Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

Dua Sisi Guru & Siswa

Aku ingin berbagi kisah tentang 4 tahunku menjadi guru honor di sebuah SMPN, dan tulisan ini yang diikutkan dalam lomba #8MingguNgeblog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki minggu ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

Setelah melalui dunia perkuliahan yang tak mudah seperti kisahku di “Wisuda Oh Wisuda” akhirnya aku memasuki dunia pasca kelulusan yang menurut sebagian besar orang masa yang jauh lebih sulit dari masa kuliah. Mengapa? Karena kalau kuliah, ketika ditanya status kita masih bisa dengan wajah tersenyum menjawab “Mahasiswa”. Stop nggak usah dilanjutkan dengan pertanyaan semester berapa, hehehe. Nah kalau sudah lulus dan belum bekerja apa yang akan kita jawab? Pengacara? Pengangguran banyak acara 🙂

Syukurlah aku tak terlalu lama menikamati status Pengacara, 2 bulan sejak kepulanganku ke kampung halaman aku ditawari mengajar di sebuah SMP yang merupakan almamaterku dulu. Kebetulan guru honor yang mengajar mata pelajaran TIK (teknologi Informasi Komputer) tiba-tiba mengundurkan diri, dan tak ada guru pengganti untuk mata pelajaran tersebut. Tentu saja kuterima tawaran dengan senang hati daripada ilmuku membeku dan akhirnya hilang tertiup angin, hehehe.

Ternyata pada kurikulum TIK, aku harus mengajarkan sejarah komputer, Pengenalan komputer seperti Hardware dan Software di kelas 1, kemudian Ms. Word, Ms. Excel, dan Power point di Kelas 2, di kelas 3 membahas sedikit tentang jaringan, pengenalan internet, email dan dunia socmed 🙂 dengan kata lain kemampuan codingku sedikit demi sedikit akan membeku dan akhirnya terlupakan, ya sudahlah, mungkin satu-satunya software yang bisa kubuat adalah untuk bahan skripsiku kemarin 🙂

sumber : hidupindahjikadisyukuri.blogspot.com

sumber : hidupindahjikadisyukuri.blogspot.com

Banyak suka duka yang kurasakan sebagai guru honor yang cantik dan imut, hehehe.
Kalau ingin menguji kata “pengabdian” jadilah guru honor hehehe… gaji 600rb/bulan dibayar per 3 bulan itupun jika dana BOSDA or BOSPU tidak terlambat cairnya.

Tapi aku senang karena baru beberapa bulan aku bekerja, ada pelatihan di Ujungpandang, yang diminta adalah guru Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan TIK. Untuk mata pelajaran lain tak hanya memiliki satu tenaga pengajar maka kepala sekolah yang memilih siapa yang akan di tugaskan, bahkan ada seorang guru agak marah ketika tidak ditunjuk padahal dia orang Makasar (apa hubungannya ya?). Sedangkan khusus guru TIK hanya aku seorang, maka akulah yang ditunjuk, senangnya tentu aku akan mendapat ilmu baru berhubungan dengan dunia yang aku geluti saat ini, selain itu juga bisa mendatangi daerah yang sama sekali asing bagiku, menyenangkan sekaligus seru walaupun harus pergi dengan rekan-rekan guru senior yang dulu adalah juga mantan guru-guruku.

Banyak kejadian selama 4 tahun sebagai guru honor. Kebayang lagi kejadian ketika masih jadi guru muda yang modal nekat tanpa pengalaman. Hanya bermodal kemauan tanpa dibekali akta mengajar, maklum guru honor yang berasal dari jurusan komputer.

Aku ingat sebuah kejadian ketika jam terakir di kelas 9A (kelas yang dihuni anak-anak berkelakuan “khusus” maksudnya mereka lebih “aktif” dari siswa-siswa yang lain) 🙂

Lagi asyik-ayiknya menjelaskan tentang materi internet, aku bertanya ke seorang siswa “kalau ke warnet ngapai aja?” belum sempat si anak menjawab temannya nyeletuk, “kalau dia sih nggak tahu warnet bu, orang susah”
Weis si anak tersinggung dan dengan sigap melayangkan tangannya ke arah temannya yang nyeletuk tadi. Aku bengong, kelas gaduh.

“STOP…STOP…!!! bla…bla…bla… sudah kalian nggak boleh begitu, ayo salaman saling minta maaf. ”
Akhirnya mereka salaman walau masih dengan wajah tersungut-sungut. Aku pikir sudah selesai, maka dengan tenang kulanjutkan materi hingga bel pulang berbunyi.
Aku berjalan santai keluar kelas, tiba-tiba ada seorang pemuda di depan pintu ruang guru, mencak-mencak!
“Saya tidak terima, kalau adik saya dipukul, dia di sini untuk belajar, kalau dia salah saya yang pertamakali akan menghajarnya, tapi kalau dia tidak salah saya tidak terima.”
Kembali aku bengong, kaya sapi ompong!

Ternyata siswa yang tadi dipukul temannya mengirim sms dan mengadu pada kakaknya. Beberapa Guru senior sudah menenangkan si Kakak yang mengamuk. Merasa bertanggungjawab, aku maju dan menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Si Kakak dan mohon maaf atas kejadian tak menyenangkan tersebut.
Amarahnya mereda mungkin karena melihat kecantikanku. Hoek…hoek… hoek…
“Hei, kamu anaknya Pak X kan? kita SMP seangkatan lho, masa lupa sama aku? Ngajar di sini sekarang?”
“Heeh, iya, lupa-lupa ingat sih, agak pangling, heem.. oh yang itu ya… beda sih sekarang sudah banyak berubah.” Aku berusaha tersenyum semanis mungkin.
Suasana mencair, tak ada lagi raut amarah di wajahnya beberapa menit kami malah bernostalgia masa-masa di SMP dulu, akhirnya dia berpamitan dengan sumringah.
Kakiku lemas, hampir aza diriku dituntut, gara-gara ada si siswa berkelahi di jam pelajaran dan tepat di depan mataku. Memang resiko guru “Bawang” tidak dianggap sama tuh siswa.

4 tahun memang bukan waktu yang singkat, bahkan aku banyak melalui moment indahku di sana. Dari lajang, menikah, melahirkan anak pertama hingga kelahiran anak kedua. Namun, hingga pada satu titik aku merasa masa depanku di sana tak akan berumur panjang karena tak bermodal akta mengajar, maka suami menyarankan untuk ikut test PNS di Kementrian Agama, dan kemudian dinyatakan lulus.

Disatu sisi aku bahagia, tak semua orang bisa lulus pada test pertama sebagai PNS. Dilain sisi tentu ada sedih ketika harus meninggalkan dunia yang sudah lekat dengan keseharianku selama 4 tahun terakhir. Akhir Maret 2011, pensiunlah aku dari status guru. Di hari-hari terakhirku mengajar kupandangi para siswa yang sedang mengerjakan tugas yang kuberikan. Berisik seperti biasa, namun tak sedikitpun membuatku jengkel dan marah, aku malah menitikkan air mata, pemandangan yang tak akan pernah kutemui lagi.

Tapi aku sadar inilah rangkaian perjalanan hidup yang harus kulalui. Hidup terus mengalir namun aku berharap semoga di manapun aku berada bisa memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang-orang yang ada disekitarku.
Sampai detik ini, masih banyak wajah-wajah yang tersenyum menyapa ketika perpapasan di jalan atau bertemu di suatu tempat. Heem… ya mereka adalah mantan siswa-siswaku dulu. Aku memang tak bisa mengingat dengan detail tiap nama si pemilik wajah, namun mereka tetap mengenangku sebagai guru yang pernah mengajarkan ilmu pada mereka. Walaupun pada kenyataannya aku bukanlah guru yang baik. Namun penghargaan mereka membuatku bahagia.

Disini aku bisa merasakan dua sisi kehidupan, menjadi guru yang memiliki siswa, sekaligus menghormati guru-guru yang telah mengajarkan ilmunya padaku (yang kini merupakan rekan kerjaku). Dua sisi Guru dan Siswa, namun sebenarnya kedua bagai keping mata uang yang tak dapat dipisahkan. Guru tak akan disebut guru jika tak ada siswa, siswa pun bukanlah siswa jika tak berguru. saling membutuhkan dan tentunya harus pula saling menghormati dan menyayangi, layaknya orangtua dan anak.

Untuk semua siswa-siswaku, terus belajar yang semangat, Ilmu-Nya tak terbatas, maka pelajarilah sebanyak yang kalian bisa. Raihlah cita-cita setinggi langit…. Kalian bisa jadi apapun yang kalian ingin asal kalian mau berusaha dan berdoa.

Sumber : pelangi-penuhpelangi.blogspot.com

Sumber : pelangi-penuhpelangi.blogspot.com

Salam hormat untuk semua guru di dunia yang telah mendidik dan mengajar serta membagi ilmunya pada manusia-manusia muda. Siswa bisa jadi apapun bahkan bisa jauh lebih hebat dari seorang “guru” seperti Dokter, Pilot, Presiden, dll. Namun guru tetaplah guru, yang melalui dirinya ilmu-ilmu itu bisa menyebar.

Terimakasih untuk semua Bapak dan Ibu Guru yang telah mengajarkanku banyak hal… Semoga apa yang telah Bapak & Ibu lakukan menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir hingga hari perhitungan, aamiin….

Sumber : cupupunya89.blogspot.com

Sumber : cupupunya89.blogspot.com

Iklan

4 Komentar

  1. Saya saja, yang hanya mengajar selama sebulan pada masa KKN Unhas di Bone. Harus berlinangan airmata berpisah dengan para murid-murid. Apalagi Mbak, yang mengajar hingga empat tahun lamanya. Pasti sedih rasanya

    • Aisyah Prastiyo

      Hehehehe… iya, sampai berlinangan air mata di depan kelas, mennagis dalam diam. Tapi saya nggak bilang sama anak-anak kalau mau pindah.
      Ikatan itu akan selalu ada, nggak terbatas pada lama atau sebentarnya waktu mengajar kan, 🙂

  2. pengalamannya mengharukan :’)
    semoga saya bisa seberuntung anda ya mbak, diterima jd PNS guru 😀

    • Aisyah Ummu Abdilah

      Semoga Allah kabulkan keinginan Mba Ina, semoga bisa mengabdi dengan ilmu yang dimiliki, aamiin. Saya PNS nya non guru Mba, karena memang bukan sarjana pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: