu, miris kan?

Tentu kami yang “disalahkan” ketika ada jamaah yang tidak bisa melunasi dengan alasan tidak tahu. Memang Kabupaten kami sangat luas dan tidak memungkinkan jika kami mendatangi jamaah satu persatu, tapi kami sudah menyampaikan ke KUA Kecamatan bersangkutan tempat sang Ibu tadi berdomisili, dan petugas KUA sudah mendatangi rumanhya, namun kebetulan tak bertemu dengan sang Ibu dan hanya menyampaikan pesan pada tetangga.

Saya sendiri bahkan sudah menelpon berkali-kali nomor anak sang Ibu, yang seringkali tak aktif. Akhirnya saya mencoba untuk sms. Sang anak mengaku kalau HP-nya memang sering error dan tidak bisa digunakan untuk menelpon, jadi kami hanya berkomunikasi melalui sms. Saya sudah sms berkali-kali masalah batas akhir pelunasan tersebut, namun sang anak mengaku masih menunggu kiriman untuk biaya pelunasan. Kami sudah menyarankan agar yang bersangkutan datang saja ke kantor, kami bersedia membantu “meminjamkan” dana jika memang masih kurang dan kiriman belum datang. Namun sang Ibu dan anaknya tak juga kunjung datang. Sampai pada sehari setelah tanggal batas akhir pelunasan mereka datang ke kantor membawa sejumlah uang yang sedianya akan digunakan untuk biaya pelunasan setoran haji.

Sang Ibu menangis sejadi-jadinya ketika kami sampaikan sudah terlambat untuk pelunasan, dan Si Ibu dipastikan tak bisa berangkat tahun ini. Ia menyesalkan mengapa tak diberitahu, padahal uangnya itu sudah ada jauh-jauh hari sebelum pelunasan. Kami bingung, karena cerita bertolak belakang dengan yang disampaikan via sms oleh sang anak. Sang anak hanya diam dan memilih keluar ruangan. Usut punya usut ternyata uang sang Ibu digunakan dulu oleh sang anak dan kesulitan ketika saat pelunasan uang tersebut belum terkumpul.

Sang Ibu tentu sakit hati pun malu dengan para tetangga yang telah tahu beliau akan berangkat tahun ini, kami pun tak ingin disalahkan karena kami sudah berusaha menghubungi. Namun kita tak perlu mencari siapa yang salah, kami hanya berusaha menenangkan sang Ibu, mencari hikmah dalam setiap masalah, dan meyakinkan Allah punya rencana yang indah buat sang Ibu di tahun depan.

Ya, ibadah haji memang merupakan panggilan dari Allah. Diluar aturan manusia Ia yang menetukan siapa-siapa saja yang bisa menemui-Nya di tanah Suci. Kita tak tahu skenario yang ia tulis untuk tiap-tiap hamba-Nya agar bisa sampai dan menginjakkan kaki ke rumah sucinya di Baitullah.

Setiap melepas jamaah pergi, akupun selalu bertitip pesan untuk mendoakanku agar bisa juga menginjakkan kaki ke tanah suci, melaksanakan ibadah haji, menunaikan rukun Islam ke-5.

Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, Innal haamda wanni’mata lakaa wal mulk, laa yarii kalak. Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah, aku datang memenuhi paanggilaan Mu, aku datang memenuhi panggilan Mu tidak ada sekutu bagi Mu, aku datang memenuhi panggilan Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan segenap kekuasaan adalah milik Mu, tidak ada sekutu bagi Mu.

Berharap suatu hari nanti bisa beribadah di sana

Berharap suatu hari nanti bisa beribadah di sana

Iklan

9 Komentar

  1. Pengalaman kerja yang seru… sabar ya mba… #terinspirasi

  2. Aisyah Prastiyo

    Ya gitu deh… harus sabar dan tetap tersenyum…. dimarah-marahi orang juga tetap smile… 🙂

  3. semoga terkabul yah, mbak…

    • Aisyah Prastiyo

      Aamiin Yaa robbal’alamin… “Ngiri” Mbak, tiap tahun ngurusin jamaah berangkat haji, ingin juga menginjakkan kaki dan beribadah di sana.

  4. Tulisan yang sangat bagus, senang sekali bekerja diinstansi yang penuh pahala.. semoga sukses dan cita2 anda terwuduj.. 🙂

    • Aisyah Ummu Abdilah

      Alhamdulillah Pak, Pekerjaan apapun yang halal dan diniatkan karena allah In syaa Allah juga ibadah dan semoga berlimpah pahala. Aamiin yaa robbal’alamiin, doa yang sama untuk Bapak sekeluarga.

  5. maaf bu aisyah, saya minta tolong bantuan, saya sudah cek berkali-kali di situs haji.kemenag.go.id.. untuk cek nomor porsi orang tua saya, tapi selalu error,, mohon bantuannya bu, ini nomor porsi nya 2800094158 (an.RIFADAH) 2800094164 (an. SABANI)
    Terima kasih bu.

    • Aisyah Ummu Abdilah

      Maaf Pak Jajang, saya baru lihat pesan bapak. beberapa waktu lalu memang website haji.kemang.go.id bermasalah. tapi In syaa Allah sekarang sudah baik. Mungkin bapak juga sudah cek ya. Tadi saya cek perkiraan tahun 2016 keberangkatan haji beliau berdua. Masih ada pengurangan 20% pak. Dipersiapkan saja segala sesuatunya dengan baik, terutama menjaga kesehatan dan terus berdoa. Semoga nanti ibadahnya lancar dan dapat meraih predikat haji mabrur, aamiin…

  6. muflie

    Semoga mbak mendapat kebarokahan dengan memberikan informasi dan pelayanan yang terbaik untuk para calon haji…….amiiiinnnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: