Aisyah

Merangkai Kata Mengukir Cinta

My First Love

Agak bingung sebenarnya untuk posting materi lomba 8 Minggu Ngeblog yang diadakan oleh Anging Mamiri di Minggu Ke-5 dengan tema Cinta Pertama. Bingung mau posting tentang apa. Terlalu banyak cinta dalam hidupku. Terlahir dan besar dilingkungan keluarga besar yang penuh cinta membuatku punya banyak stok cinta untuk dibagi, hehehehe…

Aku nggak akan cerita tentang cinta monyet… monyet… itu, hehehe… karena mungkin bagiku itu bukan cinta.

Sebenarnya ini rahasia dan belum pernah kuceritakan pada orang lain, tapi kali ini aku ingin membaginya, cinta pertamaku pada Mas……

Saat itu, aku kuliah di sebuah PTS di Yogyakarta… di semester 1 aku tak pernah melihatnya, atau mungkin pernah melihatnya tapi tak pernah masuk dalam memoryku. Akhir semester 2 aku mulai kerap melihatnya karena bangunan Laboratorium Terpadu yang baru diresmikan dan mulai digunakan tak jauh dari tempatnya berdiri. Walau ia selalu berdiri tegap sambil tersenyum ramah padaku setiap kali menoleh ke arahnya, tapi aku tak bergeming, dan enggan sekali sekedar membalas senyumnya.

Suatu hari, Rina teman sekelasku sekaligus teman satu kost mengajakku mengikuti sebuah acara. Di acara itulah pertamakali aku perkenalan dengannya. Gagah, elegan, memberi rasa hangat, damai sekaligus menyejukkan itu kesan pertamaku.

Awal semester 3, entah mengapa aku terpilih menjadi salah satu pengurus UKM WAMIKA, lembaga dakwah di kampusku. Sebuah beban sebenarnya, apalagi aku merasa bukan orang yang baik. Tapi pasti inilah cara Allah menjadikanku pribadi yang lebih baik. Hal ini pun membuatku makin intens bergaul dengannya. Seringkali aku menghabiskan waktu bersamanya. Pastinya tak hanya berdua, kami seringkali bersama teman-teman pengurus yang lain, musyawarah membahas banyak hal untuk dakwah kampus.

Seiring berjalannya waktu, aku merasa kebersamaan kami, menyemai bibit-bibit cinta dihatiku. Mungkinkah aku telah falling in love kepadanya? Entahlah. Biasanya aku hanya menemuinya diwaktu musyawarah pengurus atau saat aku menunaikan kewajibanku. Tapi belakangan, tak ada angin dan hujan aku tetap saja menemuinya. Menghabiskan waktu di luar jam kuliahku bersamanya. Tak ada kata yang terucap, biasanya aku hanya diam sambil membaca buku atau bertadarus disisinya. Tak ada yang paling ingin kutemui di kampus selain dirinya. Teman-teman sudah tahu jika ingin mencariku tak perlu bingung, aku pasti berada disisinya. Pergi ke kampus jam 7 pagi hingga jam 9 malam, bisa dipastikan hampir 75% waktuku habiskan bersamanya. Mungkin bagi sebagian orang penyataanku berlebihan, tapi demikianlah kenyataannya.

Hatiku tertaut padanya, hal itu tak dapat kuhindari. Cinta itu hadir dan tak akan kupungkiri. Tapi kalian tahu, dia memang begitu mempesona, daya tariknya alami, apalagi bagi hati-hati yang tulus. Dan tentu saja bukan hanya hatiku yang tertaut padanya. Sebut saja Riska, Intan, Novita, Wiwit, Mila, Wulan, Dessy dan banyak nama lagi yang kucurigai menyimpan rasa yang sama padanya. Tapi apakah aku cemburu? Mungkin Sedikit! Tapi aku mencintainya dengan tulus, hanya mengharapkan Ridho Rabb-ku, bahkan aku ingin semakin banyak hati yang tertaut padanya. Maka jangan bingung jika aku yang mengaku mencintainya, mengajak teman-temanku untuk menemuinya, bercengkrama disisinya dan meramaikan hari-harinya, berharap mereka pun jatuh cinta padanya. Aneh ya?

Kau tahu? aku bahkan pernah menghabiskan 4 kali lebaran Idul Fitri bersamanya. Bayangkan dari total 6 kali lebaran yang harus kulalui ketika kuliah, aku menghabiskan lebih dari separuh bersamanya. Teman-teman pulang kampung, menyambut lebaran bersama kehangatan keluarga, sedangkan aku menyambut lebaran bersamanya. Bahkan aku membuat opor ayam, buras dan ketupat bersamanya. Aneh, membuat masakan yang belum pernah sekalipun kubuat bahkan di rumahku sendiri. Itukah kekuatan cinta? (hemm… sebenarnya aku tak pulang lebaran lebih kealasan teknis, berat diongkos dan waktu yang sempit, hehehe…)

Disisinya aku belajar banyak hal. Tentang cinta sejati pada Rabb-ku. Mengkaji ilmu agama yang ternyata lebih luas dari samudra, belajar “berjuang” di jalan dakwah, belajar memaknai indahnya arti kebersamaan dan persaudaraan. Dia saksi perjalanan hidupku selama 4 tahun kebersamaan kami sejak aku mengenalnya. Banyak kisah yang kami bagi, tawa bahagia bahkan tangis duka. Seringkali aku menangis di depannya, mengurai luka hatiku dan bebanku padanya. Mungkin ia hanya diam dalam tatap teduhnya, tapi aku tahu ia mengerti perasaanku. Dan itu cukup bagiku.

Bagiku cinta tak harus terucap, toh dia pasti tahu perasaanku dari semua sikap dan perhatianku padanya. Apakah aku berharap ia pun mencintaiku. Kalau mau jujur, IYA! Aku ingin iapun mencintaiku, namun aku hanya berharap cintanya membawa pula cinta Sang Maha Pencinta padaku. Mungkin ini kisah cinta yang rumit, tapi bagiku tidak. Karena cinta itu anugerah Ilahi yang harus kujaga agar tetap suci.

Namun hidup toh terus berjalan. Bagai roda yang terus berputar. Walau enggan, pada satu titik kami harus berpisah. Aku lulus kuliah dan harus kembali ke desaku di pelosok Kalimantan. Ribuan mil dari tempatnya berada. Sedih, itu pasti. Entah mengapa walaupun kini sudah 7 tahun sejak perpisahan itu, aku masih menyimpan rindu untuknya. Jauh di mata namun dekat di hati, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Cinta itu masih tersisa, waktu tak membuatnya menyusut dan hilang. Ia cinta pertamaku dan entah percaya atau tidak, tak ada yang bisa membuatku merasakan hal yang sama seperti padanya, hingga saat ini. Walau seringkali aku merasa sedikit berdosa, karena menyimpan cinta pada dia yang jauh, padahal ada yang dekat yang patuh juga untuk dicintai.

Ini penampakan cinta pertamaku :

Cinta Pertamaku Masjid An-Nuur

Cinta Pertamaku Masjid An-Nuur

Aku hanya berharap siapapun yang kini ada disekelilingnya, mencintainya sepenuh hati, menjaga dan memakmurkannya dengan baik. Semoga kecintaan kami padanya, menjadi jalan kecintaan dan keridhoan Allah pada kami yang lemah ini

Ya namanya Mas… Masjid An-Nuur di Kampus STMIK AKAKOM Yogyakarta. Ia perantara cahaya itu sampai ke hatiku. Ia perantara cintaku pada Rabb-ku. Ia perantara cintaku pada sahabat-sahabat seperjuanganku. Insya Allah, kuyakin ada ikatan yang kuat yang telah mengikat hati-hati kami dalam satu simpul yang bermuara pada satu tujuan yaitu tegaknya dakwah Islam dan totalitas keikhlasan lillahi ta’ala. Akhwat-akhwat yang tangguh. Riska, Intan, Novita, Wiwit, Mila, Wulan, Dessy, Mba Hetty, Wiwin, Nining, Manis, Imamura, Rasini, Iis. Ikhwan-ikhwan yang tak kalah tangguh, Mas Fath, Bang Iwan, JP, Yuan, Endras, Sulis, Mas Reno, Sugeng, JI, Wahyu, Noor, Casmadi, Eko, ah masih banyak nama yang tak bisa kutuliskan satu persatu. Setiap kami pasti punya cerita tentang Mas…. Masjid yang satu ini. Terlalu banyak kenangan yang terukir di tiap sudutnya.

I Miss U... Ukhti.

I Miss U… Ukhti.

Barisan Akhwat-Akhwat Tangguh (Insya Allah)

Barisan Akhwat-Akhwat Tangguh (Insya Allah)

Barisan Ikhwan

Barisan Ikhwan

Barisan Ikhwan 2

Barisan Ikhwan 2

Sahabat-sahabatku… Ingatkah ketika kegiatan, kita makan senampan bersama untuk menjalin kebersamaan (atau sebenarnya menghemat dana kegiatan dari kampus yang minim). Ingatkah ketika makan sebungkus bersama karena anak kost tak selamanya mampu membeli sebungkus nasi untuk dimakan sendiri. Ingatkah ketika pucuk dan pepaya muda di samping masjid menjadi sayur untuk kegiatan LK kita? Ingatkah ketika berbuka puasa dengan segelas teh hangat dan gorengan yang dibuat Ummi Riska dan Nining . Ingatkah ketika harus musyawarah hingga jam malam tiba? Ingatkah ketika harus lembur mempersiapkan acara seminar, pengajian, atau RDK. Ingatkah ketika harus menyebarkan undangan pengajian ke teman-teman dan adik-adik kelas, bahkan harus mendatangi kost mereka (ya maklumlah, HP masih barang langka nan mahal saat itu).

Ingatkah ketika ada teman yang pingsan di sana karena tenaga dan pikiran yang terporsir sedemikian rupa? Ingatkah ketika senior menegur kita yang dianggap lalai dalam dakwah? Ingatkah ketika harus mengorbankan waktu berharga bahkan waktu kuliah untuk kelancaran kegiatan kita (survey LK ke Ndeles). Ingatkan ketika menggalang dana untuk kegiatan dengan membuka bazar dan café Ramadhan? Ingatkah ketika beberapa teman menggarap skripsinya di sana? (karena repot membawa komputer bolak-balik ke kampus, maklumlah laptop saat itu masih sangat mahal). Ukhti Wiwit, ingatkah ketika kita harus merasakan sakitnya terjatuh dari motor sepulang survey LK, tapi itu tak membuat kita mengeluh dan merintih, keesokan harinya kita masih bisa dengan gagah melangkah melaksanakan tugas kita? Ingatkah akan tetes air mata karena diri merasa lemah atas semua beban dakwah yang terasa semakin berat? Ingatkah ketika sebaris Ayat Al-Qur’an begitu lekat dan ingatan dan menjadi salah satu kekuatan kita?

“…Intanshurullaha yanshurkum wayutsabit aqdaamakum”
(jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian, dan meneguhkan kedudukan kalian) Qs. Muhammad:7.

Ah, begitu banyak cerita yang tercipta, begitu banyak kenangan yang tak bisa terulang. Airmataku luruh… Aku merindu….

Sahabat-sahabatku… di manapun kalian kini berada, kutahu hati kita pernah tertaut pada sebuah nama yang sama. Yang bahkan ikatannya masih menjerat erah hati-hati ini. Aku berharap di belahan dunia manapun kalian berdiri, Semoga ukhuwah yang telah terjalin tak pernah terputus. Teruslah istiqomah melangkah dalam keridhoan-Nya, dan saling ingat mengingatkan dalam kebaikan. Semoga kelak kita dikumpulkan kembali bersama di taman Surga.“Anauhibbukum fillah : Aku mencintai kalian karena Allah”

This is about another love :
Entah aku lupa, apakah dulu aku pernah berdoa agar Allah menautkan hatiku pada seseorang yang juga mencintai-Nya dan mencintai rumah-Nya tersebut. Tapi yang jelas Allah mentakdirkan seseorang yang menjadi separuh jiwaku, pelengkap hidupku, menawar gundahku adalah ikhwan yang juga mencurahkan waktu dan pikirannya serta menghabiskan hari-harinya di Masjid itu.

Ikhwan yang bermodal tekad dan nekad menyeberangi lautan, menempuh ratusan mil menemui ayahku dan mengatakan ingin menikahiku walaupun, belum wisuda dan memiliki pekerjaan. Ikhwan yang sangat yakin akan janji Allah untuk membantu hamba-Nya yang ingin menikah untuk menjaga kesuciannya. Dan terbukti Janji-Nya tak pernah ingkar, Ia tiba-tiba mendapat tawaran pekerjaan, di kota yang hanya beberapa kilometer dari kotaku. Ia membuktikan cintanya tanpa banyak kata, hanya sebait janji suci dihadapan Allah, Ayah dan para saksi yang menghadiri pernikahan kami. Ia, Ikhwan yang mengatakan padaku bahwa aku adalah cinta pertama dan terakhirnya. Ikhwan yang berkata akan mencintaiku sepanjang usianya dan berharap Allah pun berkenan menjadikanku bidadari surganya.

And there’s a couple of words I want to say
for you My Beloved Husband.

For the rest of My life I’ll be with you. I’ll stay by your side honest and true, Till the end of my time, I’ll be loving you… loving you.

Aku bersyukur kau di sini, kasih
Di kalbuku, mengiringi
Dan padamu
Ingin kusampaikan
Kau cahaya hati
Dulu kupalingkan diri dari cinta
Hingga kau hadir ubah segalanya
Inilah janjiku kepadamu
Sepanjang hidup
Bersamamu
Kesetiaanku tulus untukmu
Hingga akhir waktu
Kaulah cintaku, cintaku
Sepanjang hidup
Seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan s’lamanya
Aku milikmu
Yakini hatiku
Kau anugerah sang Maha Rahim
Semoga Allah berkahi kita
Kekasih, penguat jiwa
Kuberdoa, kau dan aku di Jannah
Kutemukan kekuatanku di sisimu
Kau hadir sempurnakan s’luruh hidupku
Inilah janjiku kepadamu
Yakini hatiku
Bersamamu, kusadari inilah cinta
Tiada ragu,
Dengarkanlah kidung cintaku yang abadi
Maher Zain : For The Rest Of My Life

Birunya Laut dan Langit

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba 8 Minggu menulis Blog yang diselenggarakan oleh Anging Mamiri yang kini telah memasuki Minggu ke-empat.

Warna… kali ini kita bicara warna. Mungkin di mulai dengan warna favorite. Saya menyukai warna hijau dan biru. Menikah dengan suami yang menyukai warna hitam biru, karena tim sepakbola favoritenya adalah Intermilan. Jadi berkembanglah kesukaan saya terhadap warna biru.

Ketika kehamilan putra pertama, saya sangat menyukai warna biru. Maka saya membeli semua assesoris bayi berwarna biru, bak mandi, perlak, jaket, baju bayi, popok, sampai kasur gulung untuk alas melahirkan saya juga memilih warna biru. Tapi proses persalinan tidak berjalan dengan lancar. Kaena his yang lemah, maka kepala bayi lama terjepit lumayan lama di jalan lahir, dan sempat tertelan air ketuban. Begitu bayi keluar, tidak ada suara tangis sedikitpun, dengan wajah yang ssudah mulai membiru. Kami semua khawatir, syukurlah para bidan bertindak sigap. Berusaha menyedot cairan yang tertelan dengan bantuan alat dan dengan manual mengoyak-oyak punggungnya. Alhamdulillah tak sampai 10 menit tangisnya pecah, hatiku plog dan lega seketika. Adik sepupuku berkomentar “kakak sih suka banget dengan warna biru, jadi bayinya lahir wajahnya juga biru.” Sekarang saya bisa tertawa mendengar candaan itu, karena Alhamdulillah si bayi kini sudah tumbuh besar dan berusia 5 tahun.

Satu lagi yang membuat saya menyukai warna biru karena warna langit dan warna laut sama-sama biru.

“Aku tak ingin kita seperti matahari dan rembulan saling berkejaran ingin bertemu. Kuingin kita laksana langit dan laut yang saling menatap dan memberi warna, dan bertemu pada sebuah garis horizon.”

Laut dan Langit berbagi warna Biru

Laut dan Langit berbagi warna Biru


Gambar berasal dari SINI
Entah mengapa senang banget berada di tepi pantai memandang hamparan laut yang bertemu dengan hamparan langit biru di sebuah garis horizon. Rasanya tenang, nyaman dan lapang. Jika kangen dengan pemandangan itu, aku akhirnya cuma memandang lagit biru dengan hiasan awan putih. Bahkan seringkali mengabadikan pemandangna langit biru dengan kamera HP. Suka banget dengan birunya.

Tapi untuk pakaian aku lebih senang warna hijau dari pada biru, karena mungkin hijau terlihat lebih soft dari pada biru. Warna biru dan hijau tetaplah mendomiasi barang-barang pribadi bahkan kini pakaian dan assesoris anak-anakku. Dinding kamar kami memilih hijau, lebih nyaman dipandang.

Tapi putriku Husna (2,8 tahun), jika disuruh memilih pakaian atau assesorisnya sendiri, ia lebih memilih warna pink. Biar saja, aku tak pernah memintanya mengganti pilihannya dengan warna kesukaanku. Hidup akan lebih bermakna dengan banyak warna kan?

Sebenarnya bagiku kata WARNA tak hanya sekedar untuk membedakan hitam, putih, biru, hijau, kuning, ungu, dll. Bagiku kata WARNA juga berarti perbedaan. dan aku tak pernah anti dengan perbedaan, karena bagiku perbedaan justru memperkaya wawasan.

Aku masih ingat ketika aku belum kuliah, kukira suku hanya Banjar, Bugis, Paser dan JAwa, suku-suku yang ada di daerahku. Namun ketika kuliah di Yogyakarta yang terkenal dengan Kota Pelajar, yang tentunya banyak mahasiswa dari seluruh nusantara bertemu di sana.aku baru tahu ada orang Medan yang memiliki ciri khas dalam logat dan suara yang biasanya keras. Ada orang Palembang yang berkulit putih dan agak sipit dan bahasanya juga terdengar baru di telingaku. Ada orang Kupang dengan ciri khaanya juga. Ada pula orang Manado yang baruku tahu berkulit sangat putih. Aku senang bergaul dengan teman-teman yang berasal dari berbagai daerah tersebut banyak warna yang bisa kita bagi, dan membuat kami menyadari berapa kaya dan beragamnya Indonesia.

Tapi aku punya prinsif dalam lingukungan dan pergaulan : Aku tak ingin terwarnai, jika bisa malah mewarnai. Ya artinya jika sudah memilih “warna” yang benar jangan sampai terwarnai dengan warna-warna tak baik dari lingkungan yang kurang baik. Ya, namanya mahasiswa perantau jauh dari orangtua. Sulit untuk menjaga diri dari lingkungan dan pergaulan yang tidak baik seperti narkoba dan pergaulan bebas. Maka aku berusaha mencari warna baik, karena tak ingin terperosok ke dalam dunia kelam yang hanya membawa kesengsaraan dan penyesalan.

Alhamdulillah, selama 5 tahunku di Yogyakarta, aku mendapat warna-warna yang indah, laksana pelangi yang membuat hidupku jauh lebih bermakna. Terimakasih teman-teman yang sudah berbagi ilmu dan saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan. I Love You All, because Allah…

Kota Kecil yang Bersolek

Tulisan ini diikutkan lomba 8 Minggu ngeblog yang diadakan oleh komunitas Anging Mamiri minggu kedua dengan tema “Rasa Lokal”.

Seperti saya tulis di edisi sebelumnya, saya tinggal di pelosok pulau Kalimantan. Tepatnya di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Kali ini saya akan menulis tentang kotaku tercinta. Tanah Grogot yang kini berubah nama menjadi Tana Paser adalah ibukota kabupaten Paser, kota kecil yang mulai bersolek dengan pembangunan berbagai infrastrukturnya, seperti taman kota, dan jembatan megah. Kabupaten Paser terdiri dari 10 kecamatan, yang merupakan daerah perbatasan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Selatan.

Suku asli di Kabupaten Paser adalah suku (dayak) Paser, namun populasi suku pendatang menurutku lebih mendominasi daripada suku asli. Kalau aku melihat secara global suku Bugis adalah suku pendatang terbanyak, disusul suku Banjar dan suku Jawa. Bahkan kakek nenekku berdarah Bugis namun sudah turun temurun lahir dan besar di daerah ini. Suku Bugis Wajo ternyata menurut sejarah telah lama datang ke daerah ini yaitu sekitar abad 17-18 M. Umumnya bermukim di sekitar pinggir sungai Kandilo yang merupakan urat nadi daerah ini. Atau tinggal dipesisir laut dan berprofesi sebagai nelayan. Sedangkan suku Banjar datang ke daerah ini untuk berniaga, karena memang secara geografis kabupaten paser berbatasan dengan Kalimantan selatan atau daerah asal suku Banjar. Sedangkan suku Jawa biasanya adalah trasmigran, yang membuka lahan pertanian atau kebun sawit di daerah ini. Satu yang unik menurut pengamatanku dalam dunia perdagangan di daerah ini, yaitu pedagang ikan atau hasil laut didominasi oleh suku Bugis, pedagang pakaian dan elektronik didominasi oleh suku Banjar, sedangkan pedagang sayur-mayur atau hasil pertanian didominasi oleh suku Jawa.

Ada beberapa jenis buah-buahan yang ada di daerah ini tapi tidak umum di tempat lain, seperti buah paken, rambai, langsat, cempedak. Buah paken penampakan luarnya menyerupai durian, besar dan berduri namun yang membedakan dari adalah isinya, tidak beraroma tajam seperti durian dan teksturnya juga lebih keras dibanding durian. Saya pribadi lebih suka buah paken dari pada buah durian yang beraroma tajam. Buah rambai mirip seperti buah langsat tapi tekturnya lebih berair dari buah langsat. Kalau buah cempedak mungkin keluarga jauhnya buah nangka,karena kulitnya hampir serupa tapi isinya kecil-kecil dan banyak, biasanya buah ini bisa dimakan langsung atau dijadikan cemilan, dicampur dengan adonan tepung kemudian digoreng, dimakan hangat-hangat dengan teh manis, sungguh nikmat… hehehe.

Sebenarnya saya juga tidak tahu makanan khas daerah ini, mungkin karena banyaknya suku pendatang dengan membawa budaya termasuk makanan khasnya masing-masing sehingga ciri khas daerah ini kurang terlihat, terlebih dalam hal makanan. Disini ada coto Makassar, ada soto lamongan, pecel madiun, ada soto banjar, ketupat kandangan, bahkan kerak telor khas betawi pun ada di sini. Tapi jika orang dari luar kabupaten berkunjung ke sini, pasti mencari madu asli dan ikan asin atau ikan kering. Madu memang kerap dicari untuk oleh-oleh. Terutama madu asli dari hutan Kalimantan, mungkin karena daerah ini masih terdapat banyak daerah hutan-hutan yang lebat. Harga madu perbotol pun bervariasi tergantung tingkat keasliannya, tapi untuk mendapat madu asli pun harus selektif karena bisa saja ada oknum yang menjual madu “palsu” dengan harga mahal. Sedangkan ikan asin sendiri banyak di produksi di daerah pesisir dan dipasarkan ke ibukota kabupaten. Ikan asin di sini mungkin special karena biasanya diolah dari ikan berdaging tebal dan besar. Saya sering kali membawa oleh-oleh atau mengirimi mertua di Yogya ikan asin ini, mereka sangat suka, karena di sana ikan asin susah di dapat dan harganya pun mahal.

Di pusat kota terdapat taman yang biasanya dipadati warga yang ingin bersantai di sore hari terlebih di akhir pekan. Taman kota ini dibuat memanjang sepanjang sekitar 300 meter di tepi sungai kandilo.

Taman di tepi Sungai Kandilo

Taman di tepi Sungai Kandilo

Nampang di tepi sungai Kandilo

Nampang di tepi sungai Kandilo


Kelihatankan background sungai dan pemandangan asri di seberang sungai?

Kami sekeluarga pun sering menikmati suasana taman di sore hari, perahu-perahu kecil yang sesekali melintas menambah keindahan sungai Kandilo ini.

Tak jauh dari tepi sungai Kandilo terdapat juga Taman Putri Saleha, anak saya biasa menyebutnya dengan “Bunga Besar” karena di tengah taman memang terdapat replika bunga yang cukup besar.

Nampang di Taman Putri Saleha

Nampang di Taman Putri Saleha

DSC00579

Jembatan megah kini telah dibangun melintasi sungai ini, dari pusat kota menuju desa seberang yaitu desa Sungai Periuk. Nggak sempat moto sendiri jadi pinjam foto dari website sebelah.

Jembatan yang melintasi sungai Kandilo

Jembatan yang melintasi sungai Kandilo

Di kotaku juga terdapat Masjid megah kebanggaan kami, yang diberi nama Masjid Agung Nurul Falah.

Masjid Nurul Falah ketika malam hari

Masjid Nurul Falah ketika malam hari

Satu lagi tempat yang asyik di kotaku, yaitu Pondong yang terletak sekitar 15 Km dari Tanah Grogot. Dilokasi ini kita dapat menyaksikan keindahan panorama laut dan perkampungan nelayan. Kawasan ini akan dikembangkan menjadi kawasan wisata kuliner. Beberapa fasilitas yang sementara dibangun dilokasi ini antara lain Restoran Terapung, penginapan terapung yang dilengkapi dengan tempat pertemuan. Para pengunjung yang ingin menikmati keindahan panorama laut dapat menyewa perahu yang disediakan masyarakat setempat. jika berkunjung kesini tak lengkap rasanya jika tidak membeli krupuk ikan hasil olahan lokal atau membeli hasil tangkapan laut, biasanya masih segar dan harganya juga lebih murah.
Pondong

Nampang di Pondong

Nampang di Pondong

Oke, kawan ini cerita kotaku, mana ceritamu? 🙂
Terimakasih sudah berkunjung ke kota, walau hanya melalui kisah sederhana ini, hehehe…

Rumahku Di Desa yang Kucinta

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama dengan tema “Disekitar Rumahku”. Sebenarnya ingin mengasah kemampuan menulis dan meramaikan kembali blogku yang telah lama mati suri. Kesibukan, tak ada waktu, dan tak ada ide pun menjadi alasan mati suri itu. harapanku dengan adanya 8 Minggu Ngeblog ini “sekali dayung 2-3 pulau terlampaui”, ya mengasah kemampuan menulis, meramaikan blog dan syukur-syukur dapat hadiah, hehehehe.

Aku tinggal di pelosok Kalimantan timur tepatnya di kabupaten Paser, Kecamatan Tanah Grogot, Desa Jone. Bisakah teman-teman bayangkan bagaimana lingkungan disekitar rumahku? Jika mendengar kata desa tentu identik dengan rumah kayu dan pepohonan yang masih rimbun. Ya begitulah kira-kira, disekitar rumahku terdapat banyak pepohonan, dari pohon bambu, sungkai, rambutan, nangka, belimbing, pisang, kopi, kecapi, kelapa dan jeruk. Dari sekian banyak pohon tadi, pohon rambutanlah yang menjadi favorite terlebih pada musim rambutan karena buahnya yang manis dan lebat. Seringkali Ibu membagi-bagikan buahnya pada sanak family dan teman kerjanya.

Selain pepohonan yang rindang tersebut, tentu ada pula tetangga. Namun yang unik tetangga rumahku semua adalah keluarga. Sebut saja rumah kakek nenekku, rumahku dan 3 rumah paman-pamanku berderet disepanjang jalan sekitar 140 meter. Maklum kami membuat rumah di tanah keluarga, warisan dari kakek nenekku. Ada suka dukanya sih punya rumah di tanah keluarga. Sukanya ya, kalau mau ketemu nenek, paman, tante atau sepupu-sepupu tidak jauh. Kalau ada apa-apa juga dekat menghubungi keluarga. Tumbuh besar di antara kehangat sebuah keluarga besar. Tapi ada juga sedikit ”duka”nya, aku nggak bisa cerita ke teman-teman liburan sekolah “berlibur ke rumah nenek” ya karena itu tadi, rumah nenek cuma di sebelah rumah. Sedangkan nenek dan kakek orangtua dari ibu sudah lama meninggal.

Di depan rumah kami, ada jalan yang lumayan besar, satu-satunya jalan menuju pelabuhan kecil di ujung desa. Dulu sekali jalanan itu sangat sepi, kiri kanan jalan sebagian besar adalah hutan dan hanya sesekali jalan itu dilewati mobil atau motor. Namun saat ini, sangat berbeda jauh. Aku bahkan masih sering terkaget-kaget jika mendapati jalanan tersebut macet dengan banyaknya mobil, motor dan truk-truk besar yang melaluinya. Seiring dengan berkembangnya pembangunan di daerahku, dan dibangunnya beberapa perumahan disekitar daerah desaku, turut memberi perubahan pada wajah lingkungan rumahku. Lampu-lampu jalan pun mulai di pasang dan mampu memberi penerangan yang lumayan membantu ketika malam tiba.

Teman pernah dengar lagu God Bles berjudul “Rumah Kita”? yang lirik lagunya berikut ini :
Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita, sendiri
Hanya alang alang pagar rumah kita
Tanya anyelir, tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita
Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya
Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita
Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Semuanya ada disini
Rumah kita
Rumah kita

Bagiku begitulah rumahku, di desa jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota besar. Beratap sirap, berdinding dan berlantai kayu. Namun, aku tak pernah menyesal dilahirkan dan tumbuh besar di rumah ini. Ayah, ibu dan 3 orang adikku saling berbagi kasih sayang di sini. Rumah yang memberi banyak kehangatan dan arti kebersamaan dalam sebuah keluarga.

Pepohonan di samping rumahku

Pepohonan di samping rumahku

Rindu Tak Sekedar Rasa

Rindu Tak Sekedar Rasa

 

Dalam kepekatan berbalut kelamnya malam

Disepertiga waktu yang menyusup syahdu

Menata rasa yang terasa menyesak di dada

Menghentak, mengharap bertemu tanpa retak

Tertatih merintih mengarap kasih

Ya Nabi salam alaikaa

Ya Rosul salam alaikaa

Ya Habiib salam alaikaa

Sholawatulloh alaikaa

Melantun pelan seiring sedu sedan

Rindu membuncah memecah kalbu

Yang telah lama tersimpan rapi dalam peti hati

Tak pernah sepi apalagi mati

Pada sosok yang mulia dan agung, Sang Rasul sejati

Malam menjelang, rindu membayang

Pagi datang rindu tak jua hilang

Siang terik rindu makin menjulang

Gerusan  usia tak membuatnya lekang

Rindu tak sekedar rasa

Rindu tak sekedar kata

Rindu berbalut sejuta makna

Rindu menjadikan diri ingin dicinta

Rindu ingin berada dalam barisan ummatnya

Menambat rindu pada sunnahnya

Mengikuti torehan jejak langkahnya

Berpegang teguh pada tali ajarannya

Rindu menjadi cambuk agar tetap pada tuntunannya

Percuma mengaku cinta jika hanya kamuflase jiwa

Percuma mengaku rindu jika tak sesuai berperilaku

Ingin kubuktikan rindu dan cinta

Pada selaksa suka duka dunia

Berharap di ujung perjalanan nanti

Bertemu dengan kekasih hati

Syafa’atnya pun menjadi rahmat

Dambaan seluruh ummat di akhirat kelak

Tunggu aku wahai Rasulku Muhammad…

Walau tertatih mengukir jejak,

Namun kerinduan akan syafa’at-Mu adalah mutlak.

Bumi Allah, 09 Februari 2012

LOMBA KISAH TRUE LOVE STORY DL 17 AGUSTUS 2012

Kisah cinta yang berakhir bahagia selalu indah untuk dijalani. Jalan berliku-liku, tantangan bergunung-gunung, hati yang bergolak-golek, semua itu menjadi kancah pengujian cinta sejati. Dan itu semua akan semakin indah apabila dikenang dan diceritakan kembali, serta akan menyumbangkan inspirasi bagi sesama. Karena itu, kami mengundang Anda untuk mengikuti even True Love Stories ini.

Syarat Peserta

  • Lomba terbuka bagi siapa saja penduduk dunia asalkan dapat menulis dalam bahasa Indonesia.
  • Peserta yang berdomisili di luar negeri, harus menyertakan alamat dan nomor rekening bank di Indonesia (kami tidak akan mengirimkan bukti terbit dan transfer ke luar negeri).
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mengikutkan maksimal SATU naskah terbaiknya.
  • Tuliskan profil singkat penulis dalam format narasi di akhir cerita, dalam 8 kalimat. Dan apabila masuk dalam nominasi, wajib mengirimkan foto BW untuk melengkapi profil penulis.

 Syarat naskah/Cerita

  • Tema Cerita adalah kisah cinta pria dan wanita (pasangan) yang didasarkan pada kisah nyata.
  • Kisah nyata ini disajikan dalam format ala Chicken Soup for The Soul.
  • Kisah nyata ini berbasis pada pengalaman Anda sendiri, dengan rentang fase naksir sampai happy ending terkini (jadian/nikah). Anda bisa juga menuliskan kisah nyata orang lain dengan syarat seizin pasangan tersebut.
  • Panjang cerita 8-12 halaman A4, 1,5 spasi, Arial 11 pt
  • Gunakanlah nama asli pelaku untuk keikutsertaan dalam lomba ini.
  • Isi cerita tidak mengandung SARA dan unsur pornografi
  • Cerita belum pernah dipublikasikan di media cetak atau atau dibukukan.
  • Setiap naskah harus dilengkap dengan Formulir yang bisa di-copy di sini.
  • Naskah dikirim dalam bentuk hard copy (print out) ke:

Redaksi Gradien Mediatama
Jl. Gedongkuning Selatan No. 117-118
Kotagede, Yogyakarta 55171

  • Peserta yang berdomisili di luar negeri, boleh mengirimkan naskahnya dalam bentuk soft file, dilampirkan di email dan dikirimkan ke gradienmediatama(at)gmail.com
  • Naskah paling lambat diterima pada tanggal 17 Agustus 2012. Daftar Panjang nominasi pemenang akan diumumkan pada tanggal 17 September 2012, Daftar Pendek nominasi pemenang akan diumumkan pada tanggal 17 Oktober 2012, dan pengumuman pemenang pada 17 November 2012.
  • Naskah terpilih menjadi hak panitia untuk diterbitkan, dan naskah yang tidak terpilih tidak akan dikirimkan kembali.
  • Keputusan Tim Juri adalah mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat terkait dengan lomba ini.

 Penyeleksian & Apresiasi
Tim Redaksi Gradien Mediatama Gradien akan menyeleksi 20 naskah terpilih untuk diterbitkan dalam buku Bunga Rampai True Love Stories. Dari 20 naskah yang lolos, akan dipilih 3 (tiga) Cerita Utama, 5 (lima) Cerita Unggulan, dan 12 (dua belas) Cerita Nominasi.
Hadiah untuk 3 Cerita Utama @ Rp 700.000 + Suvenir + Paket Buku + bukti terbit
Hadiah untuk 5 Cerita Unggulan @ Rp. 400.000 + Suvenir +Paket Buku + bukti terbit
Hadiah untuk 12 Cerita Nominasi @ Rp. 200.000 + Suvenir +Paket Buku + bukti terbit
Ketentuan Lain-lain

  • Semua pemenang wajib melengkapi dokumen yang dimintakan pada saat pengumuman Daftar Pendek nominasi. Apabila tidak melengkapi dokumen ini dalam 7 hari setelah pengumuman, maka peserta dianggap gugur.
  • Apabila naskah-naskah yang masuk tidak memenuhi kualifikasi kualitas sebanyak 18 Naskah Nominasi, maka penerbit Gradien Meditama berhak melakukan re-launching lomba yang sama ini untuk mendapatkan naskah baru guna memenuhi 18 Naskah Nominasi.
  • Keputusan Tim Juri adalah mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat terkait dengan lomba ini.

http://bloggradien.wordpress.com/2012/06/07/lomba-true-love-stories/

yahya Abdillah With his Parent

\"Yahya Abdillah\"

One Year

Hari ini, Selasa 1 Juni 2008 tepat 1 tahun (masehi) usia perkawinan kita…, Rasa bahagia dan haru memenuhi dada ketika kupakai baju yang dulu kugunakan ketika akad nikah kita, seakan kejadian itu terulang lagi.

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Perkasa, yang telah menyatukan kita dalam ikatan pernikahan yang suci ini.

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, yang telah memberikanku suami seperti dirimu…

Bahagia dan syukur pada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah melimpahi kita dengan rahmat-Nya sehingga kasih sayang itu sellau menjerat hati kita, dalam mengarungi samudra kehidupan dalam sebuah bahtera yang mengharap sakinah, mawaddah, wa rohmah…

Bahagia dan sytukur pada Allah, Tuhan Seru sekalian alam yang telah memberikan kita kepercayaan untuk memiliki seorang “Yahya Abdillah” bayi kecil kita.

Senam Ibu Hamil

Nggak terasa sekarang kehamilan saya memasuki usia 7 bulan. Banyak perubahan fisik yang saya rasakan, yang kadang dibeberapa waktu terasa kurang nyaman. Kepikiran deh buat olahraga biar tubuh lebih fresh, tapi kalo lagi hamilkan olahraganya ga boleh sembarangan. ya, akhirnya di internet cari gerakan senam buat ibu hamil aza, apalagi nggak lama lagi mau melahirkan, katanya sih senam ibu hamil juga bagus buat persiapan persalinan, biar nanti ketika melahirkan lebih lancar…

Nah, buat ibu-ibu yang juga sedang hamil dan ingin mencari gerakan senam ibu hamil, bisa klik link berikut ini :

http://www.tabloidnurani.com/RUBRIK/336/marah.html

atau :

http://www.hypo-birthing.web.id/?p=263

Selamat mencoba…

Melahirkan itu perjuangan seorang wanita, jadi kita perlu persiapan yang matang iya, ga.. namanya juga usaha, nah sembari usaha maksimal kita juga harus perbanyak doa, kekuatan doa itu super dasyat lho…! ga percaya? coba aza.. 🙂

Menikah dengan Akhwat Satu Kampus

Suatu hari di teras sebuah Masjid, usai melakukan musyawarah LDK, berkumpullah beberapa ikhwan yang berasal dari berbagai kampus, sekedar bersantai dan berbincang-bincang tentang berbagai hal. Sebut saja mereka Yusuf, Ahmad, Muis dan Rahman. Ketika sedang asyik-asyiknya berbincang sambil menikmati angin yang berkembus sepoi, tiba-tiba datanglah Harun, rekan mereka.

“Assalamu’alaikum…” Sapa Harun

“Wa’alaikumsalam warahmatullah..” Yang lain menjawab serempak…

” Ana bawa berita baru nih..” Tanpa basa-basi Harun langsung menyampaikan kabar.

” Berita apa, akh’ Harun..?” tanya yusuf penasaran, tatapan ikhwan yang lain semua tertuju pada Harun, sang pembawa berita, dengan tatapan penasaran.

” Sudah, dengar belum “fatwa” terbaru dari pengurus LDK Pusat?” Kata Harun.

” Ana, belum dengar, memangnya apa isinya?” Tanya Rahman penasaran, sebagai wakil dari kampusnya dia merasa harus tau berita-berita baru untuk disebarkan ke teman-teman lain.

Ikhwan yang lain juga menggeleng, masih dengan rasa penasaran…

” Semua Ikhwan, dilarang untuk menikahi akhwat satu kampus…” Jawab Harun, dengan sedikit senyum…

Kontan saja, hal itu mengundang berbagai reaksi dari ikhwan lain.

” Lho, memangnya kenapa tidak boleh, kita kan berhak menikahi akhwat manapun yang kita mau!” Seru Muis sedikit kaget.

” Iya, lagian kalo satu kampus, apalagi sering kerja bareng, sedikit banyaknya udah tau pribadi akhwat tersebut, kalau memang layak dijadikan calon istri kenapa nggak?” Kata Akhmad tak mau kalah.

” Iya, sih ada betulnya, tapi mungkin maksud larangan tersebut untuk tujuan pelebaran ladang dakwah..” Yusuf sedikit menenangkan ikhwan-ikwan lain.

” Ah, tapi kan terdengar sedikit aneh, lagi pula ana sudah ta’aruf dengan akhwat satu kampus, dan Insya Allah sebentar lagi akan melamar ke orang tuanya.” Seru Rahman gusar.
“Tenang-tenang…!” Sahut Harun mencoba menenangkan ikhwan lain, yang mulai gundah dengan berita yang dibawanya.

“Biar ana jelaskan dulu maksudnya, bukankah dalam syariat Islam walaupun diperbolehkan untuk berpoligami, maksimal 4 orang istri, nah kalau akhwat satu kampus ada berapa ribu tuh.., tentu saja kita dilarang untuk menikah dengan akhwat satu kampus, tapi kalau cuma satu atau empat orang sih, nggak masalah asal sanggup…” Jelas Harun panjang lebar, sambil tersenyum.

” Huuuuuuuuuuu…” serentak ikhwan-ikhwan lain berseru kesal sambil menarik nafas lega…

Ada-ada saja pikir mereka..