Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

Takdir & Cinta

Tulisan ini kupersembahkan untuk Zauji tercinta, diikutkan dalam #8MingguNgeblog yang diadakan oleh Anging Mamiri yang telah memesuki Minggu Ke-6 dengan tema “Dua Sisi”.

sumber : ria.choosen.net

sumber : ria.choosen.net

Kau dan aku ibarat dua sisi yang berbeda, laksana langit dan bumi, bulan dan matahari, panas dan dingin, hitam dan putih. Ah semua perbedaan rasanya bisa mewakili semua gambaran tentang aku dan kamu. Dan tak pernah terbersit bisa menyatu dengan berjuta perbedaan. Namun, diantara banyaknya perbedaan itu ada beberapa persamaan diantara kita. Takdir…, ya takdirlah yang mempertemukan kita dalam perbedaan namun akhirnya menyatukan kita dalam bingkai indah sebuah cinta sejati.

Kau yang lahir dikeramaian ibukota Jakarta, aku yang lahir dikesenyapan desa dipelosok kalimantan, namun keramahan Yogyakarta mempertemukan kita.

“Hemm…Cowok sok!” itu yang ada dipikiranku saat pertama kali melihatmu. Ya, gaya “gue-loe” khas Jakartamu tentu sangat sok dimataku yang anak desa. Namun, kembali takdir mengharuskan kita berada dalam sebuah organisasi yang sama. Bahkan selama satu periode kepengurusan kita harus melakoni jabatan Ketua dan sekretaris yang dituntut sering berinteraksi. Berlahan waktu merubah pandanganku teradap sosokmu.

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Kau sosok yang tenang, dan cenderung perpikir matang hingga terkesan lamban dalam bertindak, aku yang sigap tak sabaran dan ingin keputusan segera. Namun ketenanganmu serta kesigapanku menjadi kombinasi yang unik dalam memecahkan masalah organisasi.

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Kau sosok yang ramah dan ceria sedang aku si pendiam yang melankolis. Seringkali kata-katamu hanya kutanggapi dengan senyuman, namun tak membuatmu bosan untuk berbincang denganku. Dan ceritamu yang panjang lebar, tak pernah membuatku bosan untuk terus menjadi pendengar setiamu.

Walau perbedaan tetaplah sesuatu yang nyata diantara kita, namun kebersamaan selama 5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kisah, banyak cerita, banyak suka dan duka yang sekali lagi karena takdir harus kita lalui bersama. Sampai pada satu titik aku merasa kalau perbedaan kita bukanlah hal yang besar, karena justru banyak masalah yang dapat kita lalui justru karena perbedaan itu.

Suatu hari, kau katakan padaku, “Saat ini kita memang tak ada apa-apa, namun aku ingin suatu hari hubungan itu menjadi nyata.” Hemm.. aku tak mengerti maksudmu, dan tidak pula terdengar sebagai pernyataan cinta. Benar-benar tidak ada sisi romantisnya. Namun itulah adanya dirimu. Kau menjagaku,menjaga hati kita, menjaga perasaan yang hadir agar tetap suci hingga ia halal untuk ditunjukkan pada dunia.

November 2006, Kau yang masih berstatus mahasiswa (walau tinggal menunggu wisuda 5 bulan kemudian) dan tidak memiliki penghasilan apapun, menyeberangi lautan dan meminta izin kepada ayahku untuk menikahiku.

01 Juli 2007, adalah saat dimana aku menutup mata terhadap semua perbedaan kita, yang aku tahu hanyalah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu. Dan telah kau ikrarkan pada dunia sebuah perjanjian yang agung atas nama Allah dihadapan Ayah dan para saksi. Sebuah rumah tangga yang kuharap sakinah mawaddah warohmah mulai kita bangun. Kita satukan hati untuk melangkah bersama, melalui semua kisah hidup dengan segala problematikanya berdua.
Setelah hidup bersama ternyata kita tetaplah dua sisi yang berbeda…

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Kau dengan hobby bermain bola, bulutangkis dan berjuta aktivitas fisikmu, aku dengan hobby membaca buku, menulis dan berbagai aktifitas pikirku. Kau yang “sakit perut” setiap membaca surat dariku atau aku yang tak pernah betah berlama-lama menonton pertandingan bola atau F1 denganmu. Namun sebuah rasa menyatukan kita. Setelah lelah dengan aktifitas masing-masing, tatapan mesra dan pelukan hangat kembali menyatukan kita.

Aku ingat kalimat yang sering kau ucapkan “Bagaimanapun jalan hidup ini, aku yakin pada satu titik, takdir akan mempertemukan dan menyatukan kita, karena kau adalah bidadari yang tercipta hanya untukku.”

Dua sisi aku dan kamu, ibarat sepasang sayap yang terpisah dan akhirnya bertemu, saling melengkapi agar bisa terbang membelah angkasa. Apapun kondisi kita yang kutahu hanyalah aku sayang kamu, dan kita punya tujuan yang sama untuk membangun rumah di Surga-Nya kelak, (aamiin)perbedaan takkan memisahkan kita. Jadikan ia pelengkap yang dapat saling mengisi agar hidup ini terasa indah dan bermanfaat.

Awalnya takdir akhirnya cinta. Takdir mempertemukan kita dan cinta menyatukan hati kita. Love you now and forever My Beloved Husband….

Sumber : Kawanimut

Sumber : Kawanimut

Iklan

12 Komentar

  1. Huhuhu…. Selalu getas membaca kisah kayak gini… Satu sisi sedih (karena pengen..hehhe), satu sisi takjub… Smoga slalu sakinah mawaddah warrahmah….

    • Aisyah Prastiyo

      Aamiin Allahumma aamiin…
      Semoga segera dipertemukan dengan separuh jiwa yang hilang dalam sebuah ikatan yang halal dan diridhoi, aamiin. 🙂

  2. quote: “Setelah lelah dengan aktifitas masing-masing, tatapan mesra dan pelukan hangat kembali menyatukan kita”

    dahsyat, semoga selalu tentram dadlam ridha-Nya, amiin 🙂

    • Aisyah Prastiyo

      Aamiin… semoga rasa tentram itu selalu hadir dalam hari-hari kami. Rasa tentram, damai tanpa sedikitpun rasa was-was dan takut akan murka Allah (hehehe… itu perasaan dulu ketika ikatan belum halal 😉 )

  3. iya benerrr….aku juga sama suamiku banyak bedanya tapi disitulah serunya.. kadang kebayang kalau kami sama banget mungkin malah jadi membosankan kali ya..

    • Aisyah Prastiyo

      hihihihihi…. Iya mba, rasanya garing kali ya…
      Tapi harus pandai-pandai juga menerima perbedaan, soalnya banyak juga yang mengeluh ketika sudah menikah pasangannya tak seperti harapan 😉

  4. wah… iya ya.. berbeda itu membuat kita jadi seru.. 🙂

    • Aisyah Prastiyo

      Seru, karena menemukan banyak hal baru diluar keseharian kita.

  5. Romantis banget 😀 berbeda tapi dapat menyamakan langkah menuju satu tujuan bersama yaitu Sakinah Mawaddah Warrohmah 🙂

    • Aisyah Prastiyo

      Aamiin, semoga sakinah Mawaddah Warohmah itu terwujud, jalan panjang menuju ridho-Nya, tak akan pernah selesai hingga akhir hayat…

      MAkasih Mba Helda 😉

  6. Jadi kangen suamiku ih T_T
    Biar udah nikah tetep dua sisi itu tetep ada yah mbak, dan dua sisi itulah yang menguatkan dan bisa juga menjatuhkan, tergantung bagaimana kita menyikapi dua sisi dalam pernikahan.

    • Betul sekali Mba, sepakaaaat…..
      Btw, kangen suami? suaminya di mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: